Aku Ternyata Sangat Mencintainya

Aku Ternyata Sangat Mencintainya
PESAWAT


__ADS_3

Aluna menatap pantulan wajahnya di kaca jendela pesawat yang ditumpanginya. " Inikah wajah seorang yang bahkan tidak mampu berjuang untuk cintanya? " Aluna seperti berbicara dengan sosok gadis di pantulan kaca itu.


"Aku tidak ingin dia pergi tetapi aku merasa tidak memiliki hak untuk sekedar menahannya di sisiku." sosok gadis di pantulan kaca jendela itu seakan menjawab pertanyaannya. Lamunannya buyar ketika ada dua orang pria duduk menempati dua kursi kosong disampingnya.


Satunya masih berkisar umur tiga puluh tahun, dengan gaya cool. Menggenakan setelan jas serba hitam dan satunya seorang pria seumuran almarhum ayahnya.


Setelah beberapa menit penerbangan, Aluna, menatap pria seumuran ayahnya itu dengan ekor matanya. Pria itu terlihat pucat dan suhu tubuhnya panas. Karena tanpa sengaja tadi tangannya bersentuhan dengan kulit tangan Aluna. Karena posisi duduk mereka yang berdekatan. Aluna ingin bertanya atau sekedar menyapa. Tapi pesan Asmita ibunya tentang jangan berbicara dengan orang asing membuat dia mengurungkan niatnya. Padahal dia hanya ingin mencari teman bicara selama perjalanan yang memakan waktu berjam - jam ini. Juga agar dia tidak terlalu bosan di pesawat.


"Pak maaf saya lancang. Apakah bapak sakit?" Akhirnya Aluna bertanya. Entah kenapa dia tidak bisa menahan lidahnya untuk tidak bicara dengan orang asing.


Pria itu tersenyum kearahnya dan menggeleng kepalanya, menjawab dengan bahasa tubuhnya.


"Sebelumnya juga maaf, apakah ini kali pertama nona berpergian menggunakan penerbangan?" tanya pria itu kepada Aluna yang memperhatikan gerak - gerik Aluna yang seperti gelisah dan tidak nyaman dengan posisi duduknya.


"Iya Pak." Jawab Aluna jujur dengan tersenyum seperti biasanya.


"Oh begitu. Jika ada yang nona butuhkan bisa panggil pramugari atau jika ada yang ingin nona tanyakan perihal penerbangan bisa tanya bapak. Karena bapak sudah sering berpergian menggunakan burung besar seperti ini." Kelakar pria itu kepada Aluna.

__ADS_1


"Terima kasih pak." Jawab Aluna.


"Sepertinya pria ini baik." Gumam Aluna dalam hati. Tetapi lagi - lagi nasehat ibunya muncul di kepalanya seperti seorang peri kecil dengan gaun putihnya.


"Jangan cepat percaya orang." Akhirnya Aluna memilih diam lagi.


Setelah beberapa menit berlalu, Aluna kembali melihat pria yang ada disampingnya. Pria itu seperti memijat keningnya dan sesekali menutup matanya. Aluna merasa kasihan karena pasti pria itu sedang sakit.


Sedangkan pria yang satunya sepertinya tidak perduli dan hanya sibuk membaca buku yang ada ditangannya.


"Pak ini ada obat dan juga air mineral." Aluna menyodorkan obat penurun panas yang diambilnya dari kotak obat dan juga air mineral yang masih tersegel, yang diambilnya dari tas ransel yang dibawanya. Karena setiap dia berpergian ibunya selalu mengutamakan obat - obatan untuk dia bawa. Walaupun dia jarang menggunakannya tetapi hari ini dia bersyukur kepada ibunya karena bisa menolong pria disampingnya.


Pria itu langsung meminum obat yang diberikan Aluna.


"Terima kasih nak. Kamu gadis yang baik." ucap pria itu dengan tulus.


"Iya sama - sama pak." Sahut Aluna tak kalah tulusnya.

__ADS_1


Kemudian Aluna memperkenalkan namanya dan begitu juga dengan pria yang menyuruh Aluna memanggilnya om Ardian itu.


"Nak Luna ke Jakarta menemui keluarga?" tanya Ardian kepada Aluna.


"Teman om, tapi sudah seperti keluarga sendiri." Jawab Aluna.


"Oh yah Luna, kamu harus hati - hati dengan barang bawaanmu. Usahakan uangmu kamu bagi dua. kamu bisa mengisinya didalam dompetmu, lainnya kamu bisa taruh dalam kantong celanamu. Tidak menutup kemungkinan jika kamu kehilangan dompetmu kamu masih memiliki pegangan uang. Jangan cepat percaya dengan orang yang menawarkan mu bantuan." Jelas Ardian memberi sedikit nasehat kepada Aluna, karena dia tahu gadis itu baru pertama kali menginjakkan kaki di kota Jakarta yang rawan dengan segala kejahatannya.


Aluna tidak henti - hentinya berterima kasih kepada Ardian karena pria itu menasehatinya. Selayaknya seorang ayah kepada putrinya. Mereka asyik mengobrol layaknya orang yang telah lama kenal. Ardian juga merasa bahwa obat yang diberikan Aluna mampu membuat tubuhnya berangsur - angsur jadi lebih sehat.


Setelah beberapa saat akhirnya pesawat yang mereka tumpangi mendarat dengan baik di salah satu bandara di Jakarta. Perasaan bersyukur yang diungkapkan sebagian penumpang karena mereka bisa sampai tujuan dengan selamat.


Aluna menghubungi Santi sahabatnya itu dan Santi ternyata sudah menunggunya di depan pintu masuk bandara. Aluna meraih tas ransel dibawah kakinya dan berjalan keluar pesawat. Ardian tetap mendampinginya sampai Aluna bertemu dengan Santi yang sudah menunggu kedatangannya.


Aluna memeluk erat sahabatnya itu, ketika keduanya sudah bertemu. Ardian hanya memandang keduanya dengan tersenyum. Aluna memperkenalkan Ardian kepada Santi. Setelah itu keduanya berpamitan dengan Ardian, Ardian terlihat sedih karena baru kali ini dia menjumpai gadis sebaik Aluna yang tulus menolongnya.


"Luna ini kartu nama om. Jika kamu perlu bantuan. Kamu bisa menghubungi nomor yang ada di kartu ini. " Ardian menyerahkan kartu berwarna hitam dengan tulisan berwarna emas diatasnya.

__ADS_1


"Baik om." Aluna menerima kartu nama itu dan memasukkannya dalam dompetnya.


Sementara mereka berpamitan terlihat seorang pria mengenakan jas serba hitam dengan kaca mata hitam membisikkan sesuatu kepada Ardian dan dibalas anggukan oleh Ardian. Setelah itu Aluna dan Santi memesan taxi menuju rumah kontrakan yang ditempati Santi. Sedangkan Ardian pergi dengan pria berjas hitam tadi.


__ADS_2