
Kamar yang dulunya tertata dengan rapi, sekarang berubah seperti kapal pecah. Barang - barang ada yang utuh dan juga ada yang hancur berserahkan dilantai kamar. Pria dengan wajah menyedihkan duduk menyadarkan tubuhnya disudut ranjangnya.
"Tuan bisakah saya masuk? " Suara Frans dari balik pintu yang sengaja tidak ditutup Arka. Setelah mendapat persetujuan dari Arka Frans pun masuk kedalam kamar tuannya. Mata Frans tak henti menyapu setiap sudut kamar tuan mudanya. Yang lebih mirisnya lagi keadaan tuan mudanya saat ini, matanya hanya menatap kosong kedepan.
"Frans apakah sudah ada kabar mengenai Aluna? " Tanya Arka tanpa memalingkan wajahnya.
"Maaf tuan. " Jawaban singkat Frans membuat Arka sudah mengerti bahwa Frans dan juga orang - orangnya belum juga menemukan Aluna.
"Tuan ada satu cara untuk bisa menemukan nona Aluna. Walaupun saya tidak yakin seratus persen cara ini berhasil, tapi kita harus mencobanya. Mendengar ada cara untuk menemukan Aluna membuat Arka menatap Frans.
"Bagaimana caranya? " Tanya Arka kemudian Frans menjelaskan cara yang telah dia pikirkan semalam.
***
Hari itu seperti biasa Aluna bekerja di rumah makan. Karena hari ini hari libur maka banyak sekali tamu yang datang menghabiskan waktu dipantai tak jauh dari rumah makan. Bahkan suasana dirumah makan saat ini sangat ramai.
ada yang menunggu pesanan mereka dengan cara mengobrol ringan dengan anggota keluarga mereka, ada juga yang menonton tv yang berada didepan rumah makan dan ada juga yang memainkan ponsel untuk mengusir rasa jenuh karena pesanan yang belum kunjung datang.
"Wah bukankah itu Presdir Arxian Group" Seru beberapa pengunjung rumah makan. Aluna yang hendak berjalan kearah dapur menghentikan langkahnya dan mulai berbalik mencari dimana sosok yang dimaksud pengunjung rumah makan. Namun ternyata harapannya sirna ketika melihat tidak ada Arka dipintu masuk rumah makan.
"Wah dia benar - benar tampan. " Seru Nita menatap kearah layar Tv. Aluna baru menyadari dan mulai melihat kelayar tv besar yang ada didepan rumah makan.
Aluna menatap tanpa sedikitpun berkedip, mulai dari pembawa acara membuka acara hingga saat ini Arka diwawancara.
"Hei air liurmu keluar tuh" Ucap Nita dengan tertawa mengejek.
"Jangan bermimpi disiang bolong, tidak ada perempuan yang bisa mendekati presdir Arka Arya Wiguna. Apalagi hanya sampah sepertimu. " Aluna tidak menghiraukan hinaan Nita dan mulai berlalu kearah dapur.
__ADS_1
"Tolong dong volume suara tvnya dinaikin. Kayaknya tuan Arka sedang menyampaikan sesuatu. " Ucap salah satu pengunjung dan disetujui pengunjung yang lain. Nitapun menambah volume tv tersebut.
"Tuan sepertinya anda ingin mengatakan sesuatu. " Tanya pembawa acara kepada Arka dan Arka hanya mengiyakan.
"Baiklah, Silakan sampaikan apa yang tuan ingin sampaikan. " Seru kembali pembawa acara. Terlihat Arka mulai menghadap camera dan mengatur nafasnya.
" Luna..? " Pembukaan kata - kata Arka menyebut nama Aluna sontak membuat Aluna yang hendak kedapur membalikkan badannya menatap layar tv didepannya. Semua pengunjung terlihat tegang menunggu kelanjutan dari kata - kata pembisnis sukses tersebut.
"Luna pulanglah. Aku merindukanmu. " Suara Arka menyimpan kesedihan yang amat sangat.
"Tuan kalau boleh tahu siapa Luna? " Tanya pembawa acara kepada Arka.
"Dia istriku. Namanya Aluna"
Aluna yang mendengarnya berurai air mata. Nita menatapnya dan tertawa.
"Wah namamu dan nama istri tuan Arka sepertinya sama. Tapi hanya namanya saja yang sama. Istri tuan Arka pasti jauh lebih sempurna darimu. " Ejek Nita, Kalau dia tahu Aluna benar - benar istri Arka, bagaimana yah reaksinya? hahaha
"Sepertinya akan banyak gadis yang patah hati mendengar kabar ini. Oh yah tuan apakah masih ada yang ingin tuan sampaikan sebelum kita menutup semua acara disaat ini?" Tanya pembawa acara dan Arka lagi - lagi mengiyakan.
"Silakan tuan" Seru pembawa acara
"Aluna aku mencintaimu. Pulanglah aku menunggumu. " Arka berharap Aluna menonton tv dan mendengar isi hatinya.
Diruang tunggu tiba - tiba ponsel Frans berbunyi. Suara seorang wanita menelpon nomor yang tertera dibawah tv sebelum Arka mengakhiri acara tadi.
Nita yang hendak ingin mempermalukan Aluna dengan cara mengatakan kepada Frans bahwa dia tahu keberadaan Aluna.
__ADS_1
"Tuan ada seseorang yang memberi kabar tentang nona tapi letakknya ada dipinggiran kota. " Seru Frans kepada Arka. Arka yang mendengarnya berbinar namun ada kekuatiran diwajahnya. Bisa saja orang yang menghubungi Frans hanya sekedar iseng. Karena semenjak acara tadi, sudah banyak yang mengaku melihat Aluna dan mengaku Aluna.
Akhirnya Frans membawa Arka ke alamat yang sudah diberikan Nita. Ada beberapa mobil pengawal yang juga ikut dibelakang mobil Arka.
Setelah beberapa jam akhirnya mereka sampai didepan pintu rumah makan yang sudah ada Nita menunggu disana.
" OMG tampannya. " Seru Nita kearah pria yang baru saja turun dari mobil yang dibukakan Frans untuknya.
"Apakah kau yang menghubungiku tadi? " Tanya Frans kepada Nita yang tak berkedip melihat Arka.
"Hei nona. " Frans melambaikan tangannya didepan wajah Nita membuat Nita akhirnya sadar.
"Iya tuan saya yang menghubungi Anda. Didalam ada wanita yang mengaku ngaku istrinya tuan Arka. " Ucap Nita menahan senyum jahatnya. Dia ingin mempermalukan Aluna dengan cara mengatakan kepada Arka bahwa Aluna mengaku ngaku sebagai istrinya dan ketika Arka tahu kalau dia bukan istrinya, Aluna akan mendapat amukan dari Arka dan dipermalukan di depan banyak pengunjung saat ini.
Nita kemudian mempersilakan Arka dan Frans masuk kedalam rumah makan. Semua pengunjung langsung menatap kearah pria yang terlihat mencari dimana gadis yang mengaku - ngaku sebagai istrinya tersebut. Akhirnya Arka menghentikan pandangannya kepada gadis yang sedang mengeringkan piring dengan menggunakan kain.
"Itu benar - benar dia. " Arka mulai melangkahkan kakinya kearah gadis yang tengah fokus dengan pekerjaannya tanpa menyadari siapa yang datang saat ini.
"Bersiap - siaplah dipermalukan Aluna. Ini akhir riwayatmu. " Senyum licik Nita mengembang melihat Arka yang mulai mendekati Aluna.
Sesampainya dibelakang Aluna, Arka langsung memeluknya. Piring yang dipegang Aluna langsung jatuh ketika dia hafal dengan jelas bau parfum pria yang memeluknya.
Aluna membalikkan badannya menatap tak percaya pria yang berurai air mata didepannya.
"Aku mencarimu kemana - mana. Tidakkah kau tahu aku merindukanmu. " Ucap Arka menatap dalam gadis yang saat ini juga berurai air mata.
"Bukannya kau yang memintaku pergi. " Ucap Aluna berusaha menghapus air matanya.
__ADS_1
" Maafkan aku sayang. Aku memang bodoh. " Arka meraih kedua tangan Aluna dan kembali memeluk Aluna. Aluna pun membalas pelukan Arka karena dia juga begitu merindukan Arka.
Nita hanya melongoh melihat adegan yang ada didepannya. Niatnya ingin mempermalukan Aluna malah mempertemukan sepasang suami istri tersebut. Bahkan ingin rasanya dia menjadi semut saja agar tidak terlihat.