
"Sayang, kamu ngga marah soal tadi aku ketemu Bryan dirumah sakit? " Mereka berdua kini berada didalam mobil, menuju kediaman mereka. Setelah mengantar Aluna, Arka akan kembali ke perusahan. Tadinya Aluna sudah mengatakan kepada suaminya, agar tidak usah menemaninya ke rumah sakit. Karena Arka pasti kelelahan harus kesana kemari seperti ini. Tapi tetap aja, suaminya itu bersikeras tiap Aluna check up rutin kandungannya, Arka selalu menyempatkan diri untuk bisa menemani sang istri. Dia ingin tahu langsung dari dokter kandungan Aluna, tentang perkembangan janin yang ada diperut istrinya.
Disisi lain Aluna bersyukur Arka akhirnya bersikeras menemaninya. Coba saja jika suaminya tidak ikut. Apa jadinya jika Aluna tidak sengaja bertemu Bryan seperti tadi dan Arka mengetahuinya dari orang lain.
"Tadi aku benar - benar tidak sengaja bertemu Bryan disana. " Lagi - lagi menjelaskan. Aluna masih ingat jelas bagaimana dulu sikap suaminya setelah tanpa sengaja Aluna bertemu atau hanya berpapasan dengan Bryan. Mendiami bahkan pernah membawa perempuan kerumah mereka. Walaupun akhirnya Aluna tahu kalau perempuan itu hanya sepupu suaminya.
Namun kali ini reaksi Arka berbeda. Lihatkan tadi bahkan dia lebih dulu menyodorkan tangannya bersalaman dengan Bryan. Kali ini juga sama, Arka menatap sayang istrinya dan mengelus pipi istrinya yang sudah mulai berisi karena porsi makannya yang tidak seperti biasanya.
"Tidak apa - apa. Aku tidak akan cemburu lagi. Karena aku tahu, istri tercintaku ini cuma milik aku. " Ucapnya tersenyum sambil tetap mengelus pipi Aluna.
"Makasih yah sayang. " Kali ini Aluna melayangkan satu ciuman di pipi kiri suaminya. Arka tersenyum genit, Ia mendekatkan wajahnya dan memiringkan kepalanya, mencium bibir istrinya. Tidak perduli pada sang pengemudi yang masih jomblo itu. Aluna kaget dengan sikap suaminya yang tidak tahu tempat.
__ADS_1
"Sayang ada sekertaris Frans. " Bisik Aluna pada suaminya yang masih menyunggikan senyum itu.
"Frans aku sama istriku ciuman yah. Kamu tutup mata aja. " Aluna langsung memukul lengan suaminya yang dengan tidak tahu malunya mengatakan itu. Membuat Aluna malu saja.
"Kalau aku tutup mata terus mobilnya ketabrak gimana? seharusnya tuan menyuruhku menutup telinga karena suaranya terdengar nyaring ditelingaku. Kalau mata aku mah, fokus nyetir. " Gumam Frans dalam hati. Ini dia yang gila atau tuannya yah.
Arka hanya terkekeh, melihat wajah Aluna yang merona karena ucapnya barusan.
Setelah mengantar Aluna dan memastikan Aluna meminum vitaminnya, Arka kemudian pamit kepada istrinya itu dan kembali ke perusahaan.
"Sayang kamu kenapa? " Tanya Ningsi mendekati putranya yang terlihat sedih. Bryan tidak menjawab, memilih menunduk.
__ADS_1
"Apa kamu masih mencintai gadis itu? " Pertanyaan ibunya membuat Bryan kaget. Berarti tadi ibunya sempat melihat Aluna dan suaminya. Kalau tidak, bagaimana ibunya bisa bertanya hal seperti ini.
"Maafkan mama dan papa. Semuanya salah kami. Mungkin kalau kamu menikah dengannya, kamu yang saat ini menemaninya check up kandungannya. " Benarkan ibunya melihat bahkan mendengarkan semuanya.
" Untuk apa mama minta maaf. Toh semuanya tidak akan balik seperti dulu. " Mendengar ucapan Bryan, membuat ibunya tambah merasa bersalah. Bryan menyadari hal itu.
"Bukan maksud Bryan menyalahkan mama dan papa. Semuanya salah Bryan, Bryan tidak cukup berjuang untuk cinta Bryan. Lagipula cinta tidak harus memiliki kan? Biarlah Bryan mencintai Luna dalam diam, mendoakan kebahagiaannya walaupun alasan kebahagiaannya bukan lagi Bryan. " Ada kesedihan dibalik kalimatnya. Namun Bryan memang berusaha iklas karena Bryan tahu Aluna sekarang bahagia.
" Tapi nak bagaimana dengan kebahagiaan kamu? " Tanya Ibu Ningsi dengan airmata yang mulai menganak diujung matanya.
" Bryan sudah kehilangan kebahagiaan Bryan, ketika papa menjodohkan Bryan. Mama tahukan kebahagiaan Bryan selain melihat mama dan papa baik - baik aja, ada satu lagi alasan kebahagiaan Bryan? Gadis yang beberapa bulan lagi akan menjadi seorang ibu ma. " Akhirnya ibu Ningsi mengurai airmata mendengar penuturan putranya. Andai suaminya tidak seegois itu. Mungkin kini Bryan sangat bahagia. Namun apa hendak dikata nasi sudah jadi bubur. Setiap keputusan memang harus sejalan dengan konsekuensinya.
__ADS_1
____
Itu dulu yah. Maaf dikit...