
Hanya butuh tiga hari untuk Ardian berada di rumah sakit. Janji Arka kepadanya untuk menikah memberi energi tersendiri untuk pemulihan Ardian. Sehingga kesehatannya berangsur - angsur membaik.
Sore ini Ardian diijinkan pulang oleh dokter Adit. Setelah Adit memastikan kondisi Ardian sudah membaik dan sudah melakukan beberapa pemeriksaan sebelumnya. Ardian ingin segera pulang bahkan setelah dokter Adit mengatakan bahwa Ardian boleh pulang, Ardian terlihat bahagia. Bahkan senyum selalu menghiasi wajahnya.
Setelah mendapat kabar dari Adit tentang ayahnya yang sudah boleh pulang, Arka bergegas menuju rumah sakit dimana ayahnya dirawat. Seperti biasa sekertaris Frans yang mengantarnya. Sepanjang perjalanan Arka selalu bersyukur karena ayahnya sudah di ijinkan pulang. Itu berarti kesehatan ayahnya sudah membaik.
Setelah sampai dirumah sakit, ayahnya ternyata sudah siap. Barang - barang ayahnya juga sudah dibereskan oleh Adam bodyguart Ardian atas permintaan Arka. Setelah menyampaikan ucapan terima kasih kepada Adit sepupunya, Arka mengajak ayahnya kearah parkiran rumah sakit yang sudah ada Frans disana menunggu didalam mobil.
Setelah beberapa saat akhirnya mereka sampai dirumah Arka.
"Loh kenapa kita ke rumah kamu nak?" Tanya Ardian yang baru menyadari jika mobil mereka berhenti dirumah utama Arka. Karena ditengah perjalanan Ardian lebih memilih memejamkan matanya namun tidak tidur.
"Ayah akan tinggal disini bersama Arka. Arka tidak ingin ayah jatuh sakit lagi." Arka membuka pintu mobilnya disusul Ardian dan juga Frans keluar dari mobil.
"Tapi nak?" Kata - kata Ardian terhenti ketika langkah Arka berhenti didepan pintu rumahnya dan membuat Ardian juga menghentikan langkahnya.
"Jika ayah membantah. Maka Arka akan membatalkan perjanjian kita. " Arka mengatakannya tanpa melihat ayahnya. Setelah mengatakannya Arka masuk kedalam rumah yang pintunya sudah terlebih dulu dibukakan oleh kedua orang pengawal yang bertugas didepan pintu rumah utamanya.
Ardian juga ikut masuk kedalam. Ardian menuruti apa yang dikatakan anaknya. Mungkin dengan kejadian Ardian sakit membuat Arka memindahkan dirinya ke rumahnya. Arka mungkin hanya kuatir terhadapnya.
"Baiklah ayah akan tinggal disini bersamamu. Tetapi secepatnya tepati janjimu." Ucap Ardian yang sudah mulai duduk disofa ruang tamu rumah anaknya tersebut.
__ADS_1
"Aluna sudah setuju untuk menikah dengan Arka. Jadi ayah tidak usah kuatir dan jangan terlalu banyak berfikir. " Arka tetap mengingat pesan dokter Adit untuk tidak membuat ayahnya banyak berfikir dan lebih mengutamakan kebahagiaan ayahnya.
"Benarkah itu? Ayah sangat senang mendengarnya. Makasih nak. " Ardian terlihat bahagia dan memeluk putranya.
"Oh yah kenapa sih ayah ingin Arka segera menikah? Dan kenapa juga harus dengan gadis itu? Arka bertanya ketika ayahnya sudah melepaskan pelukannya.
"Karena usiamu sudah cukup untuk menikah dan sebelum ayah meninggal ayah ingin melihat cucu penerus ayah dan kenapa ayah memilih gadis itu? karena pertama kali ayah mengenalnya ayah bisa merasakan bahwa dia memiliki hati yang tulus dan peduli terhadap orang lain. Dia bisa menjadi istri dan ibu yang baik untukmu dan untuk anakmu kelak." Ucap Ardian mantap sambil mengingat bagaimana Aluna memberinya obat dan minuman saat Ardian yang bukan siapa - siapanya tengah sakit di pesawat yang sama - sama mereka tumpangi waktu itu.
"Baiklah. Arka akan segera menikah." Untuk sementara Arka akan mendengarkan semua keinginan ayahnya.
Setelah mengantar ayahnya ke kamar Arka mengajak sekertaris Frans ke cafe dimana Aluna bekerja. Setelah sampai di cafe sekertaris Frans memesan ruangan privat atas permintaan Arka dan meminta kepada pemilik cafe yang juga sangat mengenal presiden direktur perusahaan nomor satu itu untuk menyuruh Aluna keruangan yang dipesannya.
"Aluna tolong antar minuman ini keruangan privat nomor 10." ucap pemilik cafe. Aluna yang tengah sibuk karena banyaknya tamu tidak memperhatikan Arka masuk ke cafe.
"huu dia lagi." Aluna bergumam ketika dia tahu siapa yang ada ruangan itu ketika dia sedikit membuka pintu ruangan itu.
"Tuan ini minuman yang anda pesan. Selamat menikmati. Saya permisi dulu." Ucap Aluna setelah menata pesanan diatas meja didepan Arka dan tidak ingin bicara terlalu lama dengan Arka.
"Siapa yang menyuruhmu pergi?" Aluna menghentikan langkahnya ketika mendengar ucapan Arka.
"Apa ada yang tuan perlukan atau pesan lagi?" Aluna berbalik menatap Arka yang juga menatapnya.
__ADS_1
"Ada yang perlu kita bicarakan. Duduklah." Ucap Arka. Sedangkan Aluna tetap berdiri pada posisinya.
"Saya masih bekerja." ucap Aluna.
"Duduklah. Frans sudah meminta ijin kepada bosmu. Kamu tidak akan dipecat dengan menemaniku duduk disini. " Mendengar hal itu Aluna langsung duduk agak jauh dari posisi duduk Arka.
"Apa yang ingin tuan bicarakan? Bukankah kemarin tuan sudah banyak bicara." Ucap Aluna tanpa melihat kearah Arka. Sedangkan Arka yang mendengar Aluna mulai kesal.
"Apa kau lupa yang aku katakan kemarin? Waktuku sangat berharga dan bahkan dalam waktu 5 menit aku bisa menghasilkan uang milyaran rupiah. Seharusnya kau bangga dengan aku membuang waktuku untuk bertemu denganmu, aku telah mengiklaskan uang milyaran rupiah yang hendak kudapatkan." Aluna yang mendengar penuturan Arka hanya memutar kedua bola matanya. Rasanya dia ingin mengatakan "Hei tuan apa yang harus aku banggakan bertemu denganmu. Bahkan hariku menjadi sial ketika bertemu denganmu.
"Bicaralah." Lebih baik mengalah agar urusannya cepat selesai dan dia bisa pergi gumam Aluna dalam hati.
"Kita akan menikah besok. " Arka bahkan sangat santai mengatakannya.
"Apa?" Aluna setengah berteriak karena kaget.
"Bisakah kamu tidak berteriak. Sudah ku katakan aku tidak tuli." Arka menatap kesal kearah Aluna.
"Kenapa secepat itu. Bahkan aku belum menyiapkan apapun." Aluna berkata pelan. Karena dia tidak ingin teman sekerjanya mendengar.
"Sudah ku katakan. Hanya persiapkan dirimu. Pernikahan ini hanya akan dihadiri oleh ayahku dan beberapa saksi dan tidak akan ada resepsi pernikahan. Jadi kau jangan terlalu berharap. " Mendengar setiap penuturan Arka membuat Aluna semakin kesal.
__ADS_1
"Besok Frans akan menjemputmu." Ucap Arka lagi tanpa memperdulikan Aluna yang menatapnya kesal.
Kemudian Arka meninggalkan Aluna diruangan itu tanpa menunggu Aluna menjawabnya.