
"Bryan gimana keadaan papa kamu? " Tanya ibu Ningsi yang baru datang dari bandara langsung menuju rumah sakit dimana suaminya dirawat.
Pada saat menemui Bryan waktu itu, ayahnya Indra Wijaya menceritakan semua yang telah didengarnya tentang penghianatan Hendra selaku phatner bisnisnya sekaligus besannya tersebut.
flashback.
Bryan dan ayahnya bertemu disalah satu kafe kota tersebut. Setelah ayahnya menghubungi Bryan sepulang dari kediaman Hendra yang sampai saat ini masih berstatus ayah mertua Bryan. Karena dia dan Fiona belum resmi bercerai.
"Ada apa papa ingin bertemu Bryan. Jika papa ingin membujuk Bryan untuk kembali memperbaiki rumah tangga Bryan dengan Fiona, sebaiknya papa pulang saja. Karena Bryan sudah tidak bisa pa. Dari awal papa tahukan kalau Bryan hanya cinta sama satu gadis. " Kalimat pertama semenjak pertemuan anak dan ayah ini. Tidak ada basa basi Bryan, padahal mereka hampir sebulan tidak bertemu dan bertegur sapa.
" Maafkan papa nak. " Sejak kapan ayahnya jadi selembut ini bicara padanya. Padahal kalau menyangkut pembicaraan tentang Fiona, selalu nada tegas dari sang ayah. Jika Bryan menolak atau mengatakan masih mencintai gadis lain.
" Papa seharusnya tidak memaksa kamu, menikahi anaknya Hendra. " Lagi - lagi kalimat yang membuat Bryan kaget. Bahkan dahinya terlihat berkerut, mencoba mencerna ucapan yang sedari dulu ingin didengarnya. Disaat ayahnya memaksa untuk ia menikah dengan Fiona.
" Apa yang hendak papa bicarakan? " Bryan tahu ada segurat kekecewaan dan penyesalan dimata pria yang hampir berusia lima puluh tahun itu.
" Perusahaan kita mungkin akan bangkrut nak. " Menjeda ucapannya. " Hendra menghianati papa Bryan. " Bahkan Indra Wijaya terlihat gemetar mengatakan hal itu.
" Bagaimana bisa? " Bryan bertanya karena mungkin dia juga ambil andil dalam hal ini. Setelah menikah Bryan sudah menyerahkan kembali pengelolaan perusahaan kepada ayahnya. Indra Wijaya kemudian menjelaskan bagaimana Hendra menghianatinya dan satu hal yang bisa Bryan tangkap dari cerita ayahnya.
Dia yang mengakibatkan semua masalah ini.
" Baiklah Bryan akan datang kerumah Fiona. Bryan akan minta maaf dan..." Berfikir sejenak, karena mungkin hal yang akan diucapkannya ini akan menjadi bumerang dalam hidupnya. Namun semarah - marahnya Bryan pada pria didepannya ini, pria itu tetaplah ayahnya. Pria yang sudah susah payah membesarkannya. "Bryan akan kembali dengan Fiona. " Ucapnya ragu - ragu.
"Jangan. " Satu kata yang membuat Bryan semakin bingung. "Jangan minta maaf dan jangan kembali dengan gadis yang tidak kau cintai nak. " Rasanya Bryan ingin kembali ke masa itu, masa dimana dia menolak keras perjodohan dengan Fiona. Andai ayahnya mengatakan hal ini sebelumnya, mungkin dia....
__ADS_1
" Kenapa pa? " Tanya Bryan menatap ayahnya.
" Ayah tidak akan mengorbankan kebahagiaanmu lagi hanya demi ego papa. " Indra Wijaya sadar selama ini anak semata wayangnya tidak pernah bahagia bersama Fiona. Namun Indra Wijaya membutakan matanya dan menutup telinganya. Seakan dia percaya dengan berjalan waktu Bryan akan mencintai Fiona. Namun sama sekali tidak ada cinta dimana putranya itu untuk Fiona. Hanya luka dan kesedihan yang selalu menghiasi wajah tampan anaknya.
" Pilihlah pasangan hidup yang mencintai dan kamu cintai. " Tambah Indra Wijaya menggenggam tangan Bryan yang ada diatas meja.
" Gadis itu, kejarlah dia. " Bryan menggeleng. Dia tahu siapa yang dimaksud ayahnya.
Apakah dia masih punya kesempatan? Kata - kata Santi waktu itu telah menamparnya sangat keras. "Luna sudah mencintai suaminya, tuan Arka. " Ada kegetiran menganjal dihatinya dan waktu itu ketika mereka bertemu ditaman Aluna terlihat bahagia dengan pria itu. Mungkin dengan mendengar hal itu dari orang lain, membuat Bryan aedikit ragu. Tapi ketika ia melihat dengan matanya sendiri bagaimana Aluna tersenyum tulus pada pria yang tak lain suaminya itu, sorot mata bahagia juga terpancar di mata gadis yang masih sepenuhnya menghuni hatinya. Membuat Bryan yakin bahwa yang diucapkan Santi benar adanya. Aluna sudah mencintai suaminya. Itu adalah kenyataan yang tidak bisa ia pungkiri.
Bryan menarik nafas sebelum ia berucap "Sudah terlambat pa. " Bryan tersenyum getir kearah sang ayah.
"Maafkan papa nak. Baiklah kalau begitu papa akan kembali ke hotel. " Ucapnya Indra Wijaya sambil berdiri dari duduknya. Namun belum beberapa langkah, ia sudah jatuh dan tidak sadarkan diri.
" Papa kena serangan jantung ma dan sampai sekarang papa belum sadarkan diri. " Mendengar ucapan Bryan. Kaki Ningsi seakan lemas, untung Bryan langsung bisa menahan tubuh ibunya sehingga tidak jatuh. Ningsi menangis, dipelukan putranya.
***
Bryan duduk diruang tunggu, Bryan menunduk memijat pangkal hidungnya, kadang beralih kedahinya. Ibunya sudah ada diruangan ayahnya, menemani pria yang belum sadarkan diri itu.
"Bryan... " Suara seorang wanita, yang dulu hingga sekarang sangat dicintainya. Bryan mengangkat wajahnya menatap gadis cantik yang masih seperti dulu tersenyum dengan ramah padanya.
"Luna, kenapa bisa disini? kamu sakit? " Tanya Bryan sudah berdiri mensejajarkan dirinya dengan Aluna.
Aluna menggeleng masih sambil tersenyum.
__ADS_1
"Kamu sendiri kenapa bisa ada dirumah sakit? " Kali ini Aluna yang bertanya.
"Papa masuk rumah sakit Lun, kena serangan jantung. Belum sadar sampe sekarang. " Aluna tahu laki - laki ini sedang sangat sedih. Aluna hafal mimik wajah itu. Kalau dulu dia mungkin akan menenangkan pria ini dengan memeluk sambil mengusap punggungnya. Tapi sekarang ada hati yang harus ia jaga.
" Kamu yang sabar yah. Papa kamu pasti sembuh. " Ucap Aluna tulus, masih sedikit mengambil jarak dari posisi Bryan yang berdiri.
"Terima kasih Lun. "
"Sayang check up kehamilan kamu..." Muncul seorang pria yang masih mengenakan setelan baju kerja, menghentikan ucapnnya ketika melihat sang istri bersama sang mantan kekasih.
"Hamil? " Bryan menatap Aluna dengan tatapan bertanya. Bahkan ucapannya hanya dia tanyakan lewat sorot matanya saja.
" Sayang tadi aku nggak sengaja ketemu Bryan disini. " Aluna langsung menjelaskan takut - takut jika sang suami salah paham dan mendiaminya lagi.
"Tidak apa - apa sayang. " Aluna kaget mendengar ucapan suaminya. Tambah kaget ketika sang suami menyodorkan tangannya kearah Bryan. Bryan tentu membalas uluran tangan itu.
"Kamu hamil Luna? " Tanya Bryan akhirnya setelah melepaskan jabatan tangannya dengan Arka barusan. Aluna mengangguk, tersenyum kearah Bryan.
" Bagaimana dia tidak hamil, aku menidurinya tiap malam. " Ucap Arka tersenyum dengan bangga. Sedangkan yang mendengarnya menahan sesak dihatinya.
"Selamat yah Lun. " Bryan memaksakan senyumnya sambil menyodorkan tangannya. Aluna melirik suaminya sebentar, seakan bertanya apa boleh dia membalas uluran tangan Bryan. Arka mengangguk, mengijinkan dan Aluna langsung membalas uluran tangan Bryan sambil berucap terima kasih.
"Yah udah Lun, aku tinggal dulu. Mama mungkin butuh aku. " Pamit Bryan, berlalu meninggalkan kedua pasangan itu.
"Ayo kita ketemu dokter kandungan kamu. " Ajak Arka pada istrinya. Aluna mengiyakan ajakan suaminya.
__ADS_1