Aku Ternyata Sangat Mencintainya

Aku Ternyata Sangat Mencintainya
MENYURUH MENIKAH


__ADS_3

Keesokan harinya Ardian menyuruh asisten rumah tangga untuk memasak makanan yang enak - enak karena malamnya Aluna akan datang makan malam dengannya. Ardian juga menghubungi Arka untuk datang makan malam dengannya dan Arka mengiyakan.


Malam itu semua jenis masakan sudah tersedia di meja makan. Arka juga sudah datang bersama dengan sekertaris Frans. Namun seperti biasa sekertaris Frans hanya menunggu di depan rumah saja.


"Ayo kita makan ayah." Ucap Arka karena melihat semua makanan sudah tersedia di meja makan. Arka tidak tahu jika Aluna juga diundang ayahnya untuk makan malam bersama. Seketika itu juga sekertaris Frans masuk disusul dengan Aluna. Melihat Aluna datang Ardian langsung mempersilakan Aluna duduk. Aluna duduk tepat berhadapan dengan Arka. Sedangkan Ardian duduk di kursi tepat di kepala meja.


"Kenapa sih ayah mengajak dia makan disini. Kalau aku tahu dia makan malam di sini, aku akan menolak ajakan ayah." Ucap Arka dalam hati".


Merekapun mulai dengan acara makan malamnya. Arka hanya diam dan fokus dengan makanannya. Sedangkan Ardian sesekali mengajak Aluna bicara.


"Oh yah Luna, om ingin kau menjadi bagian keluarga om. Om sudah menganggap Luna seperti anak om sendiri." Ucap Ardian ditengah makannya.


"Makasih om. Luna juga sudah menganggap om seperti ayah Luna sendiri. " Sahut Aluna dan kembali memasukkan makanan kedalam mulutnya. Sedangkan Arka masih tetap fokus dengan makanannya.


"Luna apa kau ingin menikah dengan Arka anak om?" Tanya Ardian langsung kepada Aluna dan mendengar hal itu Luna langsung batuk - batuk karena kaget dan meraih air minum yang ada disamping piringnya. Begitu juga dengan Arka mendengar ucapan ayahnya sendok yang dia pegang jatuh berbunyi dengan keras di piringnya.


"Ayah Arka belum siap menikah." Jawab Arka menatap kesal ayahnya.


"Iya om, Luna juga belum kepikiran menikah. Apalagi Luna baru beberapa kali ketemu anak om." Sahut Aluna sambil menghentikan aktivitas makannya.

__ADS_1


"Kalian bisa belajar saling mengenal dulu." Ucap Ardian berharap Aluna dan juga Arka mendengarkan ucapannya dan mempertimbangkan apa yang disampaikannya.


"Ayah Arka tetap tidak akan menikah apalagi dengan dia." Kata - kata Arka penuh dengan penekanan pada kata terakhirnya. Matanya menatap Aluna tidak suka.


"Iya om, Luna sangat berterima kasih karena om sudah menganggap Luna seperti anak sendiri. Kalau untuk menikah sepertinya itu tidak mungkin om. " Jawab Aluna menatap Ardian.


"Tolong dipikirkan lagi. Ayah tidak butuh kalian menjawabnya sekarang. Ayah akan memberi kalian waktu." Ardian kembali menatap kedua orang yang sama - sama menolak pernikahan yang sudah diusulkannya.


"Arka tidak perlu berfikir ayah. Arka tetap pada pendirian Arka. Arka tidak akan menikah. Karena semua wanita sama saja, hanya ingin mengincar harta kita. Jika kita tidak punya apa - apa maka akan gampangnya dia meninggalkan kita dan mencari mangsa baru." Ucap Arka sambil memandang kearah Aluna.


"Apa maksud anda tuan?" Tanya Aluna yang tidak suka dengan pernyataan Arka barusan bahwa semua wanita sama saja. Berarti termasuk Aluna.


"Sudah jangan bertengkar. Ini semua salah ayah." Ardian terlihat sedih dan mulai beranjak dari duduknya dan menuju kamarnya.


Melihat Ardian sudah meninggalkan meja makan, Aluna pun pamit pulang kepada Arka walau tak dijawab Arka. Setelah Aluna pergi Arka juga mengajak sekertaris Frans untuk mengantarnya pulang. Tetapi sebelum Arka pulang, dia berpesan kepada Adam salah satu bodyguard ayahnya untuk tetap menjaga dan melindungi ayahnya. Setelah itu Arka dan juga sekertaris Frans pulang dari rumah ayahnya.


Setelah esok hari tepatnya siang hari, Adam menghubungi Arka tetapi karena ada meeting dengan klien Arka tidak mengangkat teleponnya. Adam terpaksa menghubungi sekertaris Frans dan terlihat sekertaris Frans mendekati Arka dan membisikkan sesuatu. Arka langsung mengakhiri meeting nya dan urusan klien Arka menyuruh sekertaris kantornya untuk melanjutkan meeting.


Arka berlari diikuti sekertaris Frans. Terlihat ada kepanikan diwajahnya. Mereka menuju halaman parkir kantor untuk mengambil mobil. Setelahnya mereka meninggalkan kantor dan menuju rumah sakit dimana Ardian dilarikan. Adam menghubungi sekertaris Frans hendak mengabarkan bahwa Ardian pingsan di rumahnya dan Adam membawanya ke rumah sakit milik keluarga Arka.

__ADS_1


"Ayah bertahanlah." Gumam Arka didalam mobil. Sedangkan sekertaris Frans melirik spion melihat tuannya yang terlihat panik, Ada ketakutan tersendiri dimata tuannya.


Setelah sampai di rumah sakit, Arka langsung berlari menyusuri lorong dimana ayahnya dirawat. Ardian dirawat di ruangan khusus yang biasanya digunakan hanya untuk keluarga Arka. Jadi Arka sudah tahu dimana ruangan ayahnya dirawat.


Setelah sampai di ruangan ayahnya, Arka melihat dokter Adit baru selesai memeriksa ayahnya.


Arka mendekati ayahnya dan menggenggam tangan ayahnya yang sudah terpasang infus di sana.


"Dit gimana kondisi ayah?" Tanyanya kepada dokter Adit sekaligus sepupunya itu.


"Om Ardi kena serangan jantung. " Ucap Adit sembari memegang pundak sepupunya.


"Sepertinya om Ardi banyak pikiran. Ar apa kalian bertengkar?" Tanya Adit menatap sepupunya.


"Kami tidak bertengkar hanya saja belakangan ini ayah ingin aku menikah." Sahut Arka sambil kembali menatap ayahnya.


"Sebaiknya jangan bicara yang membuat Om kepikiran. Untuk sementara turuti aja kemauan om." Ucap Adit mengingatkan sepupunya.


Arka hanya diam menatap ayahnya sambil sesekali dia mencium punggung tangan ayahnya.

__ADS_1


"Ar aku tinggal sebentar yah, Jika ada apa - apa hubungi aku. Ingat jangan bicara yang membuat om kepikiran" Adit kembali mengingatkan dan pamit kepada Arka karena ada pasien lain yang perlu dia tangani. Arka mengiyakan dan Adit keluar meninggalkan ruangan Ardian.


__ADS_2