
Selesai mandi dan ganti baju, Arka pun turun untuk makan malam. Sedangkan Aluna sudah setengah jam yang lalu menunggunya di meja makan. Aluna masih merasa malu dengan kejadian tadi didalam kamar. Sedangkan Arka dia berusaha menutupi rasa canggungnya dengan cara bersikap angkuh dan dingin seperti biasanya.
" Apa kau bersenang - senang hari ini? " Tanya Arka disela makan malam mereka.
" Apa maksud dari pertanyaannya? Apakah dia sudah tahu aku memakai uangnya. " Gumam Aluna dalam hati mencerna pertanyaan Arka.
" Tuan maafkan aku. Aku sudah lancang memakai uangmu. " Ucap Aluna setelah menghentikan aktivitas makannya, menundukan wajahnya takut - takut jika Arka memarahinya. Aluna bahkan tidak tahu jika dia menggunakan kartu yang diberikan Arka padanya, maka akan ada notifikasi pemberitahuan yang masuk pada ponsel Arka.
" Tapi semua ini bukan hanya salahku, tapi sekertaris itu juga terlibat. " Menyalahkan sekertaris suaminya itu.
"Jangan bahas hal itu sekarang. Makanlah dengan benar. " Ucap Arka menatap Aluna yang masih menunduk.
Mendengar ucapan Arka Aluna kemudian meraih sendok dan mulai menyuapi makanan yang masih tersisa dipiringnya. Dia tidak akan membantah yang nantinya membuat suasana hati Arka menjadi gusar.
Selesai makan Arka memilih ke ruang kerjanya yang ada disamping kamar tamu dilantai bawah. Sedangkan Aluna lebih memilih untuk kembali ke kamar. Masuk kedalam kamar, Aluna menatik nafas panjang, ketika mengingat kejadian memalukan tadi dikamar itu.
" Ada maupun tidak ada tuan Arka dirumah, aku harus tetap waspada. Jangan sampai aku kecolongan lagi. " Berjalan menghampiri sofa yang selama ini menjadi tempatnya mengistirahatkan tubuhnya.
Sudah dua jam berlalu Arka belum juga masuk kedalam kamar. Aluna berusaha menutup matanya agar dirinya bisa segera tidur sebelum Arka masuk kedalam kamar itu. Namun usahanya tidak berhasil, tetap saja matanya enggan terpenjam.
Arka yang sudah selesai memeriksa laporan keuangan dari setiap cabang perusahaan miliknya diruang kerjanya, memutuskan kembali ke kamarnya. Membuka handle pintu kamar, Arka berjalan kearah ranjang miliknya.
__ADS_1
Aluna yang menyadari langkah kaki Arka tadi sebelum masuk langsung menutup matanya, kemudian mengatur nafasnya dengan halus seperti seseorang yang sedang tidur.
" Aku tahu kau belum tidur. " Ucap Arka mulai menaiki ranjangnya. Sementara Aluna masih pura - pura tidur dan tidak bergerak sama sekali
" Kemarilah. " Ucap Arka menatap gadis yang masih tidur dengan posisi yang sama.
"Kemarilah kemana? Apa dia mengajakku untuk tidur bersama. Mengapa dia tiba - tiba ingin tidur bersama? Apa jangan - jangan karena kejadian tadi, dia melihat aku . . . " Aluna menggelengkan kepalanya pelan menepis semua pikiran buruknya dan alhasil membuat Arka tahu bahwa gadis itu benar - benar hanya pura - pura tidur saja.
" Aku membenci penolakan dan aku akan menghukum orang yang mencoba membohongiku. " Seru Arka yang sudah mulai kesal dengan gadis yang masih berpura - pura tidur itu.
" Aku akan hitung sampai tiga, jika kau tidak kesini maka aku yang akan kesitu? " Arka baru ingin beranjak dari ranjangnya, namun Aluna sudah membuka matanya dan mulai menghampiri Arka. Masih berdiri disisi ranjang, Aluna bahkan tidak tahu kenapa Arka memanggilnya.
Aluna masih mematung ditempatnya, mencerna apa maksud dari kata - kata pria yang sudah merebahkan tubuhnya dikasur empuk itu.
" Kau sudah menghabiskan hampir 500 juta uangku dalam sehari. Apa kau tidak ingin membayarku kembali. "Kali ini Arka menatap Aluna. Sedangkan gadis itu hanya bisa tertunduk, sambil memilin ujung piyama yang dipakainya. Walaupun menunduk Arka bisa melihat sudah sepucat apa wajah gadis yang sudah menjadi istrinya itu.
" Aku akan mengembalikkan barang - barang itu besok tuan. Lagi pula aku belum memakainya. " Mungkin Aluna berusaha bernegosiasi dengan pria yang memiringkan tubuhnya menatap Aluna, yang tidak berani menatap kearahnya.
" Toko itu tidak akan menerima kembali barang yang sudah terjual. Jadi percuma saja jika kau mengembalikkan barang - barang itu, mereka tidak akan menerimanya lagi. " Aluna mendengarnya semakin takut. Takut kalau - kalau apa yang diucapkan Arka benar dan dirinya harus membayar kembali uang sebanyak itu.
"Aku...." Belum juga Aluna melanjutkan kata - katanya Arka sudah menarik pergelangan tangannya. Aluna jatuh disamping Arka bahkan tubuhnya sudah mulai gemetar membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
__ADS_1
"Sepertinya aku akan membuatmu kecewa. Karena mungkin kau sekarang sangat berharap. Aku tidak akan mungkin menyentuhmu." Ucap Arka membelai wajah cantik Aluna.
"Syukurlah. Siapa juga yang berharap. hei tuan bisakah tingkat kepedeanmu itu dikurangi kadarnya." Gumam Aluna dalam hati.
"Terserah dia mau bilang apa, yang paling penting dia tidak akan pernah menyentuhku." Aluna merasa lega ketika Arka melepaskan tangannya.
Aluna kemudian mulai beranjak dari ranjang, namun lagi - lagi Arka menahan pergelangan tangannya.
" Ada apa lagi tuan? Bukankah tuan sudah selesai bermain - main? "
" Mulai malam ini tidurlah disini bersamaku. " Akhirnya kalimat yang ditahannya semenjak kemarin, lolos sudah dari bibirnya.
"Tapi..." Belum juga Aluna membantah namun Arka menarik tubuh mungil itu, menjadikan tangan satunya sebagai bantalan kepala Aluna dan terakhir menaruh tangannya diatas perut Aluna.
" Tidurlah. Jika kau ingin membantah aku akan menuntut kembali uangku. " Arka menutup matanya. Sedangkan Aluna hanya bisa diam diranjang seperti menahan nafasnya. Setelah beberapa saat akhirnya Aluna benar - benar tertidur disamping Arka. Deru nafas teratur Aluna, meyakinkan Arka bahwa gadis itu sudah tertidur. Arka kemudian membuka matanya dan menatap wajah cantik Aluna. Walaupun sedang tidur Aluna tetap sangat cantik. Arka menduga wajah yang dia pandangi saat ini, tidak tersentuh make up sama sekali.
"Apa kau sebodoh itu. Apa kau percaya aku akan menuntut uang yang telah kau pakai? Aku justru sangat senang kau membantuhku menghabiskan uangku. Aku bahkan mulai nyaman didekatmu." Setelah beberapa saat Arka akhirnya tertidur.
___________
Jangan lupa tinggalkan jejak. 😍
__ADS_1