
Sudah seminggu berlalu namun Arka belum juga menemukan Aluna. Seluruh anak buahnya telah dia kerahkan untuk mencari keberadaan Aluna. Namun sepertinya Aluna bersembunyi dengan sangat baik.
Arka sudah mencari dikontrakan Santi namun Aluna tidak ada disana. Arka juga sudah menelpon ibu Asmita namun sebelum Arka bertanya, ibu Asmita lebih dulu menanyakan dimana Aluna membuat Arka menyadari bahwa Aluna tidak pulang ke kampung halamannya. Santi juga mengatakan bahwa semenjak kembali dari kampung, Aluna tidak pernah menemui dan menghubunginya.
"Dimana kamu Luna? " Arka memukul setir mobilnya, wajahnya terlihat kusut bahkan penampilannya sekarang berbeda jauh dari penampilan sebelumnya. Bahkan Arka tidak makan dengan baik karena waktunya sekarang dia fokuskan untuk mencari Aluna.
Sebulan telah berlalu., namun Arka tidak kunjung menemukan Aluna.
Di senja itu seorang gadis membawa nampan berisi makanan. Gadis itu tak lain ialah Aluna. Semenjak kepergiannya dari rumah Arka Aluna tinggal dipinggiran kota. Untuk mencukupi kebutuhan hidupnya Aluna bekerja di rumah makan dekat pantai tak jauh dari tempat tinggalnya sekarang. Walaupun terletak jauh dari kota, namun warung makan itu terlihat ramai setiap harinya. Karena lokasinya tidak jauh dari pantai yang merupakan tempat wisata siapapun ingin menghabiskan waktu liburnya.
"Hei kau, antar ini ke meja itu. " Tunjuk Nita salah satu pelayan yang sudah lama bekerja dirumah makan yang saat ini menjadi tempat Aluna bekerja. Semenjak Aluna diterima kerja dirumah makan tersebut, Nita memang sudah terlihat tidak bersahabat dan tidak menyukai Aluna.
__ADS_1
Aluna kemudian mengambil nampan berisi makanan dan membawanya ke meja yang ditunjuk Nita padanya.
"Hei kau jangan genit - genit dengan tamu yang datang disini, mereka itu tidak suka padamu dan satu lagi jangan dekatin tuan Alan, dia hanya milikku. " Seru Nita pada Aluna yang sudah kembali kebagian dapur. Pemilik rumah makan ini memang masih muda dan cukup tampan. Nita sudah menyukainya sangat lama namun tidak pernah direspon Alan. Tapi semenjak Aluna datang, Alan selalu bersikap baik kepada Aluna membuat Nita semakin tidak suka dengan kehadiran Aluna.
"Tenang saja, aku tidak menyukai tuan Alan. Aku sudah memiliki seseorang dihatiku. " Ucap Aluna mulai membersihkan piring kotor.
"Seseorang? Pastinya dia tidak setampan tuan Alan. Tuan Alan benar benar tampan. " Nita setengah berhayal. Namun Aluna tidak mengubrisnya. Aluna lebih memilih mengerjakan pekerjaan daripada harus meladeni Nita.
" Bagaimana kabarnya sekarang? Apa dia merindukan aku? " Gumam Aluna dalam hati. Lamunannya buyar ketika Nita menyiramnya dengan air.
"Hei kau disini dibayar untuk bekerja bukannya melamun. " Teriak Nita.
__ADS_1
"Ada apa ini? " Tanya Alan melihat kearah Aluna dan Nita.
"Tidak apa - apa tuan. Aluna tidak bekerja dengan hati - hati. Makanya air kran mengenai bajunya. Iyakan Aluna? " Ucap Nita memberi isyarat kepada Aluna agar Aluna tidak mengatakan yang sebenarnya.
"Maaf tuan saya tidak hati - hati tadi. " Ucap Aluna.
"Tidak apa - apa. Lain kali hati - hatilah. Sekarang kau boleh pulang." Ucap Alan namun Aluna mengatakan bahwa dia akan pulang selesai dia bekerja.
"Hei sekarang kau bersihkan lantai yang basah itu. " Tunjuk Nita pada lantai yang basah karena siraman air akibat ulahnya.
Setelah semua pekerjaannya selesai Aluna kembali ke tempat yang dia sewa selama sebulan ini. Rumah kos dengan ranjang kecil seperti miliknya dikampung.
__ADS_1