
Arka bingung ada apa dengan semua ini? Dia butuh penjelasan sekarang.
Apalagi perkataan wanita itu membuat Arka semakin bingung.
"Kenapa kamu memukul suamiku? " Yah Tuhan, apakah Arka sudah salah paham sama Bryan. Bukankah kemarin Bryan dan Aluna. Lalu apa maksud sahabat istrinya itu, mengatakan Bryan adalah suaminya. Arka butuh penjelasan sekarang.
" Jelaskan padaku apa yang terjadi sebenarnya? "
"Aku bisa gila. " Ucap Arka sembari mengatur nafasnya yang tersengal. Mungkin sangking emosinya dia memukul Bryan tadi.
" Gila. Begini caramu memberi kejutan kepulanganmu setelah lima tahun. " Ucap Bryan kesal sambil sesekali memegang sudut bibirnya yang berdarah.
"Ayah, kenapa paman itu memukul ayah? " Tanya gadis kecil yang masih menatap takut kearah Arka.
"Maura sayang. Paman itu tidak memukul ayah. Paman itu sedang bercanda. Memang bercandanya paman itu, kadang kelewat batas. " Ucap Bryan sambil mengangkat tubuh gadis kecil itu kepangkuannya. Terserahlah anak gadisnya itu mengerti penjelasannya atau tidak. Karena memang kalimat terakhirnya itu, tujuannya hanya untuk menyindir Arka saja.
"Itu putrimu? " Pertanyaan konyol apa itu, bukankah gadis kecil itu memanggil Bryan dengan sebutan ayah. Sudah tentu dia adalah putrinya Bryan.
"Iya dia putri kami. " Yang menjawab adalah sahabat Aluna yang baru saja masuk membawa baskom berisi batu es dan kain. Siapa lagi kalau bukan Santi.
"Jadi kalian beneran suami istri? " Pertanyaan konyol lagi kan.
"Kamu tidak percaya? Apa kau lebih percaya kalau Aluna adalah istriku? " Bryan mengatakannya dengan tersenyum. Menggoda Arka tentunya. Sementara Arka sudah terlihat kesal. Sepertinya Bryan minta dihajar lagi.
"Aku menikah dengan Santi kurang lebih 7 bulan setelah kepergianmu ke Jerman. Waktu Aluna dikabarkan meninggal waktu itu, jujur saja aku juga ikut terpuruk. Beberapa bulan dari situ gugatan cerai yang kuajukan kepengadilan akhirnya disetujui dan aku akhirnya berpisah dari Fiona. Ayahku tidak bisa bertahan dan akhirnya meninggal. Aku benar - benar kehilangan pegangan hidup waktu itu. Aku jatuh sejatuh - jatuhnya. Wanita inilah..." Menatap Santi dengan tersenyum. "Yang selalu ada disamping aku. Memberi dukungan dan semangat hidup. Karena kebersamaan yang tidak sengaja tercipta antara kami, membuat kami saling bergantung dan membutuhkan. Aku sadar aku mulai jatuh hati padanya dan dia sebaliknya. " Santi menatap malu suami dan juga mantan bosnya.
"Kami akhirnya memutuskan menikah dan setahun kemudian, lahirlah si cantik ini. " Mengusap pipi putrinya lembut.
"Lalu Aluna? Bagaimana dia? Aku pikir kemarin kalian? " Arka bahkan tidak bisa melanjutkan pertanyaannya.
" Jadi kau sudah melihat Aluna dan kemarin? " Bryan memang sempat kerumah Aluna kemarin. Jadi Arka salah paham pada Bryan karena kemarin dia datang menemui Aluna. Padahal dia datang hanya memberi dukungan karena Aluna selalu menanyakan kabar Arka pada Bryan. Secara Bryan yang dipercayakan memimpin perusahaan suaminya dan otomatis suatu saat Arka akan menghubungi Bryan perihal perusahaan. Tapi hingga laki - laki itu kembali, dia sama sekali tidak memberi kabar. Bryan juga disuruh Santi sekalian mengantarkan beberapa makanan yang dimasak Santi dan ibu Ningsi.
"Iya, aku kesana sama Giska. " Bryan tambah terkejut. Berarti Arka sudah beberapa hari kembali dari Jerman. Jadi laki - laki itu sudah bertemu putrinya.
"Jangan bilang kalau kamu yang nyulik Giska? " Tanya Bryan penuh selidik.
"Menculik? Dia itu anak aku. Pantas dong aku membawanya. " Fix, Giska aman sekarang menurut Bryan.
"Lalu kenapa kamu tidak menemui Aluna. Dia sudah hampir gila mengetahui kamu pindah ke Jerman saat dia muncul sebulan yang lalu. hampir tiap hari dia pergi kerumah kalian, namun nihil gerbang rumah itu terkunci dan aku juga sudah berusaha mengabarimu sebulan ini bahwa Aluna masih hidup, aku bahkan sudah mengirim email mengenai hal ini, namun tak kunjung mendapat balasan. " Arka memang sulit dihubungi selama sebulan terakhir. Bahkan dr Adit yang kalah itu dimintai tolong oleh Aluna juga tidak bisa menghubungi Arka dan juga Ardian. Hingga akhirnya Arka memutuskan kembali ke indonesia.
"Tentu kau penasaran bagaimana istrimu itu masih hidup? Tapi aku tidak akan menjelaskan apapun lagi padamu. Anggap saja ini hukuman karena kau telah memukulku. " Bryan tersenyum puas.
__ADS_1
"Pergilah dan tanyakan padanya, semua yang ingin kau ketahui. Dia akan sangat bahagia melihatmu, dia merindukanmu Arka. " Kali ini Santi yang bersuara. Benar Arka harus menemui istrinya itu.
Arka berlari kecil kearah pintu, Bryan hanya menggelengkan kepalanya. Tidak percaya bahwa Arka sempat mencurigainya dengan Aluna. Namun pantas kan dia dicurigai. Secara dia saingan terberat Arka lima tahun yang lalu.
"Sayang kita kerumah Luna yah. Aku pengen lihat bagaimana ekspresi Luna melihat suaminya. " Rengek Santi pada Bryan.
"Tidak usah. Kehadiran kita akan mengganggu mereka. Kau tahu sendiri apa yang mereka lakukan setelah lama tidak bertemu. Mereka akan tidur bersama. " Kalimat terakhir Bryan bisikkan pada Santi. Karena ada putrinya yang mungkin juga tidak mengerti ucapan orangtuanya.
"Benar juga yah. " Santi tergelak kecil, membayangkan kedua pasangan itu.
"Frans antar aku bertemu Aluna. " Ucapnya kepada Frans dan diiyakan sekertaris pribadinya itu.
***
"Lho Frans kok ke kuburan? " Tanya Arka baru menyadari jika mobil yang dikemudikan Frans menuju kuburan.
"Bukankah tadi tuan bilang ingin ketemu nona Aluna. " Ya Tuhan, Arka lupa kalau Frans tidak tahu kalau istrinya itu masih hidup. Tapi Arka sedikit berpikir, siapa wanita yang dimakamkan atas nama istrinya itu.
Memilih tidak memberitahu Frans soal Aluna yang masih hidup. Biarlah Frans terkejut jika bertemu Aluna nantinya.
"Antarkan aku ketaman bermain. " Frans bingung sendiri. Katanya tadi mau ketemu Aluna, tapi sekarang berubah lagi. Frans memilih mengikuti saja permintaan tuannya itu. Memutar balik mobil kearah taman bermain yang tidak jauh dari pekuburan umum itu.
"Frans kita kerumah itu. " Frans tambah bingungkan. Sambil menggaruk kepalanya Frans mengikuti arah yang ditunjuk Arka.
Jantung Arka berdegub kencang, ia mengetuk pintu yang tertutup itu. Sambil merapikan penampilannya, dia menunggu sang pemilik rumah untuk membukakan pintu. Sedangkan Frans menunggu disamping mobil, penasaran siapa yang akan ditemui tuannya.
Ketukan ketiga pintu terbuka, menampilkan sosok bocah laki - laki yang pernah dilihat Frans.
"Paman, dimana adikku? " Abang Al memukul Arka ketika mengetahui siapa yang mengetuk pintu rumahnya. Terakhir Giska bersama Arka. Jadi Abang Al tahu kalau pria yang tersenyum padanya itu yang menculik adiknya.
"Siapa Al? " Ya Tuhan Arka rindu suara didalam itu.
"Penculik Giska mommy. " Teriak abang Al, sambil menahan tangan Arka. Abang Al takut pria itu akan lari.
Aluna yang mendengar penculik putrinya langsung berlari kedepan rumah. Darahnya sudah mendidih. Matanya masih sembab karena tidak kunjung mendapat kabar putrinya. Tak lupa juga Aluna membawa sapu, dia akan memukul penculik anaknya hingga tewas sekalian.
"Dimana dia Al. " Aluna mematung melihat sosok yang tersenyum namun airmatanya ikut membanjiri pipinya. Aluna bahkan menjatuhkan sapu yang dibawanya. Frans lebih terkejut melihat wanita yang baru keluar itu.
"Nona Aluna? " Ucap Frans, menutup mulutnya. Frans sangat terkejut.
"Mommy, paman ini yang menculik Giska. " Suara abang Al, menyadarkan mommynya. Bukan memukul atau memaki, Aluna langsung menghamburkan tubuhnya kepelukan laki - laki yang ikut memeluknya dengan erat. Mengusap punggungya dengan lembut. Arka rindu wanita ini. Wanita yang hampir membuatnya gila. Wanita yang hampir membuatnya kehilangan nyawa karena overdosis obat penenang.
__ADS_1
Abang Al bingung dengan apa yang terjadi. Kok bisa mommynya memeluk penculik adiknya.
"Kamu kemana aja, ha. " Kali ini Aluna memukul dada Arka, menuangkan segala kekesalan dan rindu yang bersamaan. Kesal karena Arka meninggalkannya dengan anak yang bahkan belum lahir waktu itu. Rindu karena sudah sangat lama dia menunggu moment ini.
"Maaf sayang. " Ucap Arka kali ini mencium pucuk kepala istrinya.
"Kamu ninggalin aku sendiri disini. " Menangis dengan terisak - isak. Sambil tetap memukul.
" Apakah kau tahu, aku menunggumu tiap hari digerbang rumah kita. Berharap kau datang dan memelukku. " Arka sangat menyesal dengan semua penderitaan istrinya. Bahkan disaat istrinya melahirkan, Arka tidak ada disamping wanita yang dijanjikan kebahagiaan itu. Dia gagal menepati janjinya itu.
"Maaf sayang. " Hanya itu yang bisa Arka ucapkan.
Abang Al menggaruk kepalanya tidak mengerti.
"Mommy kenapa peluk paman yang nyulik Giska? " Aluna melepaskan pelukannya pada Arka.
"Jadi Giska? " Menatap Arka penuh tanda tanya.
"Dia sama mama Asmita." Ya Tuhan penculik Giska ternyata ayahnya.
"Nanti aku jelasin. " Kata Arka ketika dia tahu istrinya itu butuh penjelasan.
"Al ini daddy sayang. " Ucap Aluna sambil menghapus air mata bahagiannya.
"Daddy? " Abang Al seperti bertanya memastikan. Aluna mengangguk.
"Al tidak mau daddy itu. Dia bilang orangtua Al nggak ngajarin sopan santun. Al nggak punya daddy aja mommy. " Arka merasa bersalah. Al ternyata putranya juga. Abang Al masuk kedalam rumah sambil menangis.
"Anak kita kembar? " Aluna mengangguk.
"Biar aku aja. " Ucapnya melangkah masuk mencari sosok putranya.
"Sekertaris Frans, ayo masuk. " Frans bahkan belum percaya bahwa nona mudanya masih hidup dan masih bersikap ramah seperti dulu. Frans tersenyum mengiyakan dan ikut masuk kedalam rumah itu.
___________
Belum End yah. Kalian sih yang nggak mau End dulu. hahaha
Siapa nih yang benar jawab Santi? Hahaha
Udah baik kan aku, mengobati penasaran kalian.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejak.