
Arka dan Frans pulang kerumah setelah pagi menyapa.
Pakaian yang dipakai Arka, sudah berlumuran lumpur. Semalaman dia memeluk makam istrinya. Frans selalu menemani laki - laki yang tak berdaya itu. Frans kini tahu betapa rapuhnya Arka tanpa Aluna. Frans ingat bagaimana Arka menjaga Aluna selama ini. Walaupun terikat dengan banyak aturan dan seolah membatasi kebebasan Aluna, Arka melakukannya semata - mata menjaga istrinya.
"Ya Tuhan, kamu kenapa nak? " Ayah Ardian mendekati Arka yang baru saja masuk kedalam rumah. Keluarga Aluna menatap iba keadaan Arka. Ibu Asmita bahkan tanpa sadar meneteskan airmata, melihat keadaan menantunya. Menyalahkan dirinya karena dia juga turut andil atas kejadian yang menimpa putrinya.
"Aku nemanin Luna ayah. " Ucapnya sambil menapaki anak tangga menuju kamarnya.
***
Seminggu telah berlalu, Arka masih sering mengunjungi makam yang bertuliskan nama istrinya disana.
Tante Ira, Nara dan Mira sudah pulang dua hari yang lalu. Sedangkan ibu Asmita, dia memilih tinggal, menemani Arka. Ayah Ardian juga ikut pindah dirumah anaknya, dia tidak mungkin meninggalkan Arka saat ini. Yang Arka butuhkan hanya dukungan menurut ayah dan bagi Arka yang dibutuhkan hanya Aluna, istrinya.
Sore itu tampak gelap, karena mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Hari ini Arka kembali melewati makan siangnya. Memilih mengunci diri dikamar sudah jadi pilihannya jika berada dirumah besar itu. Dia bukan Arka yang dulu lagi, menyedihkan sudah menjadi ciri khasnya semenjak kehilangan separuh jiwanya.
"Nak, bisakah mama Asmita masuk?" Dengan membawa nampan berisi makanan, ibu Asmita masih berdiri diluar kamar menantunya.
Tidak ada sahutan didalam sana, beberapa kali ibu Asmita mengetuk pintu dan memanggil nama menantunya, namun nihil. Seakan tidak ada orang didalam sana.
Frans yang mendengar suara ibu Asmita memanggil Arka, langsung ikut naik membantu ibu Asmita mengetuk pintu kamar tuan mudanya. Sama, tidak ada sahutan didalam sana. Dengan ragu - ragu Frans memilih mendobrak pintu itu. Butuh tendangan dan dorangan berkali - kali, barulah pintu itu terbuka.
Nampan berisi makanan yang dipegang ibu Asmita, langsung jatuh berhamburan dilantai. Suara dentingan pecahan alat makan, membuat Ardian yang baru saja datang langsung berlari menapaki anak tangga.
Ibu Asmita berteriak histeris melihat Arka yang sudah tidak sadarkan diri dengan beberapa butir obat tidur yang berserahkan dilantai. Frans langsung membopong tubuh Arka sambil berlari membawanya kedalam mobil. Ayah Ardian seakan melemas melihat kondisi anaknya. Dibantu ibu Asmita, ayah Ardian mengikuti mobil Frans bersama Adam bodyguard yang selalu setia menjaganya.
Ayahnya tidak menyangkah anaknya bisa selemah ini. Dia seperti bukan Arka yang ayah Ardian kenal.
***
Diluar ruangan Ardian berjalan kesana kemari, cemas sudah pasti. Ibu Asmita terlihat menunduk sambil duduk dikursi depan ruangan. Sedangkan Frans, dia menyadarkan tubuhnya di dinding rumah sakit. Baginya Arka sudah seperti saudara kandungnya. Jadi dia juga berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya.
Dokter Adit nampak keluar dari dalam ruangan.
"Dit gimana keadaan sepupumu? " Ayah Ardian bertanya.
"Iya, gimana keadaannya nak? " Ibu Asmita ikut bertanya setelah dia berdiri mendekati dokter Adit.
"Syukur Arka dibawa tepat waktu. Kondisinya saat ini sudah mulai stabil. Tapi psikisnya? " Dokter Adit terlihat menarik nafas kasar, sebelum membuangnya perlahan. " Arka tidak baik - baik saja om. Kalau dibiarkan terus seperti ini, Adit nggak tahu apa yang bahkal terjadi. " Ardian menutup matanya mencerna ucapan dokter Adit.
"Setelah Arka pulih, sebaiknya om mengajak dia, menjauh dulu dari semua kenangan tentang kakak ipar. Bukan Adit ingin Arka melupakan kakak ipar sepenuhnya, tapi ini semua untuk kebaikannya om. " Ibu Asmita mengerti, dia berujar setuju dengan pendapat dokter Adit. Arka sebenarnya bukan niat mau bunuh diri, dia hanya meminum obat tidur itu tidak sesuai anjuran dokter. Setiap dia mulai tidak bisa tidur, dia memilih meminum obat itu, bahkan dalam dosis yang berlebihan.
***
Arka sudah diperbolehkan pulang ketika berada tiga hari dirumah sakit. Hari ini ayah Ardian memutuskan untuk memberitahu Arka perihal mereka akan pindah ke Jerman. Namun dengan sangat keras, Arka menolak usul ayahnya. Alasannya, dia tidak ingin meninggalkan Alunanya sendiri. Dia takut jika Aluna kesepian dan mencarinya.
"Kalau kau tidak ingin mendengarkan ayah, baiklah. Sepertinya kamu tidak pernah menganggap bahwa ayah masih hidup. " Ayah Ardian mengambil pisau buah yang terletak diatas meja.
"Melihat kamu seperti ini lebih baik ayah mati saja. " Arka terkejut dengan tindakan ayahnya. Ayah Ardian mengancamnya, dengan berat hati Arka mengiyakan usul ayahnya.
Hari ini, ditemani ayah, ibu Asmita dan juga Frans Arka berkunjung ke makam istrinya. Dia memeluk nisan istrinya dengan lirih. Sambil beberapa kali mencium nisan itu, seraya ia berucap maaf berkali - kali. Ibu Asmita juga beberapa kali menghapus airmatanya.
__ADS_1
***
Hari ini Arka, Frans, ayah Ardian dan ibu Asmita akan berangkat ke Jerman. Sebelumnya Arka juga bertemu Bryan, memberi Bryan kepercayaan untuk mengelolah perusahaannya yang ada di negara ini. Tak lupa Arka menitipkan Aluna pada Bryan. Berharap Bryan akan menggantikan dirinya untuk sementara waktu menjaga makam Aluna.
***
Lima tahun berlalu, Arka sudah mulai menata hidupnya. Namun senyum manis yang dulu yang selalu menghiasi wajah tampannya, seakan tidak pernah tampak lagi.
Semalam ia memimpikan Aluna yang menangis mencarinya. Seakan mimpi itu terlihat sangat nyata.
Tidak seharusnya dia meninggalkan Aluna sendiri disana. Gadis itu pasti selalu menunggunya berkunjung. Arka menuruni anak tangga, mencari ayahnya.
Ayah Ardian dan ibu Asmita terlihat sedang duduk meja makan. Sepertinya mereka tengah menunggu Arka untuk sarapan. "Ayah, Arka mau kembali ke negara kita. " Ucapnya langsung pada intinya. Ayah Ardian dan ibu Asmita nampak terkejut, mendengar ucapan Arka barusan.
"Tapi nak? " Ayah Ardian aebenarnya juga ingin kembali kesana. Alasannya masih sama Kamila istrinya pasti kesepian ditinggal sendiri. ibu Arka juga sering datang dimimpinya, bahkan Kamila mengomeli ayah Ardian yang meninggalkannya.
"Ayah, Arka sudah tidak apa - apa. Arka hanya rindu saja pada Luna. " Sudah lima tahun, namun dia masih tetap merindukan istrinya itu.
Ibu Asmita kali ini setuju dengan Arka, negara ini terlalu asing baginya. Lagi pula dia semakin menua. Dia ingin meninggal dan dimakamkan ditanah kelahirannya. Melihat Arka yang sudah terlihat tegar, membuat ayah Ardian menuruti keinginan putranya.
***
Berkunjung ke makam sang istri, setelah tiba di Jakarta. "Dia siapa? " Dari jauh dia bisa melihat sosok gadis yang sepertinya baru saja mengunjungi makam istrinya.
"Itu mungkin Santi. " Bergumam dan mulai berjalan kearah makam istrinya. Sedangkan gadis tadi sudah pergi, meninggalkan area pekuburan. Makam istrinya juga masih sangat terawat. Bahkan ada beberapa bunga yang tersusun indah dimakam istrinya. Sepertinya Bryan selalu mengunjungi makam Aluna.
Meminta maaf sambil bercerita tentang kesehariannya di Jerman, mengawali kedatangannya ke makam itu.
***
Frans mengikuti Arka yang sudah mulai berjalan menyusuri taman itu. Taman bermain yang masih seperti dulu, saat pertama kali dirinya datang kesini.
Senyum Aluna, tawa Aluna bahkan masih didengar ditaman itu. Arka ingat istrinya itu menarik tangannya menuju stand eskirm di tengah taman. Arka melangkahkan kakinya kesana, ia ingin sekali mengulang hal itu.
Sebelum sampai ke stand eskrim, Arka melihat sosok anak kecil sekitaran umur 4 sampai 5 tahun berdiri tidak jauh dari stand Eskrim. Ia melihat kearah tukang eskrim dan segerombolan anak yang menunggu antrian eskrimnya. Bahkan Arka melihat sesekali gadis kecil itu menelan salivanya.
"Hai, kau mau itu? " Tanya Arka mendekati anak kecil tadi. Anak itu mengangguk.
"Tunggu disini paman akan belikan untukmu. "
Frans melihat tuan mudanya dengan sabarnya mengantri demi mendapatkan eskrim itu. Ia bahkan tidak menyuruh Frans untuk membelinya. Frans ingat Arka juga seperti itu, selalu sabar menunggu pesanan istrinya.
Dua cup eskrim vanila akhirnya didapat Arka.
" Ini buat kamu. " Memberi satu cup kepada gadis kecil yang masih berdiri itu. Namun bukannya mengambil, anak kecil itu malah menggeleng. Membingungkan Arka.
"Kenapa? " Tanya Arka yang masih memegang eskrim ditangannya.
"Bunda bilang, jangan mengambil sesuatu yang diberikan orang yang tidak kita kenal. Bisa saja itu orang jahat. " Ucapnya dengan mimik lucu. Sambil mengingat perkataan ibunya.
Arka memegang dua cup eskrim itu dengan tangan kirinya. Tersenyum dengan tulus untuk pertama kali selama lima tahun terakhir.
__ADS_1
Menyodorkan tangan kanannya kearah gadis yang terlihat bingung itu.
" Arka. Itu nama paman. " Ucapnya lagi dengan senyum. " Nama kamu siapa? " Tanyanya kepada gadis kecil itu.
"Giska paman. " Gadis itu membalas uluran tangan Arka. Arka diam, mungkin dia terkejut mendengar nama gadis itu. Nama yang setiap malam selalu disebutkan istrinya untuk nama anak perempuan mereka kelak.
Arka mengerjap bingung, saat gadis itu memanggilnya. Mungkin nama Giska terdengar bagus, makanya ada juga yang seperti istrinya memberi nama Giska pada anak perempuan mereka.
"Sekarang kita sudah kenal dan ini eskrim kamu. " Menyerahkan kembali eskrim yang tadi sempat ditolak Giska.
"Paman bukan orang jahat kan? " Masih enggan mengambil eskrim itu, padahal Arka tahu gadis kecil itu sudah menginginkan eskrim itu sedari tadi.
" Paman bukan orang jahat. Ini ambil. " Akhirnya gadis kecil itu mengambilnya.
"Ayo kita duduk disitu. " Arka menunjuk kursi tidak jauh dari stand eskrim. Langkah kaki kecil itu mengikuti Arka menuju kursi yang ditunjuk Arka tadi.
" Kamu seperti Luna, makannya belepotan. " Tanpa sadar Arka mengucap itu sambil membersihkan mulut gadis kecil itu dengan sapu tangannya.
"Giska. " Teriak anak laki - laki dari ujung sana.
"Kamu kemana aja? Sudah ku bilang jangan kemana - mana. Jika kamu hilang mommy akan memarahiku. " Sudah menarik tangan gadis kecil itu untuk mengikutinya.
" Bunda abang. " Arka jadi bingung.
" Kenapa juga kau dekat - dekat dengan adikku. Pasti kau yang membeli eskrim itukan? Kau hendak mengiming - imingkan adikku dengan eskrim murahan itu dan setelah itu kau bahkal menculiknya kan? " Arka terkejut, seorang bocah laki - laki yang sepertinya umurnya sama dengan gadis itu bisa berbicara seperti itu padanya.
Frans tersenyum melihat Arka yang dimarahi seorang anak kecil. "Dia sepertimu tuan. " Gumam Frans dalam hati.
Belum sempat Arka ingin berdebat dengan bocah itu. Dia sudah menarik tangan adiknya.
"Jangan berniat jahat pada adikku. Aku akan memukulmu. " Arka ingin sekali menjewer telinga anak itu, mengajarinya sopan santun.
" Paman aku pulang, maafin abang Al yah. " anak gadis itu melambai kearah Arka.
"Untuk apa minta maaf, abang Al tidak salah yah. " Arka masih mendengar ucapan bocah laki - laki menyebalkan itu.
"Adiknya terlihat manis, kakaknya terlihat menyebalkan. " Gerutu Arka dengan kesal. Baru kali ini Frans melihat tuannya kembali hidup. Mulai besok Frans akan mengajaknya terus ketaman ini.
____________
Kurang baik apa sih aku sama kalian yang minta lanjut pas selesai makan ketupak. hahaha
Sayangnya nggak makan ketupak aku, nggak lebaran juga. Hanya ikut bergembira dengan bulan yang Fitri untuk kaum muslim.
Semoga berkah yah untuk hari ini.
Walau tidak bertatap muka, kita tetap keluarga. Walau tidak berjabat, kita tetap saling memaafkan.
Ok jangan lupa sampulnya yah. wkwkwkk
Yang isinya 50 sampe 100 ribuan yah. Minta sama paman Arka yah.
__ADS_1