
Akhirnya sore itu Aluna resmi menikah dengan Arka. Walaupun Ardian tidak setuju karena pernikahan Arka hanya dihadiri beberapa orang saja dan dilaksanakan hanya seadanya saja dan tertutup, Ardian tidak banyak berkomentar. Baginya Aluna sudah resmi menjadi istri Arka sudah sangat bersyukur. Urusan resepsi pernikahan biarlah nanti dia mencoba membujuk Arka lagi.
"Selamat yah Luna telah menjadi nyonya Arka Arya Wiguna dan selamat datang dikeluarga Wiguna." Ucap Ardian tulus sambil menyodorkan tangannya.
"Terima kasih om." Aluna menjabat tangan Ardian.
"Loh kenapa masih panggil om. Mulai sekarang panggil ayah. Luna sudah jadi menantu ayah." Ardian tersenyum kearah Aluna.
"iya a...yah." Rasanya Aluna masih kaku memanggil Ardian dengan sebutan ayah.
"Nah begitu baru benar. " Ardian menepuk lembut pundak menantunya. Sedangkan Arka terlihat membahas sesuatu dengan sekertaris Frans yang juga hadir menyaksikan pernikahan tuannya.
"Ayah aku akan kembali ke kantor." Ucap Arka yang menghampiri ayah dan istrinya.
"Loh ini hari pernikahanmu seharusnya kau mengajak istrimu pulang ke rumahmu atau jangan - jangan kalian hanya mempermainkan ayah dengan berpura - pura menikah. Seru Ardian menatap kesal Arka. Sedangkan Aluna lebih memilih diam.
"Bukan begitu ayah. Arka hanya ingin mengadakan rapat untuk membahas beberapa pekerjaan. " Hanya itu jawaban yang terlintas di pikiran Arka. Dia tidak ingin ayahnya banyak berfikir dan membuatnya jatuh sakit lagi.
"Iya ayah. Arka juga sudah ijin sama Luna." Akhirnya Aluna berinisiatif membantu Arka bicara dengan Ardian.
"Bahkan dia sudah memanggil ayah dan sejak kapan aku perlu ijinnya untuk melakukan sesuatu." Gumam Arka melihat Aluna.
"Oh begitu. Kalau begitu pergilah. Biar ayah yang mengajak Aluna ke rumah."
Setelah itu Arka mengajak Frans ke perusahaan.
Akhirnya Ardian dan Aluna sampai dirumah Arka. Ardian mengajak Aluna masuk dan menunjuk kamar Arka untuk Aluna istirahat. Aluna pun masuk dan Ardian meninggalkan Aluna untuk bisa beristirahat. Aluna menatap heran kamar Arka.
"Kamarnya besar sekali. Bahkan rumahku di kampung tidak sebesar kamar ini. Ah ngomong apa sih aku. Rumahku tetap yang paling nyaman dari apapun yang ada didunia ini. Walaupun kecil tapi aku selalu bahagia tinggal disana. Aku rindu rumah." Aluna mulai menghapus butiran air mata yang mengalir dipipinya.
__ADS_1
Karena tadi sekertaris Frans menjemputnya di cafe jadi Aluna tidak memiliki baju ganti. Aluna memilih duduk di sofa berwarna biru yang ada di sudut kamar itu.
Pukul 10 malam Arka baru sampai dirumahnya. Arka melihat ayahnya yang duduk diruang tamu rumahnya. Arka kemudian menghampiri ayahnya.
"Dimana perempuan itu?" Gumam Arka yang melihat kesemua arah dan tidak ditemuinya Aluna.
"Kenapa kamu pulang jam segini?" Ucap Ardian menatap marah Arka.
"Maaf ayah. Ada klien yang mengajak makan malam tadi sambil membicarakan pekerjaan.Makanya Arka baru pulang jam segini." Jawab Arka sambil melonggarkan dasinya.
"Yah udah sekarang temui istri kamu, minta maaflah padanya. Dia belum keluar kamar dari tadi." Seru Ardian menepuk pundak anaknya.
"Baiklah Arka ke kamar dulu." Arka meninggalkan ayahnya menuju kamarnya.
Sampai dikamar Arka melihat Aluna tertidur di kursi sofa masih menggenakan baju yang dipakainya menikah tadi.
"Arka tidak membangunkan Aluna. Arka lebih memilih membersihkan diri dikamar mandi. Setelah selesai mandi Arka memakai pakaiannya dan naik ke tempat tidurnya.
Arka yang menyadari Aluna telah bangun langsung menatap Aluna.
"Apa kau sejorok itu?" Ucap Arka menatap Aluna.
"Aku tidak memiliki baju ganti. Dari cafe aku langsung ke tempat kita menikah dan langsung diajak kesini. Makanya aku belum mandi dan ganti baju." Seru Aluna yang paham maksud Arka.
"Kenapa kau sebodoh itu. Kamu kan bisa minta ijin ayah untuk pergi ke tempatmu untuk mengambil pakaianmu." Aluna sejenak berfikir apa yang dikatakan Arka ada benarnya juga.
"Kenapa aku sebodoh itu yah." Gumam Aluna yang masih bisa didengar Arka.
"Dasar bodoh." Arka berkata pelan namun masih bisa didengar Aluna. Kemudian Arka mengirim pesan kepada sekertaris Frans.
__ADS_1
Setelah beberapa saat Frans sudah sampai dirumah Arka dengan beberapa paper bag ditangannya.
Sekertaris Frans mengetuk pintu kamar Arka. Arka yang tahu bahwa itu sekertaris Frans langsung menyuruh Aluna membukakan pintu.
"Nona ini pakaian Anda." sekertaris Frans menyodorkan semua paper bag ditangannya.
"Terima kasih tuan." Ucap Aluna tulus dan kembali mengunci pintu kamar setelah sekertaris Frans berpamitan kepadanya.
"Apa dia yang menyuruh sekertaris Frans untuk membawakan aku baju. Dia ternyata masih memiliki hati. Gumam Aluna menatap Arka yang tetap fokos dengan hpnya.
"Kenapa kau masih menatapku? Apa kau mau aku yang memandikanmu? " Ucap Arka yang menatap kesal kepada Aluna.
"Tidak tuan, saya bisa mandi sendiri. Aluna meraih salah satu paper bag dan masuk kedalam kamar mandi.
Arka hanya tersenyum penuh kemenangan melihat Aluna yang lari kearah kamar mandi. Bahkan sepertinya Aluna menabrak pintu kamar mandi.
Selesai mandi Aluna memakai baju yang sudah diambilnya dari paper beg.
"Bahkan baju tidur saja harganya semahal ini? " Gumam Aluna menatap bon belanjaan didalam paper beg.
"Tuan terima kasih untuk bajunya. " Ucap Aluna tulus kepada pria yang sudah menjadi suaminya itu. Arka tidak menjawab, dia tetap fokus pada hp ditangannya.
Karena tidak mendapat jawaban dari Arka, Aluna pun hendak keluar kamar.
Aluna mencari makanan di dapur karena sedari tadi dia belum makan. Ada beberapa menu makanan yang tersimpan di lemari es. Aluna mengambil ayam kecap dan memanaskannya. Setelah itu Aluna makan dengan lahapnya.
Setelah dirasa perutnya sudah kenyang Aluna membersihkan piring bekas makannya dan meletakkannya ditempatnya.
Kemudian dia kembali ke kamar dan ternyata Arka sudah tidur diranjangnya.
__ADS_1
"Syukurlah dia sudah tidur." Gumam Aluna. Kemudian Aluna mengambil ponselnya dan memberi kabar kepada Santi bahwa dirinya menginap dirumah suaminya. Setelah mendapat balasan dari Santi Aluna meletakkan ponsel miliknya di meja kemudian dia tidur di sofa.