
Aluna hari ini sudah kembali bekerja. Arka juga sudah membaik dan juga kembali bekerja di perusahaan.
Setelah jam makan siang Arka selalu mengajak Frans untuk makan siang dicafe tempat Aluna bekerja. Bahkan Arka tidak keberatan jika bukan Aluna yang melayaninya di cafe itu. Asalkan dia bisa melihat Aluna di cafe itu, Arka sudah merasa sangat senang. Kata - kata ayahnya untuk memperjuangkan cintanya membuat Arka melakukan apa saja untuk bisa terus bersama Aluna. Arka yakin dengan adanya kebersamaan maka cinta dengan sendirinya akan tumbuh.
"Frans kita ke cafe dulu. " Ucap Arka ketika dirinya dan juga Frans sudah meninggalkan area parkir perusahaannya. Setelah mengiyakan tuannya, Franspun melajukan mobil yang dibawanya dengan kecepatan sedang.
Setelah sampai di depan cafe, Arka dan Frans menunggu gadis yang mengenakan kaos merah dengan rambut yang diikat satu seperti ekor kuda itu untuk pulang bersama. Selang beberapa saat terlihat Aluna sudah berpamitan sambil melambaikan tangannya kepada teman - teman sekerjanya.
Aluna yang berjalan keluar cafe sambil bersenandung ria, menunggu taxi online yang dipesannya. Ketika Aluna hendak menyeberang jalan, ada mobil yang tiba - tiba datang dari arah depannya dengan kecepatan tinggi.
Aluna berteriak dan menutup kedua matanya ketika mobil itu sudah beberapa senti didepannya. Namun ada seorang pria yang menarik tangan Aluna, seketika keduanya jatuh ke sisi jalan lainnya menghindari mobil tadi.
"Apa kau bodoh. " Suara laki - laki dibawa tubuh Aluna menyadarkan Aluna. Aluna membuka perlahan matanya. Nafas memburu dari pria yang dibawah tubuh Aluna.Seperti seseorang yang baru selesai mengikuti lari marathon.
"Maaf" Ucap Aluna mulai bangun dari tubuh pria yang tak lain adalah suaminya itu.
Aluna seakan tidak bisa berdiri karena kaki yang digunakan sebagai pijakan, tidak mampu menopang seluruh tubuhnya. Kejadian barusan membuatnya gemetar.
Arka meraih tubuh Aluna dan berusaha menghilangkan kekesalan diwajahnya. Aluna seketika menangis sejadi - jadinya "Aku pikir aku sudah mati. " Aluna semakin terisak. Melihat Aluna menangis, Arka meraih tubuh Aluna dan memeluknya. Arka beberapa kali menepuk punggung gadis itu dan mengatakan " Maaf aku tidak bermaksud membentakmu. Aku hanya...... Sudahlah. Ayo kita pulang sekarang. " Ucap Arka menuntun Aluna kedalam mobil yang sudah mendekat kearah mereka.
***
Seorang perempuan dengan menggunakan masker dan topi memukul setir mobilnya.
__ADS_1
"Sial. Hampir saja aku menabraknya tadi. Siapa tadi yang menolong perempuan kampung itu. Aku bahkan tidak sempat melihat wajahnya. " Gumam seorang yang mengendarai mobil yang hampir menabrak Aluna tadi.
***
Arka dan Aluna sudah memasuki kamar mereka. Arka masih berusaha menenangkan perempuan dengan mata sembab itu.
"Istirahatlah, aku akan kebawah sebentar. " Arka meninggalkan Aluna didalam kamar. Sedangkan Arka menemui Frans yang sudah menunggunya ditaman samping rumahnya.
"Lacak mobil yang mencoba mencelakai Aluna." Seru Arka memberi perintah kepada sekertarisnya.
"Iya tuan, aku akan melacaknya. Karena aku yakin mobil tadi memang sengaja ingin menabrak nona Aluna. " Tambah Frans.
"Baiklah kau boleh pergi dan suruhlah pelayan mengantarkan makan malam kekamarku. " Setekah mengatakan hal itu, Arka kembali ke kamarnya. Sesampainya Arka dikamar, Aluna sudah mandi dan ganti baju.
Tidak butuh waktu lama untuk Arka membersikan tubuhnya. Setelah mengganti pakaiannya diruang ganti, Arka kembali menemui Aluna yang masih duduk diposisinya semenjak datang tadi. Duduk dikursi depan meja riasnya.
"Kenapa kau belum istirahat? Bukankah tadi aku menyuruhmu untuk istirahat? " Tanya Arka kepada Aluna.
"Aku harus istirahat dimana? " Pertanyaan Aluna membuat Arka tersenyum. Arka baru menyadari jika sofa yang ditempati Aluna selama ini telah disingkirkannya ke rumah belakang.
"Dimana sofa yang ada disitu? " Tunjuk Aluna penuh tanya kemana hilangnya sofa tempat favoritnya itu.
"Mataku sakit melihat warnanya. Makanya aku meminta Frans menaruhnya dirumah belakang. " Ucap Arka santai.
__ADS_1
" Mulai malam ini tidurlah di ranjang." Tambah Arka menatap kearah Aluna.
"Lalu tuan tidur dimana? " Tanya Aluna
"Aku juga tidur disini." Arka sudah duduk dan merebahkan tubuhnya diranjang.
"Lagi pula kau sudah beberapa kali menyusup kedalam selimutku dan naik keatas ranjangku. " Rasanya Aluna ingin protes namun yang dikatakan Arka memang benar. Walaupun Arkalah dalang dari semua itu.
"Luna? " Panggil Arka karena Aluna tak kunjung menjawabnya.
"hhhmmm" Aluna sepertinya sedang memikirkan sesuatu.
"Jika kau tidak bahagia tinggal bersamaku, kau bisa pergi. Satu hal yang harus kau tahu, Ayah Ardian sudah tahu kalau kita hanya menikah kontrak. Aku tidak akan menahanmu sekarang. Walaupun aku punya hak untuk itu. Pernikahan kita tinggal beberapa bulan lagi, namun jika kau merasa tertekan dan ingin segera mengakhiri pernikahan ini, aku akan setuju." Seru Arka panjang lebar. Setelah berfikir semalam, Arka memang sudah memutuskan untuk memberitahu Aluna mengenai hal ini. Aluna yang mendengarnya hanya diam saja. Namun entah mengapa mendengar Arka mengatakan hal itu, membuat hatinya sakit.
"Luna... jika nanti kau benar - benar pergi, aku hanya ingin kau tahu bahwa aku tidak pernah bermaksud menyakitimu selama ini dan setelah kita berpisah nanti aku harap kau bisa hidup bahagia. Aku akan tetap memberikanmu hak untuk memakai namaku, untuk membungkam orang - orang yang menghinamu nanti." Tambah Arka lagi. Bahkan suaranya sudah tidak seperti tadi.
" Aku ingin istirahat sekarang dan jangan membangunkan untuk makan malam. " Pungkas Aluna mendekati ranjang dan tidur disamping Arka namun membelakangi Arka.
Arka bangun dari ranjangnya dan menuju balkon depan kamarnya. Arka merasa lega bisa mengatakan semua yang sudah dia berusaha katakan beberapa hari ini. Walaupun ada satu hal yang tidak Arka katakan kepada Aluna. Biarlah Arka menyimpannya dalam hati.
*****
Maaf yah kalau sering telat upnya. Soalnya Autor sudah mengajar jadi sudah mulai sibuk. Namun tetap autor usahakan untuk up paling lambat dua hari sekali. 🙏
__ADS_1
Jangan lupa dukung terus novel ini.