Aku Ternyata Sangat Mencintainya

Aku Ternyata Sangat Mencintainya
BERTEMU


__ADS_3

"Luna kita mau kemana? Tanya Santi yang sudah turun dari taxi online bersama Aluna.


"Aku akan mengajakmu makan malam. " Ucap Aluna mengajak sahabatnya masuk kedalam sebuah Restoran. Sebelum pergi tadi Arka meninggalkan kartu Atmnya pada Aluna.


Mereka memilih makan di Restoran jepang karena setahu Aluna, Santi suka sekali makanan Jepang.


"Lun bukannya kamu tidak suka makanan.... " Santi bahkan belum menyelesaikan ucapannya, Aluna sudah memotongnya karena Aluna tahu apa yang akan dikatakan sahabatnya itu.


"Aku bisa pesan yang bisa kumakan. " Aluna kembali mengingat pria yang mengatakan bahwa dirinya bisa memesan daging yang bisa dipanggang dan dibakar sendiri.


"Luna...?" Suara seorang pria yang Aluna sangat hafal. Pria yang sedang berjalan masuk ke dalam Restoran itu. Pria itu tak lain pria yang baru saja diingat Aluna. Bryan Wijaya.


"Waow dunia ini kecil yah, selalu saja bertemu dirimu. " Ini suara seorang wanita. Fiona yang baru masuk, langsung mengapit lengan Bryan. Ternyata bukan hanya mereka berdua yang akan makan malam ditempat itu melainkan seluruh keluarga mereka. Hendra, Indra Wijaya dan juga Ningsi turut hadir menyusul Bryan dan Fiona.


"Lun kita makan ditempat lain yuk. " Ajak Santi dan diangguki Aluna. Namun lagi - lagi Fiona menghadang kedua gadis itu.


"Kalian mau kemana? Bukankah kalian baru mau makan. Sini bergabung dengan kami. Anggap saja ini merayakan pernikahan kami. " Pura - pura bersikap mania. "Kau sudah melupakan Bryan kan Aluna? " Ucap Fiona dengan tersenyum dan Bryan berusaha melepaskan lengannya namun Fiona semakin mengeratkan tangannya.


"Apa yang kau lakukan dan coba bicarakan. Jangan membuat aku muak dengan tingkahmu. " Bryan menekan kata - katanya, setengah berbisik kepada Fiona.

__ADS_1


Semuanya sudah duduk dikursi masing - masing. Hanya Aluna dan Santi yang masih berdiri. "Duduklah nak. " Ucap Ningsi kepada Aluna dan Santi. Akhirnya keduanya pun ikut duduk.


"Oh yah dimana pria yang mengaku suamimu itu? Apakah dia sudah selesai bermain denganmu. " Ucap kembali Fiona dan mendapat tatapan tidak suka oleh Bryan. Aluna bergeming. Memilih tidak menjawab pertanyaan Fiona.


"Aluna apakah kau masih ingat kita pernah makan di Restoran Jepang dan kau tidak bisa makan makanan Jepang. Waktu itu kau masih pacarnya Bryan dan aku temannya Bryan. Tapi sekarang aku yang istrinya Bryan dan kau hanyalah... " Kata - kata Fiona terpotong ketika Bryan memukul meja. Semua orang kaget dan sontak melihat kearah Bryan.


"Baiklah. Aku tidak akan bicara lagi. " Fiona akhirnya diam dan mulai membuka buku menu yang sudah diberi pelayan Restoran. Aluna dapat melihat Bryan berusaha mengendalikan emosinya.


"Kalian mau pesan apa nak? " Tanya Ningsi kepada Aluna dan Santi yang sedari tadi diam saja.


"Apa saja Tante. " Jawab keduanya bersamaan.


Setelah beberapa saat makanan yang dipesan telah datang dan semua mulai menikmati makanan mereka, kecuali Aluna. Aluna menatap makanan yang ada dipiringnya sayur mentah dan hampir semua makanan itu tidak bisa dia makan.


"Lho kenapa tidak makan nak? " Tanya Ningsi kepada Aluna dan seketika Bryan melihat kearah Aluna dan makanan yang ada dipiring Aluna.


"Kau benar - benar keterlaluan. " Bryan berbicara pelan kepada Fiona yang duduk disampingnya. Sedangkan Fiona seolah olah tidak perduli. Aluna memang duduk didekat salah satu kursi kosong, kemudian Fiona dan Bryan. Bryan juga tidak mungkin menukarkan makanannya yang masih bisa dimakan oleh Aluna karena jarak duduk mereka yang sedikit jauh. Jika Bryan menyuruh pelayan mengganti makanan Aluna, Fiona pasti mempermalukan Aluna seperti waktu itu. Apalagi saat ini ada keluarga besarnya.


"Iya tante aku makan. " Jawab Aluna kemudian tangannya ditahan Santi yang mengelengkan kepalanya untuk Aluna tidak makan. Karena Aluna pasti akan mual. Bryan bahkan tidak tega melihat Aluna yang mulai mengangkat tangannya menyuapi daging setengah matang itu dengan ragu - ragu kearah mulutnya.

__ADS_1


Belum sampai daging itu kemulut Aluna, seseorang meraih tangan Aluna dan memakan daging yang ada ditangan Aluna.


"Sayang sepertinya makananmu sangat lezat. " Ucap Arka lalu duduk disamping Aluna meraih piring Aluna dan dengan lahap memakan semua makanan yang ada dipiring Aluna, tanpa sisa.


Semua orang bahkan kaget dengan kehadiran tuan muda itu. Arka ternyata sudah memperhatikan apa yang terjadi dari tadi. Disaat dia hendak mengantar kliennya tadi. Arka juga makan di Restoran yang sama namun beda ruangan dengan yang ditempati Aluna sekarang.


Hendra bahkan merasa kesal karena Arka benar - benar memutuskan kontrak kerja mereka. Namun dia tidak berani menunjukan wajah tidak bersahabatnya. Karena dia masih sangat berharap Arka bekerja sama dengan perusahaannya.


"Sayang maaf aku menghabiskan makananmu. " Ucap Arka menatap Aluna dengan tersenyum dan Aluna juga tersenyum dan mengatakan tidak apa - apa.


"Aku akan memesan satu lagi untukmu. " Ucap Arka dan memanggil seorang pelayan.


Setelah beberapa saat pelayan itu datang dengan sepiring nasi, ayam panggang dan sepiring udang saus tiram dan sekotak puding." Entah dari mana pelayan itu mendapatkan makanan yang bahkan tidak ada di buku menu. Bryan yang melihat makanan yang sudah disajikan didepan Aluna merasa lega dan juga kesal. Lega karena yang dipesan Arka semuanya adalah makanan kesukaan Aluna. Kesal karena mengapa harus Arka yang melakukan semua ini untuk Aluna.


Santi merasa senang dengan kehadiran Arka. Sedangkan Aluna bahkan merasa terharu melihat makanan yang ada dihadapannya.


"Semuanya makanan kesukaanku. Bagaimana Arka tahu semua ini? " Aluna menatap kearah Arka, Arka hanya tersenyum dan membelai lembut kepala Aluna.


"Makanlah. Setelah ini kita pulang. " Ucapnya dan diangguki oleh Aluna.

__ADS_1


Sementara Fiona gadis itu, tidak bisa berbuat apa - apa lagi. Bryan menghabiskan makanannya tanpa ingin menoleh kearah Aluna dan Arka. Sungguh dia tidak rela, Aluna bersama pria lain.


__ADS_2