Aku Ternyata Sangat Mencintainya

Aku Ternyata Sangat Mencintainya
Mama diculik


__ADS_3

Sudah sebulan mama Asmita di Jakarta. Dua hari lagi usia kandungan Aluna genap tiga bulan. Aluna bahkan bisa melihat perubahan perutnya.


"Dad berapa hari disana? " Tanya Aluna kepada Arka yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Dua sampai tiga hari. " Jawabnya sambil mendaratkan satu ciuman dikening istrinya, yang sedang sibuk memasukkan pakaian Arka kedalam koper.


Hari ini Arka akan pergi ke Bandung untuk mengurus proyek disana. Ada sedikit masalah dengan pembangunan hotel disana, itulah sebabnya Arka harus turun langsung ke lapangan.


" Tidak perlu bawa baju deh, kayaknya bun. Daddy pulang pergi aja ke Bandung. " Arka tidak ingin berpisah terlalu lama dengan istrinya.


"Daddy entar kecapean. Nginap aja disana. Kalau kerjaannya udah selesai, daddy bisa langsung balik kesini. "


"Tapi bunda, entar nggak bisa tidur. " Ternyata suaminya ini mencemaskannya.


"Kan ada baju yang daddy pake semalam. Masih ada bau daddy disana. " Walaupun sebenarnya Aluna tidak ingin berpisah dengan suaminya, tapi dia juga tidak boleh egois.


" Kalau bunda butuh sesuatu? " Arka ini terlalu kuatir sama istrinya. Namun sebagai seorang istri, Aluna sangat senang suaminya begitu perhatian padanya.


"Kan ada mama sayang. " Benar juga, setidaknya ada yang akan menjaga Aluna dan memenuhi semua keinginannya.


Aluna duduk ditepian ranjang disamping suaminya. Meraih tangan Arka dan menggenggamnya.


"Kalau daddy rindu sama bunda, daddy pandangi bintang dimalam hari. Anggap itu bunda. "


"Bunda kalau rindu papa, juga akan lihat bintang dilangit. " Genggamannya sudah berubah.Kali ini menautkan jari - jarinya dijari Arka.


"Daddy bakalan kangen nggak ya, sama bunda? " Tanya Aluna mulai bersandar dibahu suaminya.


" Nggak. " Jawab Arka, ingin menggoda istrinya.


"Jahat banget. Awas aja kalau rinduin bunda, bunda nggak bakalan datang. " Gerutu Aluna. Memang istrinya ini mau kemana sampai tidak mau datang. Seharusnya yang bilang seperti itu adalah Arka karena dia yang akan pergi.


" Bercanda sayang. Daddy itu bakalan rindu tiap saat sama bunda. " Mengacak - ngacak rambut istrinya.


***


Sudah separuh perjalanan ditempuh Arka dan juga Frans. Namun entah mengapa ucapan Aluna terus saja mengusik hatinya.


Ucapan Aluna saat mengantar Arka sampai kedalam mobil.


"Dad, jangan terlalu rindukan bunda. Fokus aja sama pekerjaan daddy. Yang perlu daddy tahu bunda akan terus disini. " Meletakkan tangannya didada Arka.


"Bunda bahagia sejauh ini bisa sama daddy. Selalu jaga kesehatan ya, dad. " Tidak seperti biasanya Aluna seperti itu.

__ADS_1


Biasanya dia akan menyuruh Arka cepat pulang, jangan lupa kabari setiap saat, jangan tebar pesona, seperti itulah pesan Aluna disaat suaminya pergi ke suatu tempat.


Yang Arka harus lakukan sekarang adalah secepatnya mengurus proyek di Bandung, agar secepatnya dia bisa kembali ke Jakarta. Berkumpul lagi dengan istrinya dan calon anaknya.


Sehari sudah Arka di Bandung. Sore nanti dia dan Frans akan kembali ke Jakarta. Karena semua kendala pembangunan hotel di Bandung juga sudah dapat teratasi.


Juga masalah para tukang yang mengerjakan pembangunan hotel di Bandung, mereka mogok bekerja karena ada pihak yang menghubungi mereka menyampaikan isu yang tidak menyenangkan. Untuk itulah Arka harus turun tangan meyakinkan para tukang dan akhirnya mereka kembali bekerja.


Semenjak tiba di Bandung Arka selalu menghubungi istrinya memberi kabar dan menanyakan kabar istrinya. Arka senang karena semalam istrinya itu bisa tidur dengan nyaman, walaupun hanya memeluk pakaian yang pernah dipakai suaminya.


"Lagi apa? " Arka kembali menghubungi istrinya, sambil tangannya memasukan pakaian kedalam koper miliknya.


"Nonton sayang. "


"Sama siapa? " Tanya lagi.


"Sendiri. "


" Mama Asmita? "


"Ke pasar. bunda pengen makan ikan gurame bakar. Jadi mama pergi ke pasar buat beli ikannya. " Terdengar tarikan nafas disana.


"Sayang sebentar ya, ada telpon dari mama. " Aluna tiba - tiba memutuskan sambungan telpon dengan Arka.


"Hallo sayang. Apa kau merindukan suara aku? " Suara seorang pria diujung sana. Aluna melihat kembali nama pemanggil di layar ponselnya, benar itu memang nomor ibunya.


"Ka..kamu siapa? " Tanya Aluna gemetar.


Pria diujung sana tertawa. "Masa kau lupa kakak ipar dengan suara adik iparmu. " Yang biasanya memanggil kakak ipar adalah dokter Adit. Namun ini bukan suara dokter Adit. Suara ini pernah Aluna dengar sekali, tapi Aluna lupa siapa pemiliknya.


"Kamu siapa? dimana ibu aku? " Tanya Aluna.


"Mama kamu aman bersama saya. Tapi lebih aman lagi kalau kakak ipar bawakan saya uang 50 milyar. Ya, 50 Milyar saja. Aku minta uangnya cas bukan cek."


"Apa kamu sudah gila. Aku tidak akan percaya dengan tipuanmu. Bisa saja kau hanya mencuri ponsel ibuku dan mencoba memeras aku. Kamu buang - buang waktu, aku tidak percaya. " Ucap Aluna. Muda - mudahan apa yang dikatakannya benar. Ponsel ibunya hanya dicuri orang jahat sewaktu di pasar.


Aluna tambah gemetar, ketika dia dengan jelas mendengar suara ibunya yang meringis. Karena tamparan keras dari si penelpon.


" Aluna jangan kemari nak, mama baik - baik saja. " Deg. Aluna sekarang percaya, ibunya benar - benar diculik pria itu.


"Kumohon, tolong jangan sakitin ibu aku. " Ucapnya dengan air mata menumpah.


"Aku tidak akan menyakitinya kakak ipar, kecuali kakak ipar menyiapkan uang yang aku minta tadi. "

__ADS_1


"Tapi aku tidak punya uang sebanyak itu. " Terdengar pria diujung telpon tertawa, tertawa mendengar ucapan Aluna.


" Kakak ipar jangan pura - pura bodoh. Suamimu itu seorang milyader, uang segitu hanya jumlah sedikit baginya. " Benarkah suaminya memang sekaya itu.


"Aku tunggu dua jam dari sekarang. Jika kakak ipar tidak datang membawa uang tebusan itu, maka jangan salahkan aku kalau perempuan ini, akan kembali dengan keadaan tak bernyawa. Ingat jangan sampai Arka tahu masalah ini. " Aluna bahkan menangis terisak sambil memegang perutnya.


"Aku akan menghubungi kakak ipar lagi. " Panggilan itupun terputus.


Beberapa saat, ponsel Aluna kembali berdering.


Arka merasa cemas ketika ponsel Aluna sibuk terus sedari tadi.


"Bunda siapa yang telpon? " Aluna menangis tanpa bisa menjawab pertanyaan suaminya.


"Luna kamu kenapa? " Tanya Arka dengan cemas.


"Luna, ngomong sama aku, kamu kenapa? " Aluna masih terisak. Arka mengambil koper miliknya berlari keluar mencari Frans dan memberi isyarat kepada Frans untuk membawanya pulang saat itu juga. Pikirannya sudah semakin tidak enak ketika istrinya itu tak kunjung bicara.


" Luna, sayang kamu kenapa? "


"Arka aku minta uang 50 milyar. " Ucap Aluna kemudian. Arka kaget baru kali ini Aluna minta uang sebanyak itu. Bahkan kartu debit yang diberikan Arka, Aluna jarang sekali memakainya.


"Buat apa Luna, cerita sama aku ya, sayang. " Aluna masih menangis.


" Aku minta uang 50 milyar sekarang. " Lagi - lagi itu yang diucapkannya.


" Ya sudah sayang tenang dulu, jangan menangis dan jangan panik. Sayang sekarang kekamar dan diujung lemari ada tombol, sayang bisa tekan itu. " Aluna mengikuti intruksi suaminya.


Lemari bergeser ketika tombol itu ditekan, sebuah ruangan kecil yang Aluna tidak tahu ada didalam kamar mereka. Aluna kaget karena isinya uang dan emas batangan.


" Kemana bunda membawa uang itu? Itu jumlah yang banyak bun. Jangan mengangkatnya sendiri. " Aluna bukannya menjawab, tetapi langsung memutus sambungan telpon, mengambil 3 tas besar dan memasukan uang itu kedalam tas. Aluna tidak menghitungnya, targetnya adalah mengisi 3 tas itu sampai penuh. Tidak ada waktu untuk dirinya menghitung uang sebanyak itu.


"Frans cari tahu dimana posisi GPS ponsel istriku, ada sesuatu yang terjadi padanya. Hubungi pihak polisi untuk berjaga - jaga dari jarak jauh. " Frans pun mengangguk.


"Nona sepertinya masih dirumah tuan. " Menyerahkan ponsel yang sudah terhubung dengan GOS diponsel Aluna.


"Aku harap kau membawa ponselmu sayang. " Gumam Arka sambil memperhatikan tanda merah yang sudah mulai bergerak.


" Pengawal juga sudah bersiap - siap mengikuti nona tuan. " Ucap Frans.


Sementara dirumah, Aluna sudah mulai keluar pintu rumah, dia meminta bantuan pengawal Arka untuk membawa ketiga tas yang sudah berisikan uang.


"Nona saya yang akan mengantar nona. " Ucap salah satu pengawal yang tadinya ikut membawakan tas dari dalam kamar Aluna. Entah dari mana pengawal itu tahu jika Aluna akan pergi. Tapi Aluna mengikuti saja. Karena waktunya juga tinggal beberapa menit lagi.

__ADS_1


__ADS_2