Aku Ternyata Sangat Mencintainya

Aku Ternyata Sangat Mencintainya
Villa 4


__ADS_3

"Dari mana saja kalian, kenapa jam segini baru pulang? " Hari baru saja menjelang magrib ketika Maura dan Rama kembali ke Villa. Alka yang sedari tadi menunggu sambil menikmati segelas kopi didepan Villa, langsung berdiri menghampiri kedua orang yang sementara bergandengan tangan, karena memang dari jauh mereka sudah melihat Alka disana.


" Kita hanya berkeliling tidak jauh dari Villa. Lagian kita kan nggak pulang malam Abang. " Maura yang menjawab.


"Kamu gimana sih Ram, kenapa jam segini baru ngajak Maura balik. " Tidak menanggapi jawaban Maura, Alka malah kembali menyalahkan Rama. Padahal kalau dipikir - pikir, mereka pulang masih belum dikategorikan malam hari.


"Abang Al, jangan nyalahin Rama. Lagian Abang Al itu kenapa sih marah - marah. Kita pulangnya nggak telat kok. " Alka membelalak. Rama? Sejak kapan Maura menghilangkan kata kak didepan nama Rama. Lalu kenapa dia memanggil Abang lagi.


"Ayo Ram, kita masuk aja. " Maura meraih tangan Rama yang tadi terlepas ketika Alka mendekati mereka.


"Maura, Abang Al belum selesai ngomong yah. " Mengejar Maura dan berdiri tepat didepan kedua orang itu. Langkah keduanya terhenti, Maura memandang Alka dengan kesal. Kenapa Alka selalu bersikap semaunya. Apa maksud dari semua ini?


" Ra, kalau Abang Al bersikap kayak gini, berarti Abang Al itu peduli sama kamu. " Apa pernah Alka peduli dengan perasaan Maura? Memilih tidak menanggapi, Maura kembali melangkah, meninggalkan Alka dan Rama. Syukurlah Alka tidak mengejarnya lagi.

__ADS_1


***


"Al, kamu kenapa sih terlihat tidak suka dengan kedekatan aku sama Maura? " Kedua sahabat itu, kali ini memilih berbicara berdua dibalkon Villa. Alka juga tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Dia tidak bisa meninggalkan Violin, tapi enggan membiarkan Maura bersama pria lain, termasuk Rama sahabatnya sendiri.


"Aku bukannya tidak suka Ram, aku hanya bersikap selayaknya."


" Selayaknya seorang Abang atau selayaknya seorang kekasih? " Rama ingin tahu, tanggapan Alka atas ucapan Rama barusan.


"Ram, kamu tahu sendiri kalau Maura itu sepupu aku. " Alka tidak tahu kalau Rama sudah tahu bahwa Maura dan Alka bukan sepupuan. Namun Rama enggan mengatakan hal itu pada Alka.


"Aku hanya bercanda Al, kamu serius banget menanggapinya. " Rama mencoba mengalihkan pembicaraan.Ada senyum jenaka yang membuat Alka percaya kalau ucapan Rama tadi hanya bercanda. Alka bahkan sudah lupa kalau dia sedang marah pada Rama.


"Al gimana sih hubungan kamu dengan Violin? " Rama mencoba mencari jawaban jujur dari sahabatnya itu. Walaupun Rama tahu Violin adalah kekasih sahabatnya itu, namun Rama juga pernah mendengar kalau dulu sebelum Alka memutuskan berhubungan dengan Violin, Alka sempat beberapa kali menolak gadis itu, hingga kecelakaan itu terjadi.

__ADS_1


Entah mengapa Rama bisa melihat tidak ada cinta dimata Alka untuk gadis itu. Kali ini Rama berharap Alka akan menceritakan semuanya dan Rama mungkin bisa membantuh sahabatnya itu lepas dari Violin.


"Hubungan aku sama Vio baik - baik aja Ram. " Kalimat itu terdengar tidak jujur. Mungkin bagi Violin hubungannya dengan Alka baik - baik aja, berbeda halnya dengan Alka, pria yang menyukai laut itu mulai tidak bisa mengontrol perasaannya sendiri.


"Tujuan kita kesini, bukan buat bahas ini. Aku masih marah sama kamu. " Alka ingat tujuannya memanggil Rama ketempat itu bukan untuk membahas Violin.


"Al, belajarlah jujur dengan perasaaan kamu sama Violin. Kalau kamu tidak suka katakan... "


" Siapa yang tidak suka? "Gadis yang baru mereka bicarakan muncul soperti hantu karena memakai masker malam.


------


Nanti dua bab nyusul yah.

__ADS_1


__ADS_2