
"Siapa yang tidak suka? " Kedua pria itu sontak mengalihkan pandangan kearah suara seorang gadis yang sudah berdiri menatap keduanya secara bergantian. Violin mendekati kedua pria itu. "Kalian sedang membicarakan siapa? " Dari pertanyaan Violin, Alka maupun Rama boleh bernafas lega karena gadis itu mungkin tidak mendengar keseluruhan apa yang mereka bicarakan.
" Kami sedang membicarakan Maura. Aku nanya sama Al, apa yang Maura suka dan tidak suka. " Rama yang menjawab.
"Aku balik ke kamar aku dulu yah, badanku udah lengket. " Rama meninggalkan Alka dan juga Violin disana.
"Kayaknya Rama serius yah sama Maura. " Violin yang angkat suara duluan, setelah kepergian Rama. Sedangkan Alka, pria itu menatap lurus ke depan.
"Buktinya dia pengen tahu, mana yang disukai Maura dan mana yang tidak disukai Maura. " Alka enggan menjawab atau menanggapi ucapan pacarnya itu.
"Al gimana kalau kita tunangan bareng?" Kalimat itu mampu membuat Alka berpaling kearah Violin.
"Maksud kamu?" Tanyanya kemudian.
"Maksud aku kita tunangan bareng. Aku sama kamu, Rama sama Maura. " Alka terkejut. Tunangan? Alka tidak punya pikiran sampai disitu. Apalagi tunangan dihari yang sama dengan Maura.
"Rama dan Maura itu baru aja pacaran. Aku bahkan tidak yakin kalau mereka benar - benar sudah resmi pacaran. Nggak mungkin mereka tunangan. " Violin menatap Alka yang dari kalimatnya seperti tidak suka kalau Rama tunangan dengan Maura. Lagi dan lagi Violin bisa merasakan itu.
"Apa yang tidak mungkin Al, cepat atau lambat mereka pasti akan tunangan kemudian menikah, karena itu tujuan orang pacaran kan? " Violin menekan kalimatnya.
__ADS_1
"Kita juga suatu saat pasti tunangan dan menikah. "
"Aku belum siap untuk itu Vi. Maaf. " Alka meninggalkan Violin yang mematung mendengar ucapan Alka.
"Al... " Violin mengejar Alka. Violin perlu alasan kenapa Alka belum siap untuk meresmikan hubungan mereka.
***
"Ra.... " Samar - samar Maura bisa mendengar suara panggilan itu. Maura menggeliat sebentar saja, lalu kembali terlelap.
"Ra..." Suara itu kembali terdengar. Disusul dengan sentuhan seperti tepukan dilengan gadis itu. Membuka matanya perlahan karena dipikirnya ini hanya mimpi. Matanya melebar sempurna mendapati seorang pria berdiri disamping ranjangnya.
"Aku ingin bicara. " Ucap Alka yang kemudian mengarahkan pandangannya kesebuah kursi, menariknya perlahan mendekat kearah Maura.
"Abang Al kita bisa ngomong besok. Maura ngantuk. Abang Al juga nggak boleh main masuk kekamarnya Maura. Itu nggak baik Abang. " Ucap gadis itu dengan nada khas baru bangun tidur.
"Aku nggak bisa nunggu sampe besok. Ini penting Ra. " Hal penting apa yang ingin dibicarakan Alka sampai tidak bisa menunggu hingga pagi hari.
"Ya udah Abang Al mau ngomong apa?" Mengalah saja dari pada Alka nantinya akan berlama - lama dikamarnya.
__ADS_1
"Ra, apa kamu serius sama Rama? Apa kalian benar - benar pacaran?" Maura menatap Alka dengan tatapan kesal. Alka masuk kekamarnya hanya untuk menanyakan hal itu? Bukankah tadi juga mereka sudah membahas itu. Memilih tidak menjawab, Maura memalingkan wajahnya.
"Ra, aku butuh jawaban kamu dan aku butuh jawaban jujur. Jawaban kamu akan menentukan hubungan aku sama Vio." Alka menyentuh dan memalingkan wajah gadis itu agar menatapnya, agar dia bisa tahu tidak ada kebohongan dimata gadis itu.
Maura tidak mengerti apa hubungan dari kalimat yang diucapkan Alka barusan.
"Apa maksud kamu?" Kali ini Maura memilih bertanya.
"Ra, belakangan ini Vio nuntut aku buat resmiin hubungan kami. Vio ingin secepatnya aku ngelamar dia. "
"Lalu?" Maura bertanya. Bahkan dari nada suaranya, tidak terdengar ada beban sama sekali.
" Ra, kalau seperti ini terus, aku bisa tunangan atau menikah sama Vio. " Bukankah itu yang kamu inginkan? Mungkin begitulah Maura menanggapi kalimat yang terucap dari bibir laki - laki yang masih mengisi hatinya itu. Namun Maura hanya bisa tersenyum kecut.
"Bagus dong. Kamu bisa tunangan dan kemudian bisa menikah dengan orang kamu cintai. " Lagi - lagi Maura berusaha bersikap biasa saja dengan ucapan Alka.
"Aku nggak cinta sama dia Ra. " Satu kalimat yang keluar dari bibir Alka mampu membuat Maura menutup mulutnya tidak percaya.
***
__ADS_1
"Tante Santi, Maura jatuh ke jurang. " Teriakan histeris dari Giska mampu membuat suasana Villa itu menjadi tegang.