Aku Ternyata Sangat Mencintainya

Aku Ternyata Sangat Mencintainya
Tidak ada kalimat perpisahan


__ADS_3

Disaat Maura menuruni anak tangga dengan menarik koper miliknya, Aluna yang saat itu baru saja keluar kamar begitu terkejut melihat Maura. Aluna memanggil suaminya yang masih ada didalam kamar. "Sayang, itu Maura mau pergi lagi kayaknya. " Ucapnya sambil menarik tangan Arka, agar mengikutinya berjalan kearah Maura.


"Tante paman, Maura pagi ini mau pulang. " Maura tersenyum. "Tapi kali ini Maura serius. " Ucapnya sambil tersenyum malu. Pasalnya beberapa hari yang lalu, dia sudah pamitan seperti ini. Hanya saja waktu itu, dia tidak benar - benar pulang.


Aluna tahu bagaimana perasaan Maura saat ini. Maura pasti kecewa karena laki - laki yang dia suka sejak dulu, lebih memilih orang lain. Aluna tidak bisa melakukan apapun untuk membantu Maura. Aluna tidak ingin menjadi orangtua yang egois seperti Indra Wijaya, orangtua Bryan. Dia tidak ingin memaksakan kehendaknya untuk anaknya. Yang bisa Aluna lakukan sekarang hanya mendoakan yang terbaik untuk Maura dan kali ini dia akan mendukung keputusan Maura. Aluna memang senang Maura menghabiskan waktu liburan bersama dengan keluarganya. Namun untuk kebaikan Maura, lebih baik Maura pulang. Agar gadis itu bisa melupakan putranya dan bisa menemukan seorang pria yang lebih baik dari putranya. Seperti dirinya dulu. Mengambil keputusan melupakan dan merelakan, walaupun awalnya sulit. Namun akhirnya dia bisa menemukan kebahagiaannya. Aluna berharap, Maura juga bisa seperti dirinya. Berani mengambil keputusan. Keputusan melupakan dan merelakan Alka yang telah mengecewakan dirinya.


" Yah udah, biar paman Arka sama tante yang antar Maura ke Bandara. " Aluna tidak lagi menahan gadis itu. Keputusan Maura sudah benar menurut Aluna.


"Tante takut Maura bohong yah? " Gadis itu masih bisa tersenyum diujung kalimatnya. "Tenang aja tante, kali ini Maura beneran pulang kok. "


"Tante percaya kok. Hanya saja tante sama paman pengen aja ngantar Maura. Kayak Maura kecil dulu. " Kali ini Maura mengiyakan.

__ADS_1


Aluna mengganti pakaiannya terlebih dulu, karena kata Maura, penerbangannya masih dua jam lagi. Jadi masih sempatlah buat Aluna ganti pakaian.


Sementara Maura dan Arka sambil menunggu Aluna, mereka mengobrol diruang tengah rumah itu.


"Nak, kamu kecewa yah sama Al? " Arka membuka percakapan itu. Maura hanya bisa menatap Arka, namun dia memilih tidak menjawab.


"Tanpa kamu menjawab, paman tahu kamu pasti kecewa dan terluka. " Arka kali ini menggenggam tangan Maura. " Kamu tahu, sebelum paman ketemu sama tante Luna, paman pernah dikecewakan sama seorang gadis. Gadis itu lebih memilih sepupu paman yang dia pikir lebih baik dari paman. Walaupun awalnya paman kecewa dan terluka, namun pada akhirnya paman bisa menemukan gadis yang mencintai paman dengan tulus, yaitu tante Luna. " Maura masih diam mendengar cerita Arka. "Paman yakin, kalaupun Maura tidak berjodoh dengan Al karena Al memilih bersama gadis lain, namun Maura harus yakin suatu hari nanti Maura pasti bisa mendapatkan laki - laki yang baik, laki - laki yang mencintai Maura dengan tulus. " Entah mengapa ucapan Arka ini, membuat hati Maura tenang. Kalimat ini membuat Maura semangat, semangat menjalani hari - harinya ke depan.


"Makasih yah paman. Tante Luna beruntung punya suami sebaik dan setulus paman. " Gadis itu tambah mengeratkan genggaman tangan mereka.


"Iya. Aku mau pulang. " Jawab Maura dengan tersenyum. "Aku rindu ibu dan lagian kata ayah, aku sudah harus fokus dengan perusahaan. "

__ADS_1


"Ra, maafin aku yah. " Sungguh Alka merasa bersalah.


"Kamu nggak salah kok Al. Mungkin memang seharusnya aku nggak kesini. Nggak seharusnya aku buat kamu bingung dengan perasaan kamu. Aku sadar disini cuma aku yang cinta sama kamu. Sedangkan kamu, kamu cinta sama orang lain. " Maura berucap, namun saat kalimat itu terucap, Maura sama sekali tidak menatap Alka.


" Aku tidak ingin jadi penghalang untuk cinta kamu dan gadis itu. " Ucap Maura dengan lirih. Alka tahu Maura terluka, sama halnya dengan dirinya. Namun Alka kali ini membiarkan Maura berasumsi seperti itu. Karena lebih baik seperti itu.


" Maura, tante sudah siap sayang. " Aluna dan Arka mendatangi keduanya. Mendengar dari suaminya, kalau Alka sedang berbicara dengan Maura, Aluna lantas cepat - cepat mengajak suaminya itu untuk menemui keduanya. Pasalnya Aluna tidak ingin membiarkan putranya, memberi harapan yang nantinya membuat Maura kecewa dan terluka lagi. Aluna tahu putranya itu juga mencintai Maura, tapi Aluna tidak tahu mengapa Alka malah memilih Violin yang jelas - jelas Aluna bisa melihat tidak ada cinta dimata anaknya untuk gadis itu. Alka bahkan tertutup padanya.


"Kalau begitu kita bisa pergi sekarang tan. " Maura berdiri dari duduknya, meraih koper miliknya.


" Bunda sama ayah, antarin Maura ke Bandara dulu. Bunda harap kamu tidak akan menyesal. " Kalimat terakhir Aluna bisikan ditelinga Alka. Sedangkan Alka hanya bisa menatap bundanya, ada sesuatu yang ingin dia katakan. Namun dia menahannya.

__ADS_1


Kali ini Maura tidak lagi mengucapkan kalimat perpisahan apapun. Bahkan gadis itu tidak lagi pamitan pada Alka.


Disaat Aluna membuka pintu rumah, Aluna begitu terkejut melihat dua orang yang baru saja turun dari taxi.


__ADS_2