
Setelah berganti baju, Arka mendekati Aluna yang tiduran diranjang. "Apa kau sudah tidur? " Tanya Arka namun Aluna tetap diam membelakangi Arka. Sebenarnya Aluna belum tidur, dia hanya malu saja dengan kejadian dikamar mandi tadi. Arka mulai tidur disamping Aluna, Arka yakin Aluna belum tidur. Arka mulai menggoda Aluna dengan cara memeluk gadis itu dari belakang.
"Apa kau melihat sesuatu tadi? Apa kau suka dengan sesuatu yang kau lihat? " Arka tertawa kecil. Akhirnya Aluna terpancing dan mulai duduk diranjang menatap Arka yang juga ikut duduk diranjang.
"Aku tidak melihat apa - apa. " Ucap Aluna menatap Arka.
"Lalu kenapa kau lari tadi? Seharusnya kau menikmati pemandangan tadi, mumpung gratis. "
Arka kembali tertawa melihat wajah Aluna yang mulai kesal mendengar kata-katanya.
Aluna mulai beranjak dari tempat tidur, namun Arka menarik tangannya. "Aku hanya bercanda. Tidurlah besok aku ada perjalanan bisnis ke luar negeri." Aluna kembali merebahkan dirinya disamping Arka, namun tetap membelakangi Arka.
"Kemana? Kau akan pergi berapa lama? " Tanya Aluna masih membelakangi Arka.
"Singapura. Kemungkinan tiga hari. " Jawab Arka mulai menarik selimut menutupi dirinya dan Aluna.
Aluna tidak lagi bertanya, namun hatinya seperti tidak rela jika Arka pergi.
"Luna...? " Panggil Arka sambil menatap punggung gadis disampingnya.
"hhhmmmm" Sahut Aluna.
" Apakah kau akan merindukanku jika nanti aku pergi? " Tanya Arka memastikan.
"Kenapa aku harus merindukanmu? " Aluna balik bertanya.
"Tidak apa - apa. Tidurlah. " Pungkas Arka dan memutar posisi tubuhnya membelakangi Aluna.
__ADS_1
***
Arka berangkat ke singapura menggunakan pesawat pribadinya. Ditemani Frans tentunya. Arka bahkan tidak berpamitan dengan Aluna, karena Aluna masih terlelap dalam tidurnya. Arka hanya meninggalkan sebuah note dengan sarapan yang diantarkan pelayan kekamarnya tadi pagi.
Aluna tidak menemukan Arka disampingnya, ketika Aluna terbangun.
"Apa dia sudah pergj? Kenapa dia tidak berpamitan denganku." Aluna bangun dan mulai berjalan mendekati sebuah nampan berisi segelas susu, jus dan sepiring nasi goreng. Aluna mengambil secarik kertas dan membacanya "Luna aku pergi dulu. Tidurmu sangat nyeyak jadi aku tidak membangunkanmu untuk pergi. Jangan tidur terlalu malam dan jangan lupa makan. Aku akan merindukanmu dan aku akan segera kembali jika kau merindukanku. " Entah mengapa Aluna merasa sedih dengan kalimat terakhir Arka.
Sudah sehari berlalu setelah kepergiaan Arka. Aluna merasa ada yang kurang ketika dia memasuki kamar yang ditempatinya dengan Arka. Aluna merebahkan tubuhnya diranjang, menatap kosong kelangit - langit kamar. "Aku merindukannya" Tanpa disadarinya air matanya jatuh dengan sendirinya.
Sudah tiga hari berlalu, Aluna terlihat senang pagi ini. Entah mengapa dia begitu girang mengingat hari ini Arka akan pulang. Aluna sengaja tidak masuk kerja hari ini. Karena dia tidak tahu Arka akan pulang pagi, siang, sore atau malam hari. Aluna setengah berlari dari ruang tamu ketika terdengar suara klason mobil memasuki halaman rumah.
Namun yang datang ternyata Adit dengan wajah cemas terukir jelas diwajah tampan pria itu.
"Adit, Arka tidak ada dirumah. " Ucap Aluna kepada Adit yang berjalan mendekatinya.
"Apa kakak ipar tidak menonton berita hari ini atau mendapat kabar tentang Arka?" Aluna menggeleng dengan perasaan yang sudah mulai tidak enak, karena pertanyaan Adit.
"Pesawat pribadi Arka hilang kontak kakak ipar. Tim Sar sudah dikirim untuk mencari keberadaan dititik terakhir pesawat sebelum hilang kontak. " Jelas Adit membuat Aluna tidak mampu menopang tubuhnya dan cepat - cepat ditahan Adit. Adit membawa Aluna kedalam dan menduduki Aluna di sofa ruang tamu.
Adit berlari mengambil air minum dan memberikannya kepada Aluna yang sudah mulai terisak. Entah mengapa semua bayangan tentang Arka muncul bermain di pikirannya. Dari awal mereka bertemu, mereka tidur bersama, Arka yang selalu datang menolongnya, Arka alergi karena makan makanannya, semua kebersamaan mereka bahkan pertengkaran mereka.
"Apa ayah Ardian tahu ?" Tanya Aluna kuatir dengan ayah mertuanya yang memiliki penyakit jantung.
"Aku menyuruh Adam untuk memotong sambungan tv dan menyembunyikan ponsel om Ardian agar om Ardian tidak melihat berita hari ini. Sampai keberadaan Arka ditemukan. " Jelas Adit. Tiba - tiba ponsel Adit berbunyi dan setelah Adit selesai bicara, adit berpamitan kepada Aluna karena harus kembali ke rumah sakit.
Aluna kembali kekamar ketika Adit sudah pulang. Aluna mengurung diri dikamar itu dan dia kembali menangis dikamar itu, menggenggam erat kertas yang ditulis Arka untuknya.
__ADS_1
"Aku merindukanmu. Untuk itu kumohon pulanglah." Ucapnya dalam tangisnya.
Sudah hampir jam 1 malam, Aluna masih duduk menyadarkan tubuhnya disandaran ranjang. Matanya sembab karena tangisannya. Bahkan dia tidak makan apapun hari ini.
"Kenapa kau belum tidur? Bukankah aku mengatakan untuk tidak tidur terlalu malam. " Arka setengah berteriak kearah gadis yang hanya sekilas menatapnya, lalu kembali menatap kosong kedepan.
"Aku bahkan merindukan kau membentakku. " Seketika Aluna menangis sambil memeluk kedua lutut yang sudah ditekuknya. Aluna mengira dia hanya berhalusinasi.
"Luna maaf aku tidak bermaksud membentakmu. " Arka mendekati Aluna dan duduk tepat dihadapan Aluna. Membuat Aluna sadar bahwa laki - laki dihadapannya benar - benar Arka.
"Apa ini benar - benar kau. " Aluna memegang sisi wajah Arka dan Arka hanya menganguk mengiyakan. Aluna langsung memukul mukul tubuh Arka. "Dari mana saja kau, kau tidak tahu betapa takutnya aku ketika mendengar pesawat yang kau naiki hilang kontak." Arka hanya tersenyum membiarkan tubuhnya menjadi pelampiasan kekuatiran Aluna padanya. Arka langsung memeluk Aluna dan Aluna berhenti memukul Arka dan membalas pelukan Arka.
"Bodoh. " Arka mengusap lembut kepala gadis yang sudah mulai membuka hatinya tersebut.
Arka melepaskan pelukannya dan menatap Aluna. "Apa seharian ini kau menangisiku? " Tanya Arka menatap mata sembab Aluna. Aluna hanya menganguk mengiyakan.
"Aku kembali karena aku merasa kau merindukanku. " Ucap Arka tersenyum kearah gadis yang sudah membenamkan wajahnya didada bidang Arka.
Arka mengangkat wajah Aluna, agar menatapnya. Kemudian Arka mendaratkan ciuman dibibir Aluna. Arka menghentikan ciumannya ketika Aluna diam tidak membalas ciuman Arka. "Apa kau tidak suka aku menciummu? " Tanya Arka dengan wajah kecewanya.
"Bukan itu, hanya saja aku tidak tahu caranya... ber...ciuman. " Jawab Aluna terbata - bata menahan rasa malunya. Arka hanya tersenyum melihat tingkah istrinya yang malu - malu.
"Aku akan mengajarimu. " Ucap Arka kembali mendaratkan ciumannya ke bibir Aluna.
" buka mulutmu " Ucap Arka disaat dia menghentikan sejenak ciumannya dan Aluna mengikutinya. Arka mencium dengan lembut bibir gadis yang sudah mulai menerima dirinya. Lidahnya bermain main dirongga mulut Aluna, Aluna sedikit demi sedikit sudah mulai merespon ciuman Arka.
Arka menghentikan ciumannya ketika dirasanya nafas Aluna mulai terengah - engah. Aluna kembali membenamkan wajahnya didada Arka karena malu.
__ADS_1
"Apa kau malu sekarang sayang. " Ucap Arka menggoda Aluna dengan cara mengangkat wajah Aluna namun Aluna tetap membenamkan wajahnya didada Arka. Arka membiarkannya karena mungkin ini pertama kali Aluna merespon ciumannya. Setelah itu mereka tidur dengan posisi berpelukan.