
Pagi hari dikediaman keluarga Wiguna.
Seperti biasa pagi itu semua anggota keluarga Wiguna sudah ada dimeja makan, bersiap - siap untuk sarapan sebelum memulai aktivitas disepanjang hari itu. Mereka tinggal menunggu Maura, yah gadis itu memang selalu datang terlambat setiap kali sarapan ataupun makan malam.
" Biar bunda panggil Maura dulu. " Ucap Aluna hendak berdiri dari duduknya. Namun belum juga dia melangkahkan kakinya, sosok gadis itu sudah terlihat menuruni anak tangga. Tapi tunggu apa yang dia bawa?
Maura yang sudah sampai dianak tangga terakhir sambil menarik koper berwarna pink miliknya, melihat itu Aluna langsung bergegas mendekatinya. Arka, Giska dan Ardian sudah berdiri dari duduknya, mengikuti Aluna. Sedangkan Alka, laki - laki itu tetap duduk dimeja makan dan hanya sekilas menatap kearah Maura, lalu kembali menunduk karena dia sudah tahu mengapa Maura membawa kopernya pagi itu.
"Lho nak, kamu mau kemana? " Tanya Aluna pada Maura. " Iya kamu mau kemana sepagi ini? " Arka juga bertanya demikian.
"Maura mau pergi dari rumah ini tante, paman. " Jawabnya dengan tersenyum.
"Lho kenapa? Emang Maura tidak nyaman disini? Bukankah Maura liburan selama sebulan disini? " Aluna menyentuh lengan gadis itu lembut.
"Tidak kok tante, Maura nyaman disini. Hanya saja Maura sudah pengen pulang. "
"Kamu ada masalah dengan Al? " Kali ini Arka yang angkat suara. Belum juga Maura menjawab, Arka sudah memanggil anak tertuanya itu.
Alka mendekati ketiganya ketika namanya dua kali dipanggil sang ayah.
"Jelasin pada ayah kenapa Maura ingin pergi dari rumah ini? " Tanya Arka dengan suara tegasnya. Karena hanya Alka yang tidak kaget melihat Maura membawa koper miliknya. Itu artinya Alka pasti sudah tahu, kalau Maura hendak pergi.
Maura mengibaskan tangannya, ketika Alka tak kunjung menjawab.
"Paman, ini semua kemauan Maura. Tidak ada hubungannya dengan Abang Al. " Alka menatap Maura lekat. Apakah Maura berusaha menutupi pada keluarganya bahwa sebenarnya yang menyebabkan Maura pergi dari rumah itu, karena permintaan dirinya.
"Benar paman, ini maunya Maura. Abang Al tidak ada hubungannya dengan kepergian Maura kok. " Tambahnya karena melihat wajah Arka yang kurang yakin dengan ucapannya yang pertama.
"Yah sudah Maura pergi dulu yah tante, paman. " Sudah menyalami Arka dan Aluna secara bergantian. Lalu beralih memeluk Giska dan kemudian Ardian. Menatap Alka yang masih menunduk, Maura mendekati pria itu. " Abang Al, Maura pergi dulu. Jaga diri Abang Al baik - baik. " Maura memeluk Alka dan membisikan sesuatu. "Semoga Abang Al bahagia dengan kepergian Maura. Abang Al tidak perlu mengakhiri janji. Karena Abang Al hanya menjanjikan saat dewasa nanti bahkal jemput Maura. Jadi Abang Al lupakan saja janji itu. Karena Maura tidak akan pernah nunggu Abang Al buat jemput Maura lagi. " Wajah Alka berubah pias mendengar ucapan Maura.
Melepaskan pelukannya, Maura tersenyum.
"Yah sudah semuanya, Maura pergi dulu. " Ucapnya mulai berlalu, namun Aluna tetap menahan gadis itu. " Maura yakin sudah mau pergi? " Tanya Aluna lagi. Maura mengangguk, masih mempertahankan senyum dibibirnya. Jika Aluna masih berusaha menahannya, maka mungkin airmata yang ditahannya sedari tadi, akan lolos saat itu juga.
"Baiklah nak, jika itu sudah menjadi keputusanmu. Salam buat ibu sama ayahmu. " Ucap Aluna melepaskan lengan Maura yang dicekalnya tadi. Maura berjalan lagi, namun Aluna kembali mengejarnya. "Maura biarkan Abang Al mengantar Maura ke bandara. " Maura menggeleng. "Maura udah pesan taxi online tante. Taxi onlinenya udah ada didepan. " Aluna kembali memeluk gadis itu, setelahnya Maura benar - benar pergi meninggalkan rumah itu.
***
Sudah dua hari Maura meninggalkan rumah itu, Alka jadi kepikiran gadis itu. Bahkan dua hari ini, dia mengabaikan Violin yang memintanya ketemuan. Entah apa yang ada dipikiran Alka saat ini. Dia yang meminta Maura pergi, namun dia juga yang paling kehilangan gadis itu.
Mengabaikan ponselnya yang berdering, Alka masih menatap langit kamar, memikirkan sesuatu. Setelah beberapa saat ponsel itu kembali berdering tertera nama Rama disana. Memilih mengangkat panggilan itu, karena sedari tadi Rama sudah menghubunginya.
"Iya Ram. "
"Al, gimana? " Tanpa Rama menjelaskan panjang lebar kalimatnya, Alka sudah tahu arah pertanyaan Rama.
"Maura udah pulang dua hari yang lalu Ram. Dia udah ngga tinggal disini lagi. " Jawabnya lirih.
__ADS_1
" Nggak mungkin Al. " Alka mengeryitkan dahinya. Tidak mungkin bagaimana maksudnya. " Aku lihat dia kemarin. "
***
Alka melajukan mobilnya menuju hotel dimana Rama melihat Maura masuk kesalah satu lift hotel itu. Rama yang kebetulan bertemu dengan klien direstoran hotel itu, hendak mengejar Maura namun karena ada kliennya, Rama menundahnya.
Berlari kearah resepsionis, Alka menanyakan tamu yang bernama Maura Dianingsi Wijaya. Benar saja gadis itu sudah menginap selama dua hari disana. Alka dengan mudah mendapat informasi, karena hotel itu masih milik keluarganya. Hotel dimana Santi bekerja dulu.
Mengetuk pintu hotel beberapa kali, Maura yang baru selesai membersihkan tubuhnya, Memakai piyama terlebih dulu sebelum membuka pintu kamarnya.
Disaat dia membuka pintu dan melihat Alka, Maura langsung menutup pintu itu. Dia tidak mau bertemu Alka lagi. Dia juga belum pulang karena ingin menghabiskan sisa liburannya di kota itu.
Baru ingin mengganti pakaiannya, tiba - tiba pintu kamarnya terbuka dari luar. Alka langsung membalikkan tubuhnya, melihat Maura yang baru saja menjatuhkan piyamanya kelantai. Sedangkan Maura gadis itu berteriak sambil menutup tubuhnya dengan tangan.
"Cepat ganti pakaianmu. " Perintah Alka. Maura memilih mengambil pakaiannya dan menggantinya dikamar mandi.
"Kenapa kamu kesini? " Tanyanya yang baru saja keluar kamar mandi. Alka membalikkan tubuhnya, menghadap Maura sedang menatapnya sambil menyilangkan tangannya didada. Apa yang dia panggil tadi?
"Kamu? " Alka bertanya sambil menggeleng kepala. " Tapi baguslah, aku lebih suka kamu memanggil kamu atau Alka. " Sudah berjalan mendekati Maura.
"Kenapa kamu belum pulang? " Tanyanya yang sudah duduk diranjang gadis itu.
"Bukan urusanmu. " Jawab Maura sungut.
"Bukankah aku sudah menyuruhmu pulang? " Alka masih mengamati punggung gadis itu.
"Masih urusanku. Karena kamu tinggal dihotel milik keluargaku. " Tersenyum puas melihat raut wajah terkejut Maura. Kenapa dari banyaknya hotel di kota itu, dia bisa menginap di hotel milik keluarga Wiguna.
"Aku itu tamu disini. Apa semua tamu ditempat ini menjadi urusanmu? " Tanya Maura dengan sewot.
"Tidak semuanya. Hanya orang - orang penting saja. " Apa maksud ucapan pria itu. Maura malas menanggapinya.
"Kamu salah satunya. " Tambah Alka membuat Maura memutar bolanya malas.
"Kalau kamu sudah selesai ngomong, silakan keluar. " Maura menunjuk pintu kamar hotel dengan jari telunjuknya.
"Kamu ngusir aku? " Tanya Alka dengan ketus.
"Iya, aku ngusir kamu. Kenapa nggak suka? " Maura ternyata jauh menyeramkan jika sedang marah. Alka lagi - lagi berdecih. "Kamu ternyata pendendam rupanya. " Ucapnya kemudian.
"Maksud kamu apa? " Tanya Maura. Sedangkan Alka hanya mengangkat kedua bahunya. Seolah tidak ingin menjelaskan ucapannya tadi.
" Kalau tidak ada yang ingin kamu katakan lagi, sebaiknya kamu pergi. " Belum juga Alka ingin protes, tiba - tiba ponselnya berdering. Nama Vio tertera disana.
"Iya. Ada apa? " Masih melirik kearah Maura yang sudah duduk diranjangnya.
"Baiklah. Aku kesana sekarang. " Menutup panggilan telpon itu, Alka langsung bergegas meninggalkan kamar Maura. Sebelum sampai di pintu, dia berbalik sebentar. " Urusan kita belum selesai. " Setelah mengatakan itu dia berlalu meninggalkan Maura.
__ADS_1
Urusan apa yang belum selesai diantara mereka? Maura bingung dengan sikap Alka padanya. Menyuruh Maura pergi, tapi dia sendiri yang datang menghampiri Maura.
"Dari pada mikiran cinta yang nggak bisa bikin perut aku kenyang, mending aku keluar cari makan. " Mengambil tas ransel kecil miliknya, Maura meninggalkan hotel itu.
"Maura..." Saat mencapai lobby hotel, tiba - tiba ada yang memanggil namanya.
"Siapa yah? " Tanya Maura yang memang sudah melupakan pria itu.
"Rama. Kita pernah kenalan dirumahnya Alka. " Ucap Rama dengan senyum dibibirnya.
"Oh iya, kak Rama. Maura hampir lupa. " Padahal dia sudah lupa.
"Kamu mau kemana? " Tanya Rama yang memang tujuannya ke hotel ini untuk mencari Maura.
"Aku mau cari makan malam kak. " Jawab Maura jujur.
" Kebetulan, aku juga mau makan malam. Gimana kalau kita makan malam di restoran langganan aku. Dijamin kamu pasti suka. Disana selain makanannya enak, kamu juga bisa melihat pemandangan laut. "
"Benarkah? Maura suka laut kak. " Jawab Maura antusias.
"Iya, masa kak Rama bohong. " Menyentuh kepala Maura dan mengacak rambut gadis itu.
" Ayo. " Rama langsung meraih tangan Maura mengajaknya ke mobil. Maura hanya bisa mengikuti langkah kaki pria itu. Melihat kearah tangannya yang digenggam oleh Rama.
***
Butuh waktu sekitar 30 menit untuk mereka sampai ke restoran yang dimaksud Rama. Ternyata pria itu tidak berbohong, restoran itu menghadap laut. Jadi tamu yang datang, selain bisa menikmati makanan enak, juga bisa menikmati pemandangan laut.
"Tempatnya bagus banget. " Maura terlihat senang. Rama bersyukur jika dia tidak salah membawa Maura ke tempat ini. Buktinya Maura terlihat suka.
Disaat mereka masuk kedalam restoran itu, tanpa sengaja Rama melihat Alka yang juga makan malam disana bersama seorang gadis.
" Hai Al. " Sapa Rama membuat Alka terkejut. Bukan karena Rama makan di restoran itu. Karena memang Rama sering makan disana. Tapi yang membuat Alka terkejut adalah kehadiran Maura yang bersama Rama. Alka melirik Maura sebentar, lalu arah pandangnya turun ke tangan Maura yang memang sedari turun dari mobil digemggam oleh Rama.
" Al. " Kali ini gadis yang makan bersamanya berusaha menyadarkan Alka.
"Eh, iya. " Jawabnya kemudian.
" Ini siapa Al? " Tanya Rama yang memang tidak pernah melihat gadis itu sebelumnya.
"Oh Iya, kenalin ini Vio. " Vio langsung mengulurkan tangannya. "Violin" Ucapnya kemudian. Sedangkan Rama, karena tangannya masih menggenggam tangan Maura, dia hanya mengucapkan namanya saja tanya membalas uluran tangan Vio padanya.
" Ya sudah kita kesitu yah Al. " Rama berucap, sedangkan Alka hanya mengangguk mengiyakan.
_________
Maaf beberapa hari ini aku lagi sakit. Ini sebenarnya masih sakit tapi tetap kupaksain buat nulis walau hanya satu bab.
__ADS_1
Sekali lagi maaf. Ceritanya nggak bahkal aku bikin menggantung kok, tetap aku usahakan endingnya nggak ngegantung.