
Hari ini Arka dan Aluna berangkat ke perusahaan dari rumah ayah Ardian. Sekertaris Frans yang sudah menyiapkan semua keperluan suami istri itu.
"Sayang bisakah jam makan siang, aku ke hotel tempat kerjannya Santi? " Tanya Aluna yang sementara bersandar dibahu suaminya didalam mobil yang dikemudikan Frans.
"Untuk apa? " Tanya Arka.
" Aku hanya merindukannya saja. Semalam di ulang tahun ayah, dia bahkan tidak datang. Sekalian aku mau memberikan oleh - oleh yang kita beli waktu di Bali." Jawab Aluna mengeluarkan paper bag yang dibawanya kemarin. Sebenarnya oleh - oleh itu akan diberikan Aluna kepada Santi waktu ulang tahun ayah Ardian, makanya Aluna membawanya karena Santi juga di undang di acara ulang tahun ayah Ardian. Tapi hingga acara selesai Santi tidak datang.
"Apa kau mau, aku menyuruhnya ke perusahaan? Biar kalian bisa ketemu di perusahaan dan kau tidak perlu menemuinya di hotel." Aluna menggeleng.
"Tidak usah sayang. Kasihan Santi dia pasti lelah harus kesana kemari naik taxi. Aku saja yang menghampirinya, biar Frans yang mengantarku. Iyakan sekertaris Frans? " Menatap kearah Frans yang sedang fokus mengemudi.
__ADS_1
"Iya nona. " Jawab Frans yang sedikit memutar kepalanya ke belakang. Kemudian kembali fokus ke depan.
"Baiklah jika seperti itu yang kau inginkan. Kembalilah sebelum malam. " Ucap Arka karena dia tahu jika istrinya sudah bertemu sahabatnya, tidak akan cukup sejam untuk keduanya bertemu dan berbicara.
"Terima kasih sayang. Kau yang terbaik. " Mencium pipi kiri Arka.
***
" Ada apa anda kesini tuan Wijaya? " Tanya Hendra yang mempersilakan besannya itu duduk.
Indra Wijaya pun menceritakan maksud kedatangannya. Sedangkan Hendra mendengarkan dengan seksama penuturan Indra Wijaya mengenai produk baru yang sama persis dengan produk yang bahkan belum sempat perusahaan mereka luncurkan ke pasaran.
__ADS_1
"Baiklah saya akan menyelidiki masalah ini. Nanti saya hubungi pak Wijaya lagi. " Ucap Hendra kepada Indra Wijaya yang sudah hendak pamitan, setelah pembicaraan panjang mereka. Indra Wijaya pun hanya mengangguk dan menyalami Hendra. Setelah Indra Wijaya pergi, Hendra terlihat menghubungi seseorang.
"Jangan biarkan Indra Wijaya tahu kalau produk yang saat ini dipasaran adalah hasil kerjasama kita. Aku ingin melihatnya hancur karena anaknya sudah berani - beraninya menyakiti hati putri saya." Ucap Hendra kepada seseorang yang dihubunginya.
"Jadi kau dalang dari semua ini. Kau ********. " Indra Wijaya yang tidak sengaja meninggalkan ponselnya, kembali ketika dia ingin menghubungi Bryan namun ponselnya tidak ada disaku dan didalam mobilnya. Akhirnya ia memutuskan untuk bertanya kepada Hendra dan akhirnya dia mendengar semua pembicaraan Hendra.
Indra Wijaya mulai mendekati Hendra dan ingin menghajarnya namun Hendra sudah berteriak memanggil security rumahnya. Setelah Indra Wijaya ditahan oleh kedua security itu, Hendra mulai berbicara dengan Indra Wijaya yang merontah minta dilepaskan.
"Baguslah jika kau sudah tahu bahwa aku dibalik semua ini. Agar aku tidak harus terus menerus bersandiwara didepanmu. Putramu telah membuat anak kesayanganku sedih dan sering dipermalukan karena suaminya masih mengejar wanita lain. Jika kau ingin perusahaanmu tidak hancur maka sebaiknya suruhlah putramu meminta maaf kepadaku dan putriku dan suruh dia membatalkan gugatan perceraiannya dengan Fiona. Jika tidak maka kau dan keluargamu bersiap - siaplah jadi gembel dan hidup dijalanan. " Ucapan Hendra membuat Indra Wijaya geram. Selama ini Hendra menusuknya dari belakang.
"Seret pria ini keluar. Aku tidak ingin melihatnya berkeliaran disini. Sebelum dia membawa anaknya kehadapanku. " Ucap Kembali Hendra dan diangguki kedua security yang dengan kasar menyeret Indra Wijaya keluar dari rumah Hendra.
__ADS_1
Indra Wijaya pun pergi dengan mobilnya, sambil menghubungi Bryan.