
Aluna masuk mengikuti langkah kaki Arka yang mengajaknya. Aluna begitu terkesima melihat kamar hotel yang memiliki ruangan besar seperti sebuah apartemen mewah dengan desain modern dan berkelas itu.
Arka langsung menghamburkan tubuhnya ke ranjang. Namun lagi - lagi Aluna masih menjaga jarak. Aluna lebih memilih tidur disofa yang berada didekat jendela kamar hotel itu.
"Mulai besok aku harus menyingkirkan benda itu. " Arka melihat kursi sofa yang dijadikan tempat tidur oleh Aluna.
" Luna... " Baru kali ini Arka memanggil Aluna selembut ini. Bahkan panggilannya membuat Aluna merinding. Namun mengingat Arka bahkan berlutut memohon kepada kedua pria itu untuk membebaskan Aluna, membuat Aluna berusaha bersikap baik dan memutuskan tidak membenci Arka dan mulai menjalin pertemanan dengan pria itu.
"Iya. Ada apa? " Aluna menyahut ketika Arka memanggilnya. Setelah tadi dia bergelut dengan pikirannya sendiri.
"Tidak apa - apa." Arka sebenarnya ingin memanggil Aluna untuk tidur diranjang bersamanya. Namun dia takut, takut Aluna salah paham dan semakin membencinya.
"Apa hotel ini milikmu? " Kali ini Aluna yang membuka suara.
__ADS_1
"Hhhmmm" Hanya itu yang keluar dari bibir Arka. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu. Lihat saja dia mulai tersenyum seperti sudah mendapat jawaban dari apa yang dipikirkannya sedari tadi.
" Tapi sepertinya hotel ini akan kujual. " Sambung Arka lagi membuat Aluna menatap kearahnya "Kenapa dijual? " Tanya Aluna penasaran.
"Kata pegawai dan tamu hotel, hotel ini sepertinya berhantu. " Jelas Arka membuat gadis yang mendengar penjelasannya mulai menelan salivanya. Ingat Aluna, adalah seorang gadis penakut, apalagi kalau sudah berhubungan dengan cerita hantu.
" Apa mereka percaya hal - hal seperti itu. " Aluna yang berusaha terlihat berani dan tidak meyakini adanya hantu didunia ini. Padahal dia sudah mulai merinding.
Arka mengambil selimut dan menutupi kaki hingga ujung rambutnya.
"Apa yang kamu lakukan? bisakah jangan tidur seperti itu? " Aluna berusaha membuka selimut yang dipakai Arka. Namun Arka menahan kuat selimut itu.
"Aku tidak mau melihat sesuatu, jika kubuka selimut ini. Jika kau mau kau bisa masuk juga kedalamnya. " Jurus kedua yang dipakai Arka.
__ADS_1
"Kalau begitu biarkan aku masuk. " Akhirnya Arka melepaskan tangannya dari selimut dan membiarkan Aluna masuk kedalam selimut itu. Kini mereka berada didalam satu selimut. Nafas Aluna bahkan bisa dirasa oleh inti kulit leher Arka. Arka mulai merasakan suhu tubuhnya mulai panas. Arka memejamkan matanya frustasi dengan keadaan saat ini. Sepertinya naluri laki -lakinya muncul disaat yang tidak tepat. Dia hanya ingin Aluna tidur disampingnya. Namun karena posisi mereka terlalu dekat membuat Arka tidak bisa menguasai dirinya. Arka langsung mengubah posisi tubuhnya, sekarang dia berada diatas tubuh Aluna. Aluna menatap bingung apa yang dilakukan Arka.
Menatap Aluna sebentar. Sungguh dia ingin mencium gadis itu. "Aku kepanasan. " Arka mulai membuka selimut dan turun dari atas tubuh Aluna. Kemudian dia menuruni ranjang.
"Kau mau kemana? " Tanya Aluna ketika Arka mulai beranjak dari ranjangnya.
"Aku ke kamar mandi sebentar. " Ucap Arka. Aluna sebenarnya tidak mengijinkan atau setidaknya dia ingin ikut karena dia takut ditinggal sendiri. Namun dia tetap membiarkan Arka untuk pergi ke kamar mandi. Setelah kepergian Arka, Aluna kembali menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Didalam kamar mandi Arka mulai membasuh wajahnya. Setelah dirasanya semuanya baik - baik saja, Arka akhirnya kembali lagi ke ranjang. Arka tersenyum melihat tingkah Aluna.
"Luna kau tidak bisa bernafas kalau seperti itu. " Arka meraih ujung selimut dari kepala Aluna dan menurunkannya. Ternyata Aluna sudah tertidur. Arka tersenyum memandang wajah Aluna. Arka memberanikan dirinya untuk mencium kilas bibir Aluna. Sesuatu yang ingin dilakukannya tadi. Gadis itu hanya menggeliat dalam tidurnya.
"Selamat malam istriku, mimpi yang indah. " Ucap Arka pelan ditelinga Aluna. Kemudian dia tidur disamping Aluna menunggu pagi datang menyingsing.
__ADS_1