
Ini kali pertamanya empat orang itu duduk berhadapan disatu ruangan. Arka dengan Aluna, Bryan dengan Santi. Walaupun hubungan mereka dulunya tidak baik, tapi sekarang baik Aluna maupun Arka mereka telah menjalin hubungan persahabatan dengan Bryan. Walaupun masih ada rasa canggung jika mereka bersama seperti saat ini.
" Oh yah Bryan, aku mau minta maaf karena waktu itu telah memukulmu. " Aluna menatap suaminya. Karena Aluna tidak tahu kalau Arka sudah pernah bertemu Bryan dan memukulnya. Aluna mengangkat kedua alisnya, dia seolah meminta penjelasan pada suaminya itu.
"Nanti aku jelasin. " Arka berbisik pada istrinya itu.
" Aku tidak akan memaafkanmu. " Ucap Bryan santai. Santi dan Aluna hanya tersenyum mendengar ucapan Bryan. Berbeda dengan Arka, dia terlihat santai walaupun tidak mendapat maaf dari pria yang dulu sangat dibencinya itu.
"Wah, sepertinya kau tidak iklas untuk minta maaf. Buktinya kau tidak membujukku untuk memaafkanmu. " Kali ini Bryan menggoda Arka. Mengundang gelak tawa Santi dan Aluna.
"Kalau Luna yang tidak memaafkanku, aku pasti sudah membujuknya sambil memohon. Tapi kalau dirimu, aku masih bisa minta maaf dilain kesempatan. " Bryan bahkan tidak percaya dengan ucapan Arka barusan. Sedangkan Santi dan Aluna, kedua wanita yang telah menjadi ibu itu lagi - lagi tergelak.
" Kau benar - benar takut yah tidak mendapat maaf dariku. " Kali ini Aluna yang menggoda suaminya.
" Aku bukannya takut kau tidak memaafkanku. Aku hanya takut disaat kau tidak memaafkanku, kau tidak mengijinkan aku menyentuhmu dan mengusirku dari dalam kamar. " Aluna bahkan tidak percaya, suaminya bisa berkata seperti itu didepan Santi dan Bryan yang tengah tersenyum kearah kedua pasangan itu. Maka yang bisa Aluna lakukan adalah menyentil perut sang suami.
***
"Oh yah Ar, aku kesini sekalian mau menyerahkan kembali urusan perusahaan padamu. Aku dan Santi berencana kembali ke kota kelahiranku. " Aluna langsung menunjukan wajah memelasnya.
" Loh kenapa? Kalian kan bisa tinggal di Jakarta dan Bryan bisa bantu mengelolah perusahaannya Arka. Iya kan sayang? " Kali ini Aluna menatap suaminya.
"Iya. Benar kata Aluna. Lagi pula aku juga masih ingin menghabiskan waktu bersama keluarga kecilku. " Tapi sepertinya rencana Bryan untuk kembali sudah mereka rencanakan. Hanya menunggu Arka saja kembali dari Jerman.
"Maaf sepertinya kali ini kami harus menolak. Kami akan membangun kembali perusahaan papa yang waktu itu hampir bangkrut. " Kalau sudah seperti ini Arka bisa berkata apa.
" Aku hanya bisa mendukung keputusanmu. Hubungi aku jika kamu butuh bantuan. " Bryan mengangguk. Sedangkan Aluna, dia masih belum rela berpisah dengan Santi.
" San, aku mohon jangan pergi. Hanya kamu sahabat yang kupunya saat ini. Kalau aku adalah masalah, aku curhat sama siapa? " Masih memelas, Aluna masih tidak rela Bryan memboyong sahabatnya itu kembali.
"Lun, kemana pun suamiku pergi aku akan ikut. Kau bisa menghubungiku jika kau butuh teman berbagi. Kita bisa video call sambil melepas rindu. " Rasanya tidak akan sama jika hanya melalui sambungan telpon untuk berbagi suka maupun duka. Namun Aluna juga tidak boleh egois. Benar kata Santi, kemana pun suaminya pergi sang istri harus ikut. Kalau dia jadi Santi, dia akan melakukan hal yang sama.
__ADS_1
" Lagi pula, kau bisa mengunjungi kami. Iyakan Arka? " Santi seakan meminta persetujuan suami sahabatnya itu.
"Iya sayang. Kita bisa mengunjungi mereka. Mama Asmita pasti juga merindukan kampung halamannya. Sekali - kali kita akan mengajak mama pulang dan kita juga bisa sekalian mengunjungi mereka. " Arka berusaha memberi pengertian kepada istrinya. Lebih tepatnya, Arka sedang menghibur sang istri. Karena Arka tahu, Santi sudah seperti saudara perempuan untuk istrinya itu.
"Baiklah kalau begitu. " Walaupun raut wajahnya terlihat sedih, Aluna berusaha mengiklaskan kepulangan sahabatnya itu.
***
Keesokan harinya Aluna, Arka dan kedua anak mereka pergi kebandara untuk mengantar Santi, Bryan dan Maura.
Santi dan Aluna mereka masih sibuk dengan acara perpisahan mereka. Saling memeluk dan berpesan untuk saling memberi kabar dilakukan kedua sahabat itu.
Sedangkan Arka dan Bryan, kedua pria itu duduk diruang tunggu. Tidak jauh dari istri mereka.
"Oh yah Bryan. Sekali lagi terima kasih karena sudah menjaga istri dan kedua anakku selama ini. Aluna sudah menceritakan saat aku tidak ada disamping mereka, kau dan Santilah yang selalu menghibur dan memberi dukungan kepada Aluna. " Arka berucap tulus. Aluna sudah menceritakan kalau selama Arka tidak ada disampingnya Bryanlah yang telah membantu keuangan mereka. Awalnya Aluna menolak, namun Bryan tetap memaksa dan mengatakan bahwa uang yang dia berikan adalah hak Aluna sebagai istri sah dari Arka pemilik perusahaan yang dikelolah Bryan saat itu. Untuk itulah Aluna dan kedua anaknya tidak kekurangan apapun.
Tidak ingin memanjakan kedua putra dan putrinya, Aluna lantas menggunakan sebagian uang itu untuk membuka usaha kecil - kecilan. Aluna menjual aneka kue dikantin sekolahan. Sisanya Aluna tabung sebagai pegangan jika Arka tidak akan kembali atau telah menikah lagi. Disamping itu dia mengajarkan abang Al dan Giska untuk hidup sederhana dan tidak menghamburkan uang untuk sesuatu yang tidak penting.
" Jangan larang aku Lun, aku hanya ingin menebus kesalahanku, karena tidak menafkahi mereka selama kurang lebih lima tahun. " Kalau seperti ini apa yang bisa Aluna katakan pada suaminya itu. Aluna juga tidak ingin melihat Arka, selalu menatap dengan rasa bersalah pada putra dan putrinya.
" Tidak perlu berterima kasih, Aluna pernah jadi orang yang terpenting dalam hidupku. Jadi sudah sewajarnya aku perhatian padanya dan anak - anaknya. " Kalau Bryan mengatakan ini dulu sebelum menikah dengan Santi, mungkin Arka akan menghajarnya.
"Kali ini jagalah mereka. " Bryan berucap tulus sambil melihat kearah Aluna, Giska dan abang Al.
"Aku akan menjaga mereka dengan nyawaku sendiri. " Ucap Arka yang juga melihat kearah istri dan kedua anaknya.
Aluna dan Santi mendekati Bryan dan juga Arka. Sedangkan anak - anak dijaga oleh sekertaris Frans.
"Bryan, tolong jaga mereka." Kali ini Aluna yang berucap pada pria yang dulunya pernah sangat dicintainya itu.
" Siap nyonya. " Jawab Bryan dengan tersenyum.
__ADS_1
Mendekati Maura, Aluna memeluk gadis kecil itu. Airmatanya bahkan tidak bisa ia bendung. Maura sudah seperti Giska baginya.
"Sayang... Jangan lupa hubungi tante yah. Ingatin ibu kamu buat hubungin tante setiap hari yah. " Maura hanya mengangguk saja. Dia juga mungkin tidak tahu, kemana orangtuanya akan membawanya.
"Giska.. abang Al, sini peluk dan cium adik Maura." Giska dan abang Al pun menghampiri Aluna dan Maura. Mencium gadis kecil itu secara bergantian dilakukan abang Al dan Giska.
"Maura... Jika sudah besar abang Alka akan jemput kamu. " Abang Al berucap sambil mengelus kepala Maura.
Setelah mengatakan itu, Bryan dan juga Santi secara bergantian memeluk dan mencium Giska dan abang Al. Selama lima tahun Santi dan Bryan sudah menganggap kedua anak Aluna seperti anak sendiri.
***
Aluna masih menangis melihat Santi yang sudah menggendong Maura yang sudah mulai menaiki eskalator bersama Bryan. Sesekali mereka melambaikan tangan kepada keluarga kecil itu. Arka merangkul istrinya sambil menghapus airmata ibu dari anak - anaknya itu.
Meraih ponsel disakunya Arka mengetikan sesuatu dan mengirimnya.
Sesampainya didalam pesawat Bryan membuka notifikasi yang masuk dalam ponselnya. Dia menutup mulutnya tidak percaya.
"Ada apa? " Santi bertanya sambil meletakan Maura dipangkuannya.
"Arka mentransfer uang yang cukup untuk membeli satu perusahaan. " Bryan kemudian membaca pesan dari Arka.
" Pakailah uang itu, untuk membangun kembali perusahaan ayahmu. Jangan berani menolak. Karena itu tabungan yang kuberikan pada Maura. Jadi pergunakan sebaik mungkin. Aku akan meminta pertanggung jawabmu suatu saat nanti. " Bryan tersenyum. Aluna memang mendapat pria yang baik, untuk itu Bryan bersyukur.
__________
Season 1 sudah selesai....
Sambil nunggu season 2nya, mampir di Novelku yang berjudul "Perjuangan Emely. "
🙏
__ADS_1