Aku Ternyata Sangat Mencintainya

Aku Ternyata Sangat Mencintainya
TAKUT TAK BERALASAN


__ADS_3

"Tuan sepertinya nona Aneta bertemu dengan nona muda Aluna dihotel. " Bahkan Arka menghentikan meeting pentingnya dengan para pemimpin cabang perusahaan miliknya, ketika membaca pesan yang dikirim oleh sekertaris Frans padanya.


Arka langsung menghubungi Frans namun Frans bahkan tidak mengangkat sambungan telpon dari Arka. Karena tidak ingin Aluna tahu bahwa dirinya telah melaporkan hal itu pada Arka padahal tadi Aluna sudah meminta sekertaris Frans untuk tidak mengatakan pertemuan singkatnya dengan Aneta.


"Frans kenapa kau tidak mengangkat telponku. Kau mau ku hajar? " Kata - katanya sudah mengancam. Bahkan Frans tersenyum dibalik kemudi mobil mengingat raut wajah Arka yang kesal sambil mengumpat dirinya. Jika Arka berteriak di ujung telpon pasti Frans sudah menjauhkan ponsel dari telingannya. Syukurlah hanya pesan mengancam dari pria yang hanya mondar -mandir diluar ruang tempatnya tadi meeting.


Arka lantas menghubungi Aluna, tersambung namun tiba - tiba mati begitu saja karena ponsel Aluna sudah kehabisan daya tanpa diketahui wanita cantik yang memikirkan kejadian tadi di lobby hotel.


Arka bahkan sangat frustasi ketika menghubungi untuk kedua kali namun terdengar hanya suara operator dari nomor yang dihubunginya.


Aluna yang duduk dikursi penumpang sekilas mendengar Frans terkekeh kecil walaupun hanya samar terdengar ditelinga wanita yang menerawang jauh ke beberapa menit yang lalu saat dirinya bertemu dengan wanita yang pernah mengisi hati suaminya dan sekaligus menghancurkannya.


"Sekertaris Frans ada apa? " Sudah penasaran karena baru kali ini Aluna mendengar Frans tertawa walaupun tawanya hanya samar terdengar.


"Tidak apa - apa nona. " Menyimpan kembali ponselnya setelah mengetikkan sesuatu dan mengirimnya.


"Maaf tuan. " Satu pesan yang tabu menurut Arka. Karena bukan kata maaf yang ingin Arka dengar tapi penjelasan. Penjelasan mengapa Frans mengabaikan panggilan darinya, setelah sebelumnya Frans memberi kabar yang membuat jantung Arka naik turun tak beraturan. Arka takut menimbang apa yang Aneta katakan atau bicarakan pada Aluna. Arka cukup tahu dan cukup kenal dengan Aneta karena dia pernah sangat dekat dengan wanita itu. Dia akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Dulu bahkan pernah meninggalkan Arka dan memilih berselingkuh dengan Alex yang dipikirnya telah memiliki seluruh aset kekayaan Arka. Satu kalimat buat Aneta, dia tidak ingin hidupnya susah.


Arka frustasi membayangkan Aluna yang akan kembali mendiaminya atau yang lebih parahnya lagi pergi meninggalkannya. Lantas yang Arka lakukan saat ini adalah cepat pulang ke rumah sebelum ia mendapati lemari baju istrinya sudah kosong seperti kejadian waktu itu. Ia akan pulang sebelum wanita itu pergi dari rumah meningalkannya. Kalaupun Aluna berusaha pergi disaat ada dirinya, mengurung Aluna bahkan akan Ia lakukan untuk mencegah wanita itu pergi meninggalkanya.


Arka mendesah kesal, mobil yang membawanya ke perusahaan hanya mobil yang saat ini digunakan Frans untuk menjemput istrinya. Arka terpaksa harus meminjam mobil karyawannya untuk bisa sampai segera ke rumahnya.

__ADS_1


***


Arka bersyukur ketika dirinyalah yang lebih dulu sampai dirumah karena mobil yang dibawa Frans saat ini tidak terlihat dijejeran mobil yang ada digarasi rumahnya. Arka kembali panik sendiri bisa saja Frans sudah sampai lebih dulu dan sekarang sedang menuju ke perusahaan menemui dirinya.


"Apa nona Aluna sudah pulang? " Akhirnya memilih bertanya kepada penjaga didepan rumahnya.


"Belum tuan. " Arka sedikit lega dan memilih duduk diruang tamu menunggu istrinya tersebut. Arka duduk tidak sabaran, sesekali tangannya mengetuk ngentuk meja kaca didepannya. Hingga suara deru mesin mobil yang ditunggunya kini terdengar memasuki halaman rumahnya.


Arka yang sudah bergulat dengan pikirannya, apa yang harus dia jelaskan, apa yang harus dia katakan, bagaimana dia harus memohon. Padahal dipikir - pikir dia tidak melakukan kesalahan apapun pada istrinya. Namun Arka benar - benar takut, takut yang tidak beralasan.


Arka langsung menuju kearah pintu rumahnya. Sorot mata membunuhnya langsung dia arahkan kepada Frans yang baru saja turun, hendak membuka pintu Aluna. Namun Aluna sudah membuka pintu mobil terlebih dulu ketika dirinya melihat Arka sudah ada dirumah.


Aluna mendekati Arka dengan tatapan menyelidik, membuat jantung Arka memompa lebih cepat dari yang seharusnya.


Terima kasih Tuhan.


Arka bersyukur lega ketika wanita itu tersenyum seperti biasa dan langsung merangkul lengannya. Bahkan kata - kata yang dia persiapkan sedari tadi menjelaskan, membujuk, memohon juga turut melayang terbawa angin karena sekarang dia tidak membutuhkannya.


"Frans istirahatlah sebentar setelah itu temui aku dua jam lagi. " Ucapnya sebelum dia masuk membawa istrinya. Seperti biasa Frans hanya mengiyakan, walaupun dia tahu Arka akan menendangnya karena sudah mengacuhkan panggilan telponnya dan membuat laki - laki itu bahkan harus malu meminjam mobil karyawan demi sepecepatnya sampai dirumah.


***

__ADS_1


"Sayang kenapa udah pulang? Bukannya hari ini ada meeting yah? " Tanya Aluna kembali ketika keduanya sudah sampai dikamar.


"Aku hanya rindu padamu. Makanya aku pulang secepat kilat. " Aluna hanya tersenyum mendengar jawaban nyeleneh dari suaminya.


"Luna..." Aluna yang sementara membantu membuka dasi ikut mendongak ketika namanya dipanggil.


"Ya sayang. " Jawabnya


"Aku sayang padamu. Untuk itu tetaplah disisiku. Jangan pernah pergi - pergi lagi apapun yang terjadi. " Arka mengatakannya dengan tulus, membuat Aluna terdiam sebentar.


"Aku juga sayang sama kamu. Aku nggak bakalan pergi kecuali terpaksa. " Arka menaikan kedua alisnya, mencerna ucapan istrinya.


"Kecuali terpaksa? Apa maksud dari pernyataan itu. Aku nggak suka dengarnya Luna. " Kalau Arka manggil nama kayak githu dia lagi serius.


"Yah terpaksa. Kali aja kamu ngusir aku karena bosan gitu. Setiap hari harus liat aku." Aluna yang selesai membuka dasi terpaksa tidak menatap suaminya. Entah mengapa dia mengucapkan kalimat itu. Aluna merutukinya karena setiap ucapan adalah doa, begitu yang ia dengar dari ibunya.


" Kenapa kamu ngomong kayak gitu? Aku nggak akan bosan sama kamu. kamu duniaku Luna, poros dari kehidupanku. Aku bakalan hampa tanpa kamu." Menarik Aluna kedalam pelukannya.


"Ku mohon jangan berkata seperti itu lagi. " Tambahnya sembari mencium pucuk kepala istrinya. Aluna mengangkat tangannya membalas pelukan suaminya. Rasanya dia lega karena laki - laki yang memeluknya saat ini benar - benar mencintainya.


Percayalah tidak ada hal yang lebih indah ketika kita mencintai seseorang dan dicintai oleh orang itu.

__ADS_1


***


Aneta membanting seluruh barang yang ada dikamarnya setelah pulang dari menemui Aluna. Gadis itu sepertinya benar - benar kekeh ingin merebut kembali Arka dari istrinya. Karena sejauh ini Aneta yakin bahwa Arka masih seperti Arka beberapa tahun lalu masih mencintainya dan selalu akan mencintainya.


__ADS_2