
Hari itu Arka kembali pergi bekerja. Santi juga sudah datang menemani Aluna.
" Kamu kenapa Lun? Nggak biasanya. " Tanya Santi menatap Aluna yang menatap kosong kearah kolam renang yang ada didepan mereka.
"Nggak apa - apa San. Aku hanya mikirin Arka. " Jawab Aluna hanya sepintas menatap Santi, kemudian menatap lurus ke depan seperti ada yang dia pikirkan.
" Maaf yah Lun bukannya aku ingin ikut campur tapi apa kalian ada masalah? " Tanya Santi kembali.
"Kami baik - baik aja kok. Cuma semenjak tadi pagi sampai dia pergi bekerja dia hanya menjawab aku seadanya aja jika aku bicara. " Jawab kembali Aluna.
" Emang apa yang terjadi sebelumnya? " Santi seolah ingin mencari apa yang menyebabkan Arka bersikap begitu pada sahabatnya. Akhirnya Aluna menceritakan kejadian tadi pagi semenjak dia bangun tidur. Awalnya Santi mendengarnya dengan serius. Setelahnya Santi terkekeh membingungkan Aluna.
"Kenapa kau malah tertawa San? " Tanya Aluna. Santi sebenarnya masih ingin tertawa namun melihat Aluna yang manyun membuat Santi menghentikan gelak tawanya.
"Jadi kalian belum malam pertama? " Tanya Santi pada intinya membuat Aluna malu namun Aluna tetap mengangguk.
"Lun, Arka itu suami kamu. Arka juga laki Laki normal dan yang pasti dia sangat mencintaimu jadi dia ingin memilikimu seutuhnya. " Santi berusaha memberi pengertian pada Aluna yang memang kurang peka dengan hal - hal seperti itu. Aluna memang pacaran lama dengan Bryan namun hubungan mereka hanya sampai dipegangan tangan saja.
"Kamu mau Arka mencari wanita lain dan menidurinya seperti yang Bryan lakukan dulu? " Kali ini Santi sedikit mengungkit tentang kejadian waktu Aluna melihat Bryan yang tertidur dikamar hotel dengan Fiona. Membuat Aluna mengenang kembali bagaimana hancurnya perasaannya waktu itu.
"Lun maaf aku tidak bermaksud membuka luka lamamu tapi... " Belum juga Santi meneruskan kata - katanya Aluna langsung menggenggam tangan Santi dan menggelengkan kepalanya bahwa dia baik - baik saja.
__ADS_1
Waktu tidak terasa sudah berlalu begitu cepat. Seperti biasa Santi sudah pamitan kepada Aluna ketika Frans telah mengabarinya bahwa Arka sebentar lagi akan sampai kerumah. Frans mengabari Santi, agar supaya ketika Arka tiba dirumah Santi dan nona mudanya tidak melakukan hal yang tidak disukai Arka.
Aluna menunggu Arka didepan pintu rumah utama setelah tadi dirinya mengantar Santi ke depan. Tiada salahnya dia sekalian menunggu Arka. Namun Arka tak kunjung datang. Karena lelah berdiri akhirnya Aluna duduk di kursi taman menunggu Arka pulang. Aluna menyadarkan kepalanya disandaran kursi taman samping rumah dan akhirnya dirinya tertidur di sana.
Arka membuka handle pintu dengan pelan. Karena mungkin saat ini Aluna tengah tertidur pikirnya. Namun matanya membelalak ketika tidak di temuinya Aluna didalam kamar. Arka merutuki kebodohannya ketika dia ingat pagi tadi dia tidak terlalu menanggapi Aluna. Bahkan pikirannya saat ini tengah menerawang kejadian waktu Aluna pergi meninggalkannya. Arka tidak ingin Aluna pergi lagi dari hidupnya.
"Apakah tadi nona muda keluar? " Tanyanya pada kedua pengawal yang berdiri di depan pintu rumahnya.
"Tadi nona menunggu tuan disini tapi karena tuan belum juga pulang, nona berjalan kearah taman." Tutur salah satu pengawal yang melihat Aluna tadi. Mendengar hal itu Arka langsung berlari kearah taman samping rumahnya. Arka seperti bernafas lega ketika dilihatnya gadis itu sedang tertidur dikursi taman.
"Luna... Sayang... " Arka menepuk lembut pipi Aluna, membuat Aluna bangun.
"Hei kenapa kau tiduran disini? " Tanya Arka mengelus pipi kanan Aluna dengan lembut.
"Kau bisa menungguku didalam rumah. Disini dingin, kau bisa sakit nanti. Ayo kita masuk. " Ajak Arka pada Aluna dan diiyakan Aluna.
"Kau sudah tidak marah lagi padaku? " Tanya Aluna pada Arka ketika keduanya sudah sampai didalam kamar.
" Aku tidak marah padamu sayang. " Jawab Arka menatap tersenyum pada Aluna yang sudah duduk ditepi ranjang.
"Tapi tadi pagi...? " Arka mendengar ucapan Aluna langsung mendekati gadis itu.
__ADS_1
"Aku tidak marah sayang. Aku mandi dulu. " Arka sekilas mencium bibir Aluna dan kemudian beranjak ke kamar mandi.
Setelah beberapa saat Arka sudah keluar dari kamar mandi dan sudah memakai baju santai seperti biasa dia dirumah.
"Apakah kau sudah makan sayang? " Tanya Arka dan Aluna hanya menggeleng.
"Kalau begitu ayo kita makan. " Arka menarik Aluna menuju dapur. Keduanyapun makan seperti biasa. Setelah selesai makan, Arka langsung naik ke lantai dua menuju kamarnya. Sedangkan Aluna dia malah berinisiatif membantu pelayan membersihkan piring bekas mereka makan. Setelah itu baru dia naik menyusul Arka.
"Arka... " Panggil Aluna kepada Arka yang sementara tidur disampingnya namun membelakanginya. Arka memang sudah mulai menjaga jarak dengan Aluna karena ketika dia lebih dekat lagi dengan Aluna maka mungkin saja dia tidak bisa lagi mengontrol dirinya.
"Hemmmm" Hanya itu kata yang keluar dari mulut Arka.
" Apakah kau akan tidur bersama wanita lain? " Tanya Aluna karena sudah terhasut kata - kata Santi padanya. Sedangkan Arka yang mendengarnya kaget dan langsung berbalik menatap Aluna.
"Apa maksudmu dan kenapa kau bisa bertanya hal konyol seperti itu? " Tanya Arka sedikit kesal.
"Apakah kau akan meniduri wanita lain seperti yang Bryan lakukan dengan Fiona? " Lagi - lagi pertanyaan Aluna membuat Arka kaget dan bingung. Mengapa tiba - tiba Aluna menanyakan hal itu padanya. Matanya juga menyimpan kesedihan yang mendalam.
"Hei sayang kenapa denganmu. " Arka memeluk Aluna.
"Aku tidak akan melakukan kesalahan yang nantinya membuat aku menyesal seperti yang dirasakan Bryan saat ini.
__ADS_1
Luna berhentilah berfikir seperti itu, aku tidak akan meniduri wanita lain selain dirimu. Aku berjanji padamu. Aku akan menunggumu. " Aluna yang mendengar penuturan Arka merasa lega dan bersyukur memiliki suami seperti Arka.
Setelah merasa Aluna sudah tenang, Arka memberitahu Aluna perihal tentang pernikahan mereka sudah didaftarkan Arka dan seminggu lagi mereka akan melaksanakan resepsi pernikahan. Arka akan memperkenalkan Aluna sebagai istrinya kepada seluruh dunia.