
"Nak kapan kamu akan balik ke perusahaan? " Tanya Ardian disela makan malam mereka.
"Mungkin 2 atau 3 hari lagi. "
"Kamu udah hubungi Bryan? " Memang selama di Jerman, Arka tidak pernah lagi menghubungi Bryan. Arka mempercayakan sepenuhnya perusahaan kepada Bryan.
"Sekalian aja Arka datang ke perusahaan buat ketemu dia yah. " Meletakan sendok diatas piring. Arka sudah selesai dengan makan malamnya.
***
" Hai. " Sapanya pada foto gadis yang ada di dalam sebuah Figura, seorang gadis yang tersenyum manis waktu resepsi pernikahan mereka. Siapa lagi kalau bukan Aluna.
" Aku udah kembali ke rumah kita. "
"Maaf udah ninggalin kamu sendiri disini sayang. "
"Kamu pasti kesepian. " Mengelus gadis yang ada di foto itu.
"Kamu tahu, tadi aku ketemu sama gadis kecil, dia mirip kamu kalau lagi makan eskrim. " Menceritakan sosok Giska yang tadi ditemuinya ditaman bermain. Arka kemudian sadar, bahwa mata Giska mirip dengan mata Aluna.
"Pantas saja aku kayak pernah lihat dimana mata itu. Ternyata matanya seperti mata kamu sayang. Kalau tersenyum matanya bahkal berbentuk bulan sabit. "
"Tapi aku juga ketemu bocah laki - laki. Katanya sih, abangnya. Tau nggak sayang, nyebelin. Benar kata kamu, kalau sebaiknya anak kita seorang perempuan. " Nada bicaranya sudah mulai lirih.
"Bahagia yah disana bun. Jaga anak kita. " Sudah memeluk Figura tadi.
***
Keesokkan harinya kembali mengajak Frans ke taman bermain. Berharap dia bisa bertemu anak gadis itu. Entah mengapa, Arka ingin sekali lagi ketemu dengan Giska. Mungkin dengan melihat mata Giska, akan sedikit mengobati rindunya pada sang istri.
Sudah menunggu berjam - jam tapi sepertinya anak gadis itu tidak datang ke taman bermain. Di stand eskrim pun tidak terlihat.
"Tuan ini sudah hampir sore, sehabis ini tuan akan mengunjungi makam nona Aluna kan? " Frans mengingatkan. Arka pun akhirnya mengajak Frans untuk pergi ke makam Aluna. Namun disaat dia hendak menaiki mobil, dia mendengar suara anak kecil memanggilnya.
"Paman Arka. " Arka menoleh. Gadis kecil yang ditunggunya sedari tadi berlari kecil kearahnya. Arka langsung memeluk dan mengangkat tubuh gadis kecil yang memakai dress rumahan itu. Entah mengapa dia sangat rindu anak kecil itu.
__ADS_1
"Giska pikir, Giska salah orang. Ternyata benar paman Arka. " Ucap Giska sambil menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajahnya.
"Giska datang sama siapa? " Tanya Arka sambil menurunkan anak gadis itu.
"Sama abang Al. Nggak bahkal dikasih bunda kalau Giska pergi sendiri. " Ucapnya dengan lucu.
Terlihat bocah laki - laki menghampiri Giska dan juga Arka. Wajahnya masih datar seperti kemarin.
" Giska kenapa sih ngejar orang ini? " Ucapanya dengan kesal. Sumpah Arka ingin sekali mengajari anak ini sopan santun.
"Ini paman Arka abang. " Sahut Giska masih memegangi tangan Arka.
" Dan kamu paman, kenapa ada disini lagi? Paman ingin menculik adik saya kan? " Sudah menarik tangan adiknya agar menjauh dari Arka.
"Abang Al ingat kata bunda. Abang Al nggak boleh marahin paman. Giska kasih tau bunda yah kalau abang Al nggak sopan. " Mengingatkan kakak laki - lakinya sekaligus mengancam.
" Awas aja kalau kamu ngaduh sama mommy. " Arka menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia bingung, kedua anak ini sepertinya anak kembar. Tapi mereka memiliki sifat yang berbeda. Apa mereka bukan anak kembar? secara yang satu memanggil mommy dan yang satu memanggil bunda. Kalau mereka saudara kandung, pastikan sama manggil ibunya.
" Apa kalian sepupuan? " Tanya Arka akhirnya.
"Giska sama abang Alka saudara kandung paman. Kita anak kembar. " Siapa lagi yang menjawab semanis ini kalau bukan Giska. Berbeda dengan yang satunya, masih terlihat dingin dan enggan menjawab pertanyaan Arka.
"Iya abang Alka. " Menunjuk kearah kakak laki - lakinya. Oh Tuhan, Arka benar - benar terkejut. Kok ada orangtua yang kasih nama anaknya kayak nama yang dikasih Arka dan Aluna untuk anak - anaknya kelak.
"Jangan bilang nama ibu kalian juga Aluna. " Sumpah Arka mengatakannya dengan tersenyum, dia tidak menyangkah bisa sekebetulan ini tentang nama anak. Menyebutkan nama istrinya semata - mata hanya ingin bercanda saja. Namun siapa sangkah jawaban yang diterimanya membuat dia terkejut.
"Kok paman tahu nama bunda? "
Arka membelalak. Ini kebutulan atau memang itu Aluna istrinya. Arka masih penasaran.
"Jangan bilang nama ayah kamu mirip dengan nama paman? " Tanyanya memastikan.
"Giska nggak tahu nama ayah. " Kali ini wajah ceria itu, berubah sendu.
"Lho kho nggak tahu? " Tanya Arka sudah mengusap kepala gadis kecil itu.
__ADS_1
"Kenapa paman banyak bertanya? Paman itu bukan keluarga kami. " Kali ini abang Al yang bicara.
" Kamu kenapa sih suka marah - marah? Apa ayah kamu nggak ngajarin sopan santun? " Abang Al mengepalkan tangannya. Ucapan Arka barusan membuat dia sangat marah.
"Paman, kita belum ketemu ayah dari lahir. " Sumpah Arka sangat menyesal dengan ucapannya tadi. Apa ayah mereka meninggal sebelum mereka lahir? Ataukah ibunya korban dari laki - laki yang tidak bertanggung jawab? Arka merasa bersalah.
" Maafin paman, paman nggak tahu. " Ucap Arka lirih.
"Al, maafin paman yah. " Kali ini mendekati abang Al yang masih terlihat kesal.
"Paman nggak tahu. Satu hal yang harus Al tahu, paman bukan orang jahat. Paman hanya rindu dengan anak paman. " ucapnya lirih membuat abang Al sedikit tersentuh.
"Emang anak paman kemana? " Tanya Giska.
" Dibawa bundanya ke surga. " Jawab Arka sambil menunjuk keatas langit.
"Paman Arka bisa anggap Giska sama abang Al anaknya paman. " Meraih tangan Arka dan mengusapnya lembut. Giska memang berhati lembut. Sedangkan abang Al dia memang baik tapi dia tegas dan keras kepala.
"Makasih yah sayang. " Ucap Arka tulus.
"Giska ingat kita sudah punya daddy. Ingat kata bunda daddy bahkal segera pulang dan nyari kita. Abang Al bahkal kasih tahu bunda kalau Giska main sama paman asing ini. Giska juga bahkal anggap paman ini daddynya Giska." Ucap abang Al sambil berlalu meninggalkan adiknya.
"Abang Al tunggu. " Giska yang hendak mengejar kakaknya ditahan oleh Arka.
"Paman, Bunda bahkal marah kalau tahu Giska main sama orang yang baru Giska kenal. "
"Paman akan antar kamu dan paman juga akan bicara sama bunda kamu. Biar kamu nggak kena marah. " Sudah meraih tangan Giska.
"Benarkah paman? " Tanya Giska memastikan.
"Benar sayang. Sekarang tunjukin dimana arah rumah kamu. " Giska pun menarik tangan Arka agar mengikutinya.
___________
Maaf dikit lagi yah, Aku sibuk bikin soal UTS buat anak - anak. Walaupun stay home mereka tetap harus ulangan lho. hahaha
__ADS_1
Semoga bisa mengurangi kerinduan kalian sama Arka dan Aluna.
Kira - kira di bab berikutnya mereka bahkal ketemu nggak yah?