Aku Ternyata Sangat Mencintainya

Aku Ternyata Sangat Mencintainya
Bonus Chapter 2


__ADS_3

Arka tersenyum puas ketika menyelesaikan acara mandi bersama yang dibumbui mandi keringat bersama sang istri yang menatap kesal padanya.


"Kamu tuh yah ayah, bisa - bisanya cari kesempatan dalam kesempitan. " Aluna melilitkan handuk hingga bagian dadanya itu, langsung keluar kamar mandi dan menghampiri lemari pakaian. Arka tersenyum saja mendengar omelan sang istri.


"Anggap saja, cicilan hutang bunda selama lima tahun. " Bukannya ganti baju, Arka malah memeluk istrinya dari belakang. Bahkan tangannya, sudah mulai menjelajah bagian depan tubuh istrinya.


"Yah, jangan mulai lagi. Bunda belum kasih makan siang buat abang Al sama Giska. " Aluna menyingkirkan tangan nakal suaminya.


"Ayah juga butuh makan siang bun. " Sudah punya dua anak, tapi manjanya sudah setara Giska aja.


"Iya, sekalian ayah makan juga sama anak - anak. " Aluna meraih dalaman dan cepat memakainya sebelum suaminya menurunkan handuk yang melilit ditubuhnya.


"Boleh nggak makan siangnya bunda aja. " Aluna bahkan bingung, ini suaminya apa bukan sih. Pria dingin yang dulu menolak pernikahan mereka, sekarang sudah jadi pria mesum kayak gini.


"Ayah, kamu tuh... Iih.. " Aluna bahkan kehabisan kata - kata. Baru beberapa hari ia bertemu suaminya sudah menidurinya berkali - kali.


"Kenapa bun? Udah lama kan bun, kita nggak bersama kayak gini. " Melepaskan pelukannya. "Apa bunda, nggak suka yah layanin ayah. " Aluna tidak bermaksud


membuat Arka berpikiran seperti itu.


"Seharusnya bunda bersyukur, kita masih dikasih kesempatan bisa sama - sama lagi. " Aluna memang bersyukur, dia bahkan sudah lama menunggu saat - saat seperti ini. Namun kenapa Arka sampai berpikiran bahwa Aluna


tidak suka melayaninya. Itu sama sekali tidak benar, Aluna senang kok melayani suaminya itu.


"Ayah jangan mikir kejauhan. Bunda itu tidak pernah yah ngomong kalau bunda nggak suka layanin ayah. " Aluna sudah memposisikan tubuhnya menghadap Arka. Bahkan dia baru memakai dalaman saja.

__ADS_1


"Walaupun bunda nggak ngomong tapi dari cara bunda, bunda itu kayak nggak iklas gitu layanin ayah. " Oke Fix, sepertinya ini hanya salah satu siasat Arka saja. Karena terlalu serius menanggapi ucapan Arka, Aluna bahkan tidak menyadari handuk yang melilit tubuhnya sudah jatuh ke lantai. Siapa lagi dalangnya, kalau bukan sang suami.


"Bunda iklas yah. "


"Buktikan dong kalau bunda iklas. " Benarkan, Arka memang hebat membuat istrinya menuruti kemauannya.


" Baiklah, ayah masih mau? " Tanya Aluna dan langsung cepat - cepat diiyakan Arka. Kesempatan itu tidak akan disia - siakan oleh Arka. Apalagi ditawar kayak gitu, udah pasti mau dia.


"Tapi bunda iklas nggak? " Tanya Arka dengan wajah dibuat sesedih mungkin.


"Iklas yah. " Arka tersenyum dan mulai meraih tubuh sang istri. Mencium bibir Aluna dan tangannya sudah mulai turun kebagian inti Aluna.


"Yah, bawah bunda ke ranjang. " Arka langsung membopong sang istri menuju ranjang. Arka kembali mencium bibir Aluna dan mulai menyatuhkan tubuh mereka tanpa melepas ciuman diantara keduanya. Aluna benar - benar melayani suaminya siang itu. Arka tersenyum puas, sambil menjatuhkan tubuhnya diatas tubuh Aluna.


"Terima kasih yah bun. " Bisiknya, kemudian mendaratkan satu kecupan dikening Aluna yang juga bermandikan keringat seperti dirinya. Sepertinya mereka akan mandi lagi setelah ini.


***


"Ayah, abang Al sama Giska mana? " Aluna tidak mendapati kedua anaknya didalam rumah.


"Sedang bermain kuda - kudaan sama Frans, didepan. " Jawab ayah Ardian sambil tetap menonton berita disalah satu chanel TV.


" Mereka ternyata juga main kuda - kudaan, kayak kita yah sayang. " Aluna langsung mencubit bagian perut suaminya. Bisa - bisanya Arka mengatakan hal itu didepan ayah Ardian. Membuat Aluna malu saja pada ayah mertuanya yang pura - pura tidak mendengar itu. Tapi senyum ayah Ardian, membuat Aluna yakin bahwa ayah Ardian mendengar ucapan suaminya tadi.


Melepaskan tangannya dari genggaman sang suami, Aluna berlalu meninggalkan Arka. Aluna mencari kedua buah hatinya yang kata ayah Ardian bermain kuda - kudaan bersama Frans didepan. Aluna bisa melihat kedua anaknya bergantian menaiki punggung Frans.

__ADS_1


"Giska... Abang Al. " Keduanya langsung melihat kearah bunda mereka. Namun abang Al masih belum turun dari punggung sekertaris Frans.


"Ayo, makan siang dulu. Kasihan paman Frans udah capek. Turun abang Al. " Abang Al langsung turun dari punggung Frans.


"Makasih yah Frans, lain kali jangan mau diajak main kuda - kudaan lagi. " Frans hanya tersenyum mengiyakan perkataan istri tuan mudanya itu.


"Bunda Giska lapar. " Rengek putri kecilnya.


"Ayo, kita makan siang. Ayah juga nunggu kalian buat makan siang bersama. " Meraih kedua tangan anaknya, Aluna mengajak Abang Al dan Giska kedalam rumah.


"Ayah..." Teriak Giska berlari kecil kearah Arka.


"Hei, gadis kecil ayah. " Meraih tubuh mungil Giska.


"Ayah, Giska main kuda - kudaan sama paman Frans dan juga Abang Alka. "


"Oh yah, senang nggak mainnya? " Tanya Arka memencet hidung Giska.


"Senang dong ayah. " Jawab Giska penuh semangat.


" Sekarang Giska sama abang Al cuci tangan, kita makan siang sama - sama. " Kali ini Aluna meraih tubuh putrinya, menurunkan gadis kecil itu dan mengajaknya ke arah wastafel. Begitupun abang Al, dia ikut mencuci tangannya bersama bunda dan juga adiknya Giska.


***


Setelah makan siang bersama, Aluna kedatangan tamu yang tak lain adalah sahabatnya Santi bersama Bryan dan juga Maura, putri mereka.

__ADS_1


Arka juga belum minta maaf karena sudah memukul Bryan waktu itu dan kedatangan mereka selain silaturami, Bryan juga akan mengembalikan perusahaan ke tangan Arka. Bryan berencana akan kembali ke kota asalnya.


__ADS_2