
Aluna semakin bingung dengan sikap Arka padanya. Setiap Aluna bangun tidur, Arka yang selalu bangun lebih dulu tidak pernah beranjak dari ranjangnya. Arka selalu memandang wajah Aluna selama Aluna tertidur.
Selalu menunggu Aluna sarapan bersama dan berangkat bekerja bersama, walaupun jarak perusahaanya dengan tempat Aluna bekerja cukup jauh, namun Arka selalu meminta Frans untuk mengantar Aluna lebih dulu ke cafe tempatnya bekerja. Kemudian mengantar dirinya ke perusahaan.
"Tuan saya sudah menemukan siapa pemilik mobil yang berusaha menabrak nona Aluna hari itu. " Ucap Frans sambil mengeluarkan beberapa lembar foto dari map bewarna coklat, menyerahkannya kepada Arka.
"Ternyata dia. " Arka mencekam erat foto perempuan yang baru saja turun dari mobil yang dibuntuti orang suruhan Frans.
"Frans jangan beritahu hal ini kepada Aluna. Aku ingin kau buat janji dengan perempuan ini, malam ini juga. Aku ingin bicara dengannya. " Seperti biasa Frans hanya mengiyakan suruhan tuan mudanya.
Setelah mendapat persetujuan dari perempuan itu, akhirnya Arka dan juga Frans bergegas menuju tempat yang diinginkan perempuan itu untuk bertemu. Perempuan itu tak lain ialah Fiona.
"Ada perlu apa kau ingin bertemu denganku? " Ucap Fiona dengan gaya bicara sombongnya.
"Wah aku suka orang yang tidak suka basa basi. " Arka tersenyum, bahkan senyumnya seperti menyerigai.
"Aku juga bukan tipekal orang yang suka basa basi. Jadi dengarkan aku baik - baik. Karena aku tidak akan mengulang kata - kataku. " Senyumnya berubah menjadi tatapan sinis kearah Fiona.
"Jika sekali lagi kau berani menyentuh istriku, akan kupastikan kau bahkan tidak bisa melihat matahari lagi." Arka menekan setiap kata - katanya. Fiona yang mendengarnya menjadi geram, bahkan dia tidak takut sama sekali.
"Apa aku tidak memiliki kerjaan, sehingga aku harus berurusan dengan perempuan kampung itu? " Fiona tidak tahu kalau Arka sudah tahu bahwa dirinya hendak mencelakai Aluna.
__ADS_1
Arka mengambil beberapa lembar foto dari map yang diserahkan Frans yang masih setia berdiri disamping tempat duduk Arka dan melempar foto itu tepat didepan Fiona. Fiona melihat lembar tiap lembar foto yang ada di depannya. Semuanya foto tentang dirinya yang masih mengenakan masker, sampai dirinya membuka masker.
"Sekali lagi kau menyentuh sehelai rambut istriku, maka akan kupastikan kau akan menggunakan kakimu untuk makan. " Pungkas Arka sudah berdiri mengibaskan jas yang dipakainya dan berlalu pergi meninggalkan Fiona yang masih mengamati foto - fotonya, m*remasnya dan menghempaskannya ke lantai.
" Perempuan kampung, aku benci padamu. " Teriaknya histeris. Untung ruangan yang menjadi pertemuannya dengan Arka tertutup dan kedap suara jadi dia bisa berteriak semaunya.
Setelah pertemuannya dengan Fiona, Arka meminta Frans untuk mengantarnya kerumah. Namun dari jauh didaerah dekat rumahnya sepertinya ada pemadaman listrik. Hanya beberapa rumah yang terlihat terang, karena mungkin mereka menggunakan mesin genset.
Arka tiba - tiba gelisa dan menyuruh Frans melajukan mobilnya. Arka berharap pengawalnya telah menyalahkan mesin genset dirumahnya. Namun mendekati kawasan rumahnya, rumah itu terlihat gelap. Hanya samar - samar terlihat penerang yang mungkin berasal dari cahaya lilin.
Arka turun dari mobilnya dengan tergesa - gesa. "Kenapa kalian tidak menyalahkan mesin genset? " Tanyanya kepada pengawal yang berlari kearahnya menggunakan senter.
"Luna..." Panggil Arka ketika ia telah sampai dikamarnya. Nyala senter dia arahkan ke ranjang namun tidak ada Aluna disana.
"Luna... " Semakin panik.
"Arka apakah itu kamu? " Suara Aluna terdengar pelan namun masih bisa didengar Arka.
"Iya ini aku. Kau dimana? " Tanyanya memastikan dari mana asal suara Aluna.
"Aku didalam lemari ruang ganti. Tolong jemput aku kesini. " Arka setengah berlari menghampiri ruang ganti dekat kamar mandi. Benar saja gadis itu meringkuk di sudut lemari baju tanpa mengenakan pakaian dan hanya terlihat handuk melilit ditubuhnya. Badannya keringat dingin, tubunhya bergetar karena ketakutan. Arka mengeluarkan pelan Aluna dari dalam lemari, Arka menaruh tangannya diatas kepala Aluna, agar kepala Aluna tidak terbentur.
__ADS_1
Setelah sudah diluar lemari, Aluna seketika memeluk Arka dan menangis sejadi jadinya.
Arka berusaha menenangkannya dengan mengusap lembut punggung gadis yang masih bisa dirasakan Arka getaran tubuhnya.
"It's ok. Ada aku disini. Aku akan menjagamu." Setelah merasa Aluna sudah sedikit tenang Arka kembali berucap."Bisakah kau melepaskan sebentar pelukanmu. Kita bisa melanjutkannya diranjang jika kau mau. Tapi sekarang aku harus mencari pakaianmu terlebih dulu. " Arka berusaha mencairkan suasana dengan cara menggoda Aluna. Aluna melepaskan pelukannya dan Arka meraih tangan Aluna dan memasukkan jarinya disela - sela jari Aluna. Arka mengambil pakaian Aluna didalam lemari dan menyerahkannya kepada Aluna.
"Pakailah, kau bisa masuk angin nanti. " Aluna mengambil baju yang diberikan Arka padanya. "Aku ganti baju dimana? " Karena Aluna tidak akan berani jauh dari Arka dalam keadaan gelap seperti ini.
"Kau bisa ganti baju disini. Aku tidak akan melihatmu, lagi pula ini gelap. " Ucap Arka. Aluna menuruti saja apa yang dikatakan Arka. Baru kali ini, dirinya ganti baju didepan Arka. Dalam kegelapan Arka mengamati setiap gerakan gadis yang sudah menjatuhkan handuk dilantai dan dengan cepat2 memakai pakaiannya.
"Aku sudah selesai. " Ucap Aluna mengambil handuk dilantai. Arka hanya tersenyum kearah gadis yang sepertinya tengah malu itu.
"Luna aku akan mandi sebentar. " Seru Arka ragu - ragu karena Aluna pasti akan takut jika ditinggal sendiri didalam kamar. Namun jika dirinya menunggu lampu menyala, badannya sudah sangat lengket.
"Aku ikut. Aku takut disini sendiri. " Aluna meraih tangan Arka seperti anak kecil yang merengek ingin diajak bermain.
Arka menarik nafasnya panjang dan membuangnya kasar.
"Baiklah kau boleh ikut. Tapi kau berdiri di pojokan kamar mandi, agar air tidak mengenaimu. " Aluna mengiyakan apa yang dikatakan Arka.
Mereka berdua kemudian menuju kamar mandi. Aluna sudah berdiri di pojokan agak jauh dari tempat Arka mandi. Suara air mulai terdengar memecah keheningan yang ada. Arka menutup matanya menikmati siraman air yang jatuh diwajahnya. Seketika Aluna berteriak, membuat Arka langsung membuka matanya. Ternyata Lampu sudah menyala dan Aluna jelas - jelas melihat tubuh Arka yang tidak mengenakan apapun. Aluna berteriak dan langsung menerobos pintu keluar kamar mandi. Arka hanya tersenyum melihat tingkah istrinya.
__ADS_1