
Sudah hampir dua puluh menit semenjak kepulangan Santi. Arka jangankan mengangkat wajahnya menatap Aluna, sampai satu katapun sudah tidak keluar dari bibirnya. Tarikan nafasnya yang kasar menandakan bahwa Arka sedang menahan emosinya.
"Sayang tadi aku hanya... " Aluna bahkan belum menyelesaikan ucapannya Arka sudah memotong ucapannya.
"Hanya apa? Berbohong." Kali ini Arka sudah mengangkat wajahnya, namun tidak menatap Aluna.
" Maaf. " Aluna hendak mengenggam tangan Arka, namun Arka menjauhkan tangannya.
"Sayang aku minta maaf. " Ucap Aluna lirih namun Arka sama sekali enggan menatapnya dan memilih pergi kearah pintu.
"Frans siapkan mobil... " Ucap Arka kemudian.
"Tapi tuan, kita kan baru.... "
"Frans sejak kapan kau berani membangkang? Apa aku terlalu baik padamu belakangan ini? " Entah ucapan Arka ini, ia tujukan buat Frans atau kepada wanita yang masih terus mengikutinya itu.
"Sayang kau mau kemana? " Ucap Aluna meraih tangan Arka yang hendak masuk kedalam mobil.
"Apa aku harus selalu mengatakan kepadamu kemana aku pergi. " Jawabnya tanpa menoleh kearah Aluna.
"Harus dong. Aku kan istri kamu. "
" Apa disaat kau pergi tadi, kau mengatakan kepadaku? Apa kau pernah berfikir bahwa kau istriku? " Setelah mengatakan itu, Arka kemudian masuk kedalam mobil dan meninggalkan Aluna yang masih mematung. Yah dia memang salah. Apa yang Arka,ucapkan barusan memang benar.
***
Baru kali ini suasana mobil yang dibawah Frans terasa mencekam. Arka masih tertunduk, memijat - mijat pangkal hidungnya.
"Frans apakah aku sudah keterlaluan? " Akhirnya Arka memilih bertanya pada sekertaris yang sudah lama mengikutinya tersebut. Setelah sedari tadi dia berperang dengan hati dan juga logikanya.
" Jika menurut tuan itu yang terbaik untuk tuan, maka saya akan mendukung semua keputusan tuan. "
"Frans, mulai sekarang berfikirlah untuk mengutamakan kebaikan Aluna. Karena kebahagiaannya adalah kebahagiakanku juga. "
"Membentaknya saja, membuat aku sakit. Untuk itu aku tidak pernah ingin melihat matanya jika aku sedang marah padanya. " Kali ini Arka mengangkat kepalanya dan menyadarkannya ke jok mobil.
"Tuan bagaimana kalau nona Aluna pergi." Ucap Frans ragu - ragu.
"Dia tidak akan pergi Frans, aku sudah menyuruh pengawal untuk tetap berjaga didepan pintu dan tidak boleh mengijinkannya kemana - mana, sekalipun itu alasannya adalah aku. "
__ADS_1
***
Arka pulang kerumah sekitaran pukul sebelas malam. Karena dia tahu jam segitu Aluna sudah tidur. Namun disaat dia membuka pintu kamar, Aluna masih duduk ditepi ranjang. Belum juga Aluna ingin bicara, Arka sudah masuk kedalam kamar mandi. Butuh lima belas menit untuk Arka mrmbersihkan tubuhnya.
"Sayang kamu dari mana? Kenapa jam segini baru pulang. " Ucap Aluna masih ditempatnya. Sedangkan Arka memilih tidur diranjang dan membelakanginya, tanpa menjawab pertanyaan Aluna padanya.
"Arka... "
"Aku lelah, ingin istirahat. Tidurlah. " Setelah mengatakan itu Arka mengambil selimut dan menutupi seluruh tubuhnya.
Aluna pun merebahkan dirinya, disisi ranjang lainnya. Ia menangis tanpa bersuara. Seharusnya Arka memarahinya dari pada mendiamkannya seperti itu. Rasanya sakit jika dia terus diabaikan seperti itu.
***
Sudah hampir tiga hari Arka mendiaminya. Bahkan Arka berangkat bekerja, sebelum Aluna bangun. Pulang pun disaat Aluna sudah tidur.
Hari ini Aluna bertekad akan menunggu suaminya itu hingga pulang. Aluna tidak perduli, jika Arka pulang dini haripun dia akan tetap menunggu. Masalahnya sudah sangat berlarut - larut, cukup kesabarannya juga ada batasnya.
Arka pulang tepat jam sebelam malam, Aluna sudah terlihat tidur diranjangnya. Arka memilih membersihkan dirinya dikamar mandi. Setelahnya Arka mendekati Aluna, menyentuh dan mengelus pipi istrinya dengan lembut kemudian mencium kening istrinya. Sesuatu yang selalu dia lakukan setiap malam, disaat Aluna sudah tertidur. Namun disaat dia mengakhiri ciumannya dan mengangkat kepalanya, matanya bersitatap dengan mata Aluna yang memandangnya.
" Sampai kapan kamu akan mendiamiku dan mencuri menciumku. " Ucap Aluna sambil mengambil posisi duduk, setelah Arka sudah berdiri dari posisinya dan berjalan kesisi ranjang lainnya dan tidur membelakangi Aluna.
" Tidurlah, ini sudah larut malam. " Sesuatu yang selalu dia ucapkan hampir setiap malam jika Aluna berbicara padanya.
" Aku hanya pergi sebentar dengan Santi. Aku jenuh seharian dirumah. Aku juga ingin sedikit kebebasan. Kemana - mana aku selalu diikuti pengawal kamu. Aku tertekan Arka. Aku tidak bisa pergi semau aku, kamu selalu membatasi setiap aktivitas aku. " Kali ini Arka terpancing, laki - laki itu kini duduk, menatap Aluna dengan dahi yang mengkerut.
" Apa selama ini, aku tidak cukup memberi kamu kebebasan? Aluna aku bahkan tidak melarangmu jika kamu menemui sahabatmu."
"Tapi kamu membatasinya Arka."
"Aku melakukannya demi kebaikan kamu. Kau tahu kenapa aku marah padamu? Itu karena aku sayang sama kamu. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk padamu. Aku tidak terlalu marah jika kamu berbohong padaku, tapi yang bikin aku marah karena kamu mengabaikan kesehatan kamu. Aku bahkan tidak bisa kosentrasi dikantor karena terus memikirkan kesehatanmu, aku mengabaikan pekerjaanku dan memilih pulang kerumah. Tapi apa? Kau malah pergi tanpa memberitahuku Luna. " Apa yang ditahannya beberapa hari ini, akhirnya bisa dia keluarkan.
"Jika kamu tidak bahagia dan hidup tertekan denganku, kamu bisa memilih pergi. Aku membebaskanmu sekarang. " Kali ini airmata Aluna tidak bisa ditahannya. Sedangkan Arka dia harus iklas jika Aluna pergi dari hidupnya. Selama ini ia salah, Arka mengira Aluna bahagia bersamanya. Nyatanya Aluna tertekan hidup dengannya.
Aluna mendekati Arka dan memeluknya. Arka tidak menolak dan tidak membalas pelukan Aluna.
" Jangan berkata seperti itu, ku mohon. Aku bahagia bersamamu. Tolong jangan meminta aku pergi lagi. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu. Aku cinta sama kamu. " Tangisannya semakin menjadi dan itu merupakan kelemahan pria yang sudah mengangkat tangannya membalas pelukan istrinya.
" Sudah jangan menangis lagi. " Tangannya mengelus pundak istrinya. "Maaf aku membentakmu. " Aluna hanya menggeleng. "Aku yang salah sayang. Maafin aku. " Kali ini Arka melepaskan pelukannya dan menghapus air mata istrinya. "Aku sudah memaafkan kamu, jauh sebelum kamu minta maaf. Jadi berhentilah menangis. " Ucap Arka tulus.
__ADS_1
"Aku minta ma... " Belum juga Aluna menyelesaikan ucapnnya, Arka membungkam bibir Aluna dengan bibirnya. Mencium dengan rakus, bibir yang selama beberapa hari ini tidak disentuhnya.
"Ini milikku. " Menyentuh bibir Aluna dengan jarinya dan kemudian menciumnya lagi. Arka kemudian membuka piyama yang menutupi tubuh istrinya.
"Ini milikku. " Menyentuh bagian leher Aluna dan mengecup bagian itu sedikit lama.
"Ini juga milikku. " Kali ini ciumannya turun kebagian dada Aluna. Aluna hanya membiarkan suaminya menyentuh dan menciumnya.
"Ini hanya milikku. " Menyentuh bagian inti tubuh Aluna. Aluna hanya menutup matanya, menikmati perlakuan lembut suaminya. Hingga akhirnya Arka menyatukan tubuh mereka.
Keduanya berpelukan bermandikan pelu karena aktivitas malam mereka. Arka tersenyum kerarah Aluna, begitupun Aluna sebaliknya. Memang kalau habis marahan terus melakukan hubungan suami istri rasanya jauh lebih nikmat.
***
Arka membuka matanya ketika ia menyadari wanita yang semalam tidur dalam pelukannya, tidak ada diranjang.
"Ya Tuhan apa dia meninggalkanku. " kekuatiran Arka berubah ketika ia mendengar suara air dikamar mandi. Namun ia kembali cemas, ketika mendengar Aluna muntah - muntah dikamar mandi. Arka langsung bangun dari ranjang, membuka kamar mandi yang memang tidak ditutup pintunya oleh Aluna.
"Luna kamu kenapa? " Tanya Arka kepada Aluna yang sementara membersihkan mulutnya.
"Aku tidak makan dengan baik beberapa hari ini. Mungkin penyakit lambung aku kambuh lagi. " Aluna hampir menyesali ucapannya. Karena semalam dia baru saja berjanji kepada suaminya, untuk selalu menjaga kesehatannya.
"Maaf sayang, karena kamu mendiamiku aku jadi ngga nafsu makan. " Ucap Aluna ketika melihat perubahan raut wajah suaminya.
" Bodoh. Kenapa harus menyiksa diri sendiri. Sudah tidak apa - apa? " Tanya Arka mengelus pundak istrinya. Aluna hanya mengangguk mengiyakan.
***
Aluna memilih tinggal dirumah karena dia tahu suaminya masih belum mengijinkannya pergi ke perusahaan. Sebelum Arka melarangnya, Aluna yang lebih dulu mengatakan kepada Arka bahwa dia akan tinggal dirumah dua hari lagi. Padahal sejak semalam Arka sudah memutuskan, untuk memberi Aluna kebebasan. Kebebasan memilih apa yang dia inginkan. Jika Aluna ingin bekerja, maka Arka akan mengijinkannya. Namun hari ini, Aluna yang memilih tinggal.
Jika tidak ada meeting penting hari ini, Arka mungkin lebih memilih menghabiskan waktu seharian dengan istrinya. Namun karena ada perwakilan perusahaan yang ada diluar negeri, membuat Arka harus meninggalkan Aluna dirumah.
***
Disaat meeting sedang berjalan, Arka yang tengah mendengarkan presentasi dari salah satu karyawannya, harus mengalihkan pandangannya pada ponsel yang bergetar, yang memang sengaja dibawanya, takut - takut Aluna membutuhkan dirinya. Karena tadi sebelum berangkat bekerja, Aluna terlihat pucat dan lemas. Kekuatirannya semakin menjadi ketika nomor rumahnya yang menghubungi.
Satu kalimat dari pelayan rumahnya, langsung membuat jantung Arka berdetak cepat, secepat kakinya yang kini berlari keluar ruangan.
"Tuan nyonya pingsan dan sekarang dilarikan kerumah sakit mas Adit. "
__ADS_1
-------
Jangan lupa like, koment dan vote yah. Makasih