
Didalam kamar Arka kembali memeriksa beberapa email yang masuk diakunnya. Salah satunya email dari Hendra pemimpin perusahaan Trijaya.
" Tuan Arka bagaimana kerjasama kita? " Itu isi email dari Hendra. Hendra bahkan tidak bertanya mengapa sampai Arka menarik gadis pelayan cafe tadi dan bahkan setelahnya Arka dan gadis itu tidak kembali lagi ke cafe. BagI Hendra kerjasama disetujui oleh Arka adalah tujuan utamanya. Setelah membaca email dari Hendra, Arka menaruh kembali laptop miliknya.
" Kenapa dia belum juga kesini? " Gumam Arka karena sedari tadi Aluna belum juga ke kamar setelah makan malam mereka. Arka kemudian turun lagi ke lantai bawah dan dia melihat Aluna yang duduk di sofa ruang tamunya dengan memainkan ponsel miliknya.
"Apa kau senyaman itu dengan baju yang seharian ini kau pakai? Apa kau seorang wanita?" Tanya Arka yang membuat Aluna menatap baju kerja yang sedari pagi dipakainya.
"Aku tidak membawa baju ganti. " Jawab Aluna datar. Aluna ingat pertama Aluna datang kerumah Arka karena Frans yang menjemputnya ditempat kerja dan langsung menuju tempat pernikahannya dan ayah Ardian langsung mengajaknya tinggal dirumah Arka. Kemudian hari ini bahkan masih jam kerjanya, Arka menarik dan membawanya pulang dengan paksa. Jadi wajar jika dia memang tidak memiliki baju ganti. Sedangkan baju yang sebelumnya dibeli Frans, mungkin sudah dicuci oleh pelayan rumah Arka.
" Pergilah ke kamar dan bersihkan tubuhmu. Frans sudah menyiapkan semua perlengkapan mandi dan juga beberapa lembar baju yang bisa kau pakai untuk sementara." Arka kembali mengatakannya dengan nada lembut membuat Aluna menuruti apa yang dikatakan Arka dan lagi pula badannya memang sudah terasa sangat lengket.
Setelah Aluna pergi ke kamar dia melihat paper bag dan juga tas plastik yang berada diatas kursi sesuai intruksi dari Arka.
"Sekertaris itu bahkan tahu ukuran baju dalam aku. Bikin malu saja." Gumam Aluna kemudian dia tersenyum membayangkan bagaimana sekertaris yang kurang bicara itu, mengambil bahkan membayar di kasir perlengkapan wanita yang semuanya serba pink itu.
"Aku harus mengucapkan terima kasih padanya, karena telah bersusah payah menyiapkan semua ini untukku." Ucap Aluna mengambil semua kebutuhan mandinya dan membawanya ke kamar mandi.
Sudah satu jam berlalu Arka yang tadinya memilih duduk di sofa ruang tamu setelah Aluna pergi ke kamarnya untuk mandi. Arka sudah merasa ngantuk dan dipikirnya Aluna sudah selesai mandi dan sudah tidur duluan dikamarnya.
Sesampainya dikamar Arka tidak melihat Aluna. Bahkan tidak terdengar suara air dari dalam kamar mandi jika Aluna masih mandi.
"Dimana gadis itu? Apa dia ketiduran dikamar mandi?" Arka mulai menduga - duga. Arka menghampiri pintu kamar mandi dan mengetuknya.
"Apa kau masih didalam?" Tanya Arka ragu - ragu.
__ADS_1
"Iya tuan, Aku masih didalam." Sahut Aluna dari dalam kamar mandi.
Arka mulai beranjak dari pintu kamar mandi setelah dia memastikan bahwa Aluna masih berada didalamnya.
"Tuan." Arka menghentikan langkahnya ketika Aluna memanggilnya.
"Ada apa?" Tanyanya.
"Apakah aku boleh minta tolong?" Ragu - ragu Aluna mengatakannya karena dia tahu Arka tidak pernah disuruh oleh seseorang untuk melakukan sesuatu.
"Katakan." Sahut Arka.
"Bisakah tuan keluar dari kamar dan kembali beberapa menit lagi." Arka mendengarnya menjadi kesal. Baru kali ini ada orang yang mengusirnya dari kamarnya sendiri.
"Apa kau cari mati. Kau ingin mengusirku dari kamarku sendiri? Hei nona apa aku terlalu bersikap baik padamu, sehingga kau mulai kurang ajar kepadaku." Ucap Arka dengan suara sedikit keras membuat Aluna menelan salivanya kasar.
" Kau begitu ceroboh. Apa kau lupa bahwa kau tinggal bersama seorang pria. " Kesal Arka dengan gadis yang membuat harinya tidak tenang.
" Keluarlah dan cepat ganti bajumu. Aku akan keluar sekarang." Ucapnya lagi dan kemudian dia beranjak keluar menuju ruang perpustakaan yang berada tidak jauh dari kamarnya.
Setelah mengintip dan memastikan Arka tidak ada didalam kamar, Aluna segera keluar dan mengunci dari dalam pintu kamarnya dan setelah itu dia dengan cepat mengganti pakaiannya. Kemudian dia kembali membuka pintu kamar.
Setelah membaca beberapa halaman buku Arka benar - benar sudah sangat ngantuk. Arka kemudian kembali ke kamarnya dan melihat Aluna yang sudah tiduran di sofa sambil beberapa kali menguap.
Arka naik ke ranjang tidurnya untuk beristirahat. Karena dia juga sangat mengantuk. Namun kembali dia menunda tidurnya karena ponsel miliknya berdering.
__ADS_1
"Hallo ayah." Ternyata yang menghubungi Arka adalah Ardian ayahnya. Bahkan Ayahnya melakukan video call seperti biasanya.
"Hallo nak, Maaf ayah mengganggu malam - malam. " Ucap Ardian menatap wajah putranya dilayar ponselnya.
"Tidak apa - apa ayah. Arka malah senang ayah selalu menghubungi Arka." Arka tersenyum kearah ponsel yang langsung bisa dilihat ayahnya itu.
"Oh yah nak Luna mana? Ayah sudah lama enggak lihat dia. " Arka sontak kaget dan ekpresi wajahnya berubah.
"Kenapa kamu bingung seperti itu nak. Luna ada kan?" imbuh Ardian.
"Ada kok yah. Sebentar Arka panggilin. " Arka menutup layar ponselnya dan menghampiri Aluna.
"Ayah Ardian." Arka memberi isyarat dengan gerakan bibirnya kepada Aluna dan Aluna mengerti. Kemudian Arka memberikan ponsel kepada Aluna dan Arka kembali ke ranjangnya.
"Hallo ayah." Aluna tersenyum menyapa ayah Ardian yang sudah menjadi ayah mertuanya.
"Hallo nak. Loh kenapa kamu tiduran di sofa?" Tanya Ardian dengan mimik yang kuatir.
Sedangkan Arka yang masih bisa mendengar suara ayahnya dari ranjang sontak kaget. Arka berharap Aluna tidak salah bicara dan menimbulkan kecurigaan ayahnya.
"Aluna hanya tiduran saja ayah. Sebentar lagi Aluna akan kembali ke ranjang." Aluna kemudian bangun dari tidurnya dan mulai menghampiri ranjang dimana ada Arka yang sudah tiduran disana. Aluna kemudian tidur disamping Arka untuk meyakinkan ayah mertuanya.
Setelah selesai berbicara dengan Aluna, Ardian kembali berbicara dengan Arka dan mereka berbicara cukup lama. Sampai Ardian melihat putranya beberapa kali menguap karena sudah sangat ngantuk dan Ardian mengakhiri panggilan teleponnya. Arka kemudian menaruh ponsel miliknya diatas nakas dekat ranjangnya dan melihat kearah Aluna yang ternyata sudah ketiduran menunggu Arka dan ayah Ardian selesai bicara.
"Apa kau tidak memiliki tingkat kewaspadaan tinggi? Kau bahkan dengan nyamannya tidur disamping seorang pria. Kau sebenarnya gadis seperti apa?" Gumam Arka pelan, sambil menyingkirkan sedikit rambut Aluna yang menutupi wajah cantiknya.
__ADS_1
Arka kemudian menarik selimut dibawah kakinya menyelimuti Aluna dan dirinya. Setelah itu dia juga tertidur.