
Saat melihat Violin yang menyusulnya ke Meja makan, entah apa yang dipikirkan Alka sehingga dia langsung berdiri dari duduknya dan menarik Violin menjauh dari meja makan yang ada keluarganya dan juga keluarga Maura yang sedang makan malam bersama.
"Kamu kenapa datang kesini tanpa memberitahu aku sebelumnya." Alka melepaskan pergelangan tangan Violin yang ditariknya dari meja makan.
" Apa aku harus minta ijin dulu sama kamu tiap kali aku mau datang kesini? " Violin merasa Alka tidak suka dengan kedatangannya.
"Bukan begitu Vi, setidaknya jika kamu memberitahu aku, aku bisa kasih tahu bunda kalau kamu itu mau kesini. " Alka berusaha mencari alasan yang tepat agar Violin tidak tersinggung dengan ucapannya. Biar bagaimana pun Alka telah berjanji tidak akan meninggalkan gadis itu.
"Aku itu hanya kangen kamu saja, makanya aku belain datang kesini. "Violin merangkul Alka, namun Alka berusaha menghindar.
"Maaf Vi, nggak enak kalau dilihat orang." Syukur gadis itu percaya ucapan Alka. Padahal Alka memang berusaha menjaga jarak dengannya. Walaupun Alka sering sekali menyakiti hati Maura dengan sikapnya, namun Alka akan berusaha menjaga perasaan Maura didepan keluarganya.
"Besok temanin aku belanja yah? " Belum juga Alka mengiyakan ucapannya, Giska sudah lebih dulu yang menjawab. "Abang Al nggak bisa, besok kita ada acara keluarga. " Giska memang tidak suka dengan Violin. Makanya tadi dia cepat - cepat menyelesaikan makan malamnya dan menyusul Alka dan juga Violin diruang tamu. Dia tidak ingin membiarkan Violin berduaan dengan abangnya.
"Benar itu Al? " Violin memastikan.
" Kamu nggak percaya? " Giska lagi - lagi yang bersuara.
"Kalau begitu aku boleh ikut yah Al? " Ucap Violin, meraih lengan Alka.
" Besok itu acara keluarga. Kamu kan bukan bagian keluarga kami. " Menjeda ucapannya, menatap Violin yang tidak suka dengan ucapannya barusan.
"Aku kan pacarnya Alka, lagian aku bakal jadi bagian keluarga kalian. " Violin sangat yakin itu. "Baru calon yah neng. Itupun kalau kesampean. " Giska berucap cuek, tidak perduli ucapannya akan menyinggung Violin.
__ADS_1
"Al..." Violin meminta bantuan pada sang pacar.
"Iya kamu boleh ikut." Violin berbinar. Sedangkan Giska menatap kesal sang Abang.
"Abang dia itukan.... " Giska berhenti berucap saat melihat Maura datang mendekati mereka.
"Ra..." Giska seperti mendapat bala bantuan.
"Abang Al mau ngajakin dia ke puncak, bareng kita. " Mengadu pada Maura. Maura sekilas menatap Alka, kemudian tersenyum menatap Violin. "Dia kan pacarnya abang Al, wajarlah kalau abang Al ngajakin pacarnya." Giska tidak habis pikir dengan Maura. Bukannya dia mencintai Alka, tapi kenapa dia seperti mendukung Alka dan Violin.
"Aku tahu yang kamu pikirkan kak Giska, aku hanya berusaha terlihat baik - baik saja. "
"Tapi Ra. " Giska sepertinya belum rela kalau Violin ikut mereka ke Villa keluarga yang ada di puncak.
Setelah meminta persetujuan dari keluarganya, Alka akhirnya mengijinkan Violin untuk ikut mereka ke puncak. Itupun Maura juga yang meyakinkan Aluna. Karena Alunalah yang sedikit keberatan dengan keikutsertaan Violin, setelah Giska.
***
"Udah semua? " Arka memastikan semua barang yang mereka perlukan saat di puncak nanti.
"Udah ayah, ini tinggal nunggu Vio. Bentar lagi katanya nyampe. " Alka menjawab.
"Bikin terlambat aja. " Giska menimpali. Dia sepertinya masih belum rela, kalau Violin ikut. Padahal dipuncak nanti kalau tidak ada Violin, Giska akan mendekatkan Maura dengan abangnya. Menyusun rencana, agar abangnya mengakui perasaannya pada Maura. Karena Giska tahu, Alka juga menyukai Maura.
__ADS_1
"Maaf, aku terlambat. " Violin sudah datang dengan koper kecil berisi keperluannya selama di puncak nanti.
"Kalau begitu semuanya sudah siap, kita bisa berangkat sekarang? " Arka memastikan.
"Sudah ayah. Kita bisa pergi sekarang. " Lagi - lagi Alka menjawab, sambil memasukan koper milik Violin kedalam bakasi mobilnya. Mereka hanya membawa dua mobil saja. Satu mobil yang akan dikendarai oleh Arka, akan ditumpangi oleh Aluna, Santi dan Bryan. Sedangkan mobil satuny, yang akan dikemudikan Alka, akan ditumpangi Giska, Violin dan Maura.
"Tunggu sebentar, aku juga mengundang seseorang untuk ikut ke puncak. " Alka mengeryitkan dahinya mendengar ucapan Maura. Siapa yang Maura undang?
"Itu dia orangnya. " Terlihat seorang pria mengendarai sebuah motor gede dengan memakai jaket kulit hitam dan kacamata hitam sebagai asesorisnya.
"Aku belum terlambat kan? " Ucap Rama membuka helm miliknya kemudian mengambil satu helm dan menyerahkannya pada Maura.
" Ibu, aku kepuncaknya naik motor aja yah. Sekalian aku pengen liat pemandangan. " Santi yang sudah tahu tentang hari ini dan tentang pria itu hanya bisa mengiyakan keinginan putrinya.
"Udara di Jakarta itu panas, belum lagi debu dimana - mana. Kulitmu bisa rusak. " Alka memperingati Maura agar tidak menggunakan kendaraan beroda dua itu untuk ke puncak. Alasannya sih demi kesehatan kulit Maura, tapi dia sebenarnya tidak suka melihat kedekatan Maura dengan Rama.
"Santai aja Al, Jaket kulit ini nggak bakalan nembus kulit cantik Maura. " Alka sungguh terkejut, Rama bahkan membawakan jaket yang model dan warnanya senada dengan milik Rama. Bedanya milik Maura lebih kecil dibandingkan milik Rama.
"Kamu yakin Ra mau naik motor?" Alka masih ingin meyakinkan gadis itu. Maura hanya mengangguk.
Akhirnya Alka menyerah, dia kali ini membiarkan Maura berboncengan dengan Rama.
"Kalian duluan. " Ucapnya yang sudah mulai menyalahkan mesin mobilnya. Giska hanya bisa menahan senyum, melihat abangnya yang terlihat tidak bersemangat. Padahal ada Violin disampingnya.
__ADS_1