
"Mom. " Arka yang baru bangun, tidak menemukan istrinya dikamar. Arka turun ke lantai dasar, mencari dimana istri tercintanya.
"Mom. " Panggilnya lagi. Benar saja, istrinya sedang sibuk membuat sarapan didapur. Padahal Arka sudah melarang istrinya bekerja apapun itu. Tapi dasar istrinya tetap aja keras kepala, seperti sekarang ini.
"Mom. "
"Bunda Daddy." Protesnya.
"Sama aja Bun. " Arka mengambil pisau yang saat ini digunakan Aluna mengiris buah - buah sebelum memasukkannya dalam blender.
"Bedalah Dad. Aku nggak mau yah dipanggil mommy. " Padahal sama saja, hanya
pengucapannya yang berbeda.
" Kalau gitu, panggil aku ayah aja bun. Biar enak. " Kali ini Arka yang memotong buah menjadi potongan kecil.
"Nggak, bunda ingin memanggil Daddy. Kan bunda udah punya ayah Ardian. Nanti kalau ayah Ardian main kesini, terus bunda dari dalam kamar manggil ayah, ayah yang datang ayah Ardian gimana coba. " Arka sejenak berpikir, benar juga alasan istrinya.
"Yah udah terserah bunda. Bunda kan selalu benar, nggak mau salah. " Cibirnya sambil memasukkan potongan buah ke dalam blender dan potongan lainnya kedalam mulutnya.
"Nggak iklas yah daddy, bunda salahin. " Mimik wajahnya bahkan berubah sedih. Arka jadi tidak enak hati, ngomong kayak tadi.
"Iklas kho daddy bun. "
"Nggak daddy nggak iklas. Jadi selama ini, daddy nggak suka yah sama sikap bunda? Tapi kenapa sih daddy iya - iya aja. " Sudah mulai menangis, seperti anak kecil.
"Ya Tuhan bun, Nggak gitu. Ini juga kenapa pake nangis. " Menghapus air mata istrinya. Mungkin karena pengaruh hormon kehamilan, Aluna memang sangat sensitif.
"Daddy cuma bercanda bun. " Tambahnya.
"Daddy nggak kelihatan bercanda ngomongnya." Air matanya bahkan tidak berhenti. Mulai sekarang Arka bersumpah akan lebih hati - hati untuk bicara dengan istrinya.
"Ya udah daddy minta maaf yah. Janji deh daddy, bunda mau minta apa daddy bakalan kabulin. " Mungkin Arka akan menyesali janji yang dia buat. Lihat saja, mimik sedih tadi hilang begitu saja, tergantikan dengan senyum.
" Baiklah bunda maafin daddy kali ini. Tapi dengan satu syarat dan ingat lho dad, daddy udah janji. " Arka mulai tidak enak, secara yang diminta istrinya itu kadang sesuatu yang menjekelkan.
"Kok daddy kayak nggak iklas gitu? " Melihat raut wajah Arka yang berubah.
"Daddy iklas bun. Katakan bunda minta apa? Mobil baru, ponsel baru..." Ucap Arka dengan bersemangat. Namun Aluna menggeleng.
__ADS_1
"Aku masakin. " Ucapnya ragu - ragu. Namun istrinya semakin menggeleng.
"Aku mau pulang ketemu mama. Aku rindu mama. " Tubuh Arka menegang, seharusnya dia tidak berjanji tadi.
"Nggak bisa Lun, kamu kan lagi hamil. " Sudah pasti menolak keinginan istrinya.
"Kamu udah janji lho Dad. " Aluna mengingatkan.
" Kamu bisa minta apa aja, jangan yang itu. Ingat perjalanan ketemu mama itu jauh Lun, kamu bisa kecapean dan itu nggak baik buat anak aku. " Nada Arka mulai tegas.
"Dia anak aku juga. " Aluna tak kalah tegas.
"Iya anak kita. Makanya aku nggak mau yah Lun anak kita kenapa - napa. "
"Tapi kamu udah janji. "
"Aku ingkari janji aku Lun. " Setelah mengatakan itu Arka berlalu meninggalkan Aluna yang masih mematung ditempatnya. Aluna tidak menyangkah hanya hitungan menit Arka mengingkari janji yang diucapkannya. Tau - tau begitu dia tidak harus berjanji kan?
***
Setelah beberapa saat Arka kembali kelantai dasar. Kali ini dirinya sudah rapi dengan baju kerja.
"Aku kerja dulu bun. " Pamitnya, hendak mencium kening Aluna seperti biasanya namun kali ini Aluna menghindar.
"Bunda masih marah yah? " Arka menatap istrinya yang bahkan tidak melihat kearahnya.
"Sudah tahu masih nanya. " Gumamnya dalam hati.
" Jangan marah bun dan jangan sedih juga. Daddy lakuin semua ini cuma untuk kebaikan bunda. " Mengelus pucuk kepala Aluna dengan lembut.
"Itukan buat kebaikan kamu aja. " Istrinya itu pasti masih marah. Wajarlah dia marah sudah di PHPin.
"Kebaikan aku yang gimana sih bun? " Masih berusaha sabar dan tidak ingin berdebat dengan istrinya. Namun pertanyaannya kali ini akan menguji kesabarannya lebih lagi.
"Yah kebaikan kamu. Kamu nggak inginkan tidur sendiri. " Ucap Aluna nyolot.
" Itu bunda tahu. " Niatnya ingin menggoda Aluna.
"Itu egois namanya. " Suara Aluna mulai meninggi.
__ADS_1
"Egoisnya dimana sih bun? Salah yah aku nggak bisa tidur tanpa bunda. " Arka sepertinya sudah berlatih kesabaran. Lihat saja dia masih dengan sabar menghadapi sikap Aluna.
"Yah egoislah. Ingat yah kamu itu udah janji dan seharusnya kamu tepatin dong. "
"Kan udah daddy ingkari janjinya bun. " Emosi Aluna semakin tersulut.
"Jadi bisa aja janji yang kamu ucapin waktu di acara pernikahan kita, kamu ingkari suatu saat nanti. Bisa aja kamu janji ngga bakal nyakitin aku, terus kamu ingkari dan nyakitin aku. Kamu juga janji, nggak bakalan ninggalin aku, itu cuma janji dimulut doang kan? Kamu bakal ingkari itu semua. " Arka mengerjap, ia tidak menyangkah Aluna bisa berkata seperti itu.
"Kok masalahnya jadi merembes kesitu sih? " Tanyanya sudah mulai hilang kesabaran.
"Oh Tuhan Aluna, aku tuh lakuin semua ini demi kebaikan kamu. Jika kamu benar - benar ingin pergi menemui mama, oke, aku siapin tiketnya sekarang. " Meraih ponsel dan menghubungi seseorang untuk membeli tiket.
"Tolong yah, tiket atas nama Aluna Anggisty. Iya satu aja. " Menutup sambungan telpon.
"Kamu puas. " Ucap Arka berlalu meninggalkan Aluna.
***
Aluna yang sedang duduk diranjang, menerima chat dari suaminya. Bukan kata maaf atau seperti biasa menanyakan kabarnya, atau mengingatkan untuk makan dan minum vitamin, tapi mengirim bokingan tiket pesawat untuk penerbangan sore nanti.
Arka bahkan membeli satu tiket saja atas namanya. Apakah suaminya itu juga tidak akan mengantarnya. Arka memang semakin sibuk di perusahaan, tapi apa dia setega itu membiarkan Aluna pergi sendiri dalam keadaan hamil.
Aluna melangkahkan kakinya kearah lemari, memasukkan beberapa bajunya kedalam koper kecil. Jangan lupa baju tidur yang Arka pakai semalam, karena Aluna sebenarnya juga tidak bisa tidur kalau tidak mencium aroma tubuh suaminya.
***
Waktu cepat bergulir, Arka sudah tidak fokus bekerja. Setengah jam lagi, jadwal penerbangan istrinya. Ia memang marah, tapi dia tidak akan tega membiarkan Aluna pergi sendiri.
Arka berlari keluar, mendapati Frans yang sedang duduk mengerjakan sesuatu dimeja sekertaris.
"Frans antar aku ke bandara. " Frans pun mengiyakan dan mengikuti tuan mudanya yang sudah berjalan mendahuluinya.
Karena hari sudah menjelang magrib dan sebentar lagi buka puasa maka sepertinya jalanan benar - benar macet. Arka mengetuk - ngetuk jendela mobil. Frans tahu tuannya tidak sabaran untuk bisa segera sampai di bandara.
Alhasil seharuanya mereka hanya memakan waktu dua puluh menit untuk bisa sampai dibandara. Namun sayang karena terjebak dengan kemacetan ibu kota, membuat jarak tempuh mobil yang dibawa Frans lebih dari tiga puluh menit.
Arka berlari, semoga saja dia masih sempat.
"Tuan pesawat yang ditumpangi nona Aluna, sudah lepas landas 10 menit yang lalu. " Ucap Frans yang sudah mengecek dipapan informasi.
__ADS_1
Kaki Arka bahkan terasa lemas. Bagaimana dengan Aluna, dia pasti mengangkat kopernya sendiri, belum lagi dia harus menumpangi kapal. Arka bahkan frustasi sendiri mengingat semua itu. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan kandungan Aluna, siapa yang bakal nolongin dia. Ya Tuhan Arka akan merasa bersalah jika hal yang buruk terjadi pada istrinya. Dari pada dia menduga hal - hal buruk, lebih baik dia mencoba mendoakan keselamatan istri dan calon anaknya.