
Alka yang baru saja menapaki anak tangga pertama saat ponselnya berdering. Tertera nama Rama disana.
"Iya Ram. Apa ada yang ketinggalan? " Pasalnya Rama baru saja pulang dari rumahnya. Jadi Alka pikir sahabatnya itu, ketinggalan sesuatu.
" Hati aku kayaknya ketinggalan disitu. "
"Yah? " Tanya Alka yang tidak mengerti.
"Sepertinya aku jatuh cinta pada pandangan pertama Al. " Alka mengeryitkan dahinya, belum mengerti ucapan Rama.
Hening sesaat, Rama masih fokus dengan jalanan didepannya. "Sepupu kamu itu lho, kayaknya aku jatuh cinta sama dia. " Suara dentingan ponsel yang jatuh dilantai. Alka langsung kembali mengambil benda pipi itu. Syukur ponselnya masih dalam keadaan baik - baik saja, hanya sisinya saja yang sedikit tergores.
"Hallo Al. " Rama mendengar bunyi dentingan tadi.
" Sorry Ram, maksud kamu Maura? " Alka memastikan.
"Iyalah, siapa lagi. " Mobil Rama sudah mendekati kawasan rumahnya.
" Al, bantuin aku dong. " Laki - laki itu, menghentikan mobilnya. Menatap lurus kedepan, sebelum berucap lagi. "Bantuin aku buat dekat sama Maura. " Alka menatap lekat kearah Maura yang masih duduk menonton tv bersama Aluna dan Giska. Apa dia akan sanggup jika melihat Maura dengan pria lain. Apalagi gadis itu sudah mengatakan padanya, bahwa dia akan melepaskan dan mencoba mencari pria lain. Apalagi ini Rama, pria yang mungkin tidak bisa ditolak Alka. Karena memang Rama adalah pria baik dimata Alka.
__ADS_1
"Al, kamu dengar aku kan? " Tanya Rama, disaat Alka belum juga menjawabnya.
" Iya, aku dengar Ram. Ram, aku tutup dulu yah. Klien aku nelpon. " Alasan yang dibuat Alka.
"Baiklah. Aku tunggu kabar kamu yah Al. " Rama sangat berharap Alka akan membantunya. Apalagi Maura adalah sepupu sahabatnya itu. Memutuskan sambungan telpon, Alka kembali menatap Maura.
Terakhir Maura bicara dengannya hanya tadi pagi saja. Gadis itu bahkan tidak seperti biasanya. Dulu Alka yang berusaha menghindarinya, sekarang Maura yang terlihat menghindarinya. Jika mereka berpapasan pun, Maura hanya menegurnya sebentar, kemudian berlalu meninggalkannya.
Mendekat kearah Maura. Alka memegang lengan gadis itu. "Maura, bisa ikut Abang Al sebentar. " Ucapnya kemudian. Maura menatap Alka, seolah bertanya kemana?
"Ikut Abang Al kedepan. Ada yang Abang Al pengen omongin. " Sudah menarik lengan Maura. Maura hanya bisa mengikuti langkah kaki pria yang berusaha dilupakannya itu. Aluna dan Giska saling bertanya, ketika Alka membawa Maura dari situ.
Mengunyah cepat buah yang ada dimulutnya, Giska lantas menjawab. "Nggak tahu bun. Tapi bun, kayaknya kak Rama suka sama Maura. " Aluna memang memperhatikan Rama selalu mencuri pandang pada Maura.
Apa benar Rama menyukai Maura? Ini bagus.
Sudah duduk dikursi taman, Maura mencoba mengambil jarak.
"Apa yang pengen Abang Al omongin. Jika itu masalah pribadi, Maura tidak mau membahasnya. Maura sudah cukup jelas bicara kemarin. Jadi Abang Al tidak perlu kuatir, Maura sudah tidak akan memaksakan cintanya Maura sama Abang Al. Maura akan lupa... " Alka membungkam bibir Maura dengan bibirnya. Alka tidak ingin mendengar kata melupakan dari wanita itu.
__ADS_1
Menyadari hal bodoh yang seharusnya tidak dilakukannya, Alka dengan cepat menjauhkan wajahnya dari Maura. Maura masih menatapnya, seolah meminta penjelasan apa yang dilakukan Alka saat ini padanya.
Menarik nafas panjang dan membuangnya kasar. Alka lantas berucap " Ini ciuman terakhir Abang Al untuk Maura. Dulu Abang Al mencium Maura saat Abang Al menjanjikan sesuatu. Sekarang Abang Al mencium Maura untuk mengakhiri janji yang Abang Al ucapkan pada Maura. " Walaupun sekuat tenaga, Maura menahan airmata yang sudah menganak diujung matanya, namun air mati itu lolos dengan indah, melewati pipi dan berakhir jatuh ditangannya. Dengan gerakan kasar Maura menghapusnya.
" Maura pulang yah. " Pinta Alka padanya.
Apa Abang Al barusan mengusirnya?
" Apa Maura jadi beban disini? " Tanya gadis itu. Kali ini dia tidak akan menatap Alka.
"Bukan, bukan seperti itu. Abang Al hanya... " Menggantungkan kalimatnya.
Abang Al tidak ingin semua usaha abang selama ini sia - sia. Abang Al sudah tidak bisa menahannya lagi Maura. Abang Al sakit, jika harus melihatmu tiap hari. Apalagi harus merelakanmu dengan orang lain, Abang Al tidak bisa.
"Hanya apa Abang Al? " Maura bertanya, karena Alka tidak menyelesaikan kalimatnya.
"Abang Al hanya tidak ingin Vio cemburu. " Jadi Alka berusaha menjaga perasaan pacarnya. Bagaimana dengan perasaannya. Alka bahkan sudah menghancurkan kepingan hatinya yang tersisa.
"Abang Al tidak usah kuatir. Besok Maura akan pergi dari rumah ini. " Jawab Maura langsung berlalu meninggalkan Alka.
__ADS_1