
"Abang... " Mengetuk pintu putra sulungnya.
"Iya bun, bentar. " Teriak Alka dari dalam kamar. Membuka pintu beberapa saat kemudian.
"Maaf yah bun, Al lagi ganti baju tadi. " Sambil mengeringkan rambutnya yang masih basah, Aluna tahu putranya baru selesai mandi.
"Bunda boleh masuk? " Membuka pintu lebar - lebar Alka mengajak sang bunda kedalam kamarnya.
" Ada yang bunda pengen omongin sama Abang. " Sudah duduk ditepi ranjang. Menuntun putranya untuk duduk disampingnya.
Menggenggam tangan putranya lembut sebelum memulai pembicaraan.
"Kemarin Maura telpon bunda lagi. " Terlihat Alka menarik nafas kasar dan membuangnya.
"Kata Maura, Abang lagi - lagi tidak mengangkat panggilan telpon dari Maura. " Semenjak Alka beranjak remaja, dia tidak lagi berkomunikasi dengan Maura. Padahal sewaktu mereka kecil hingga Alka duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama, dia masih sering bicara dengan Maura diponsel bunda, sewaktu Santi menghubungi sang bunda.
Aluna dan Arka saat liburan juga, sering mengunjungi ibu Asmita yang saat ini memilih tinggal di kampung halamannya. Dimasa tuanya ibu Asmita ingin menghabiskannya ditanah kelahirannya. Agar kelak, ketika kematian menghampirinya, dia bisa dimakamkan disamping kuburan sang suami. Alka, Giska dan juga Ardian juga sering diajak. Sesekali mereka juga mengunjungi Bryan dan Santi.
" Kenapa sih Abang sudah tidak pernah angkat telponnya Maura? " Alka menatap ibunya.
" Kasihan lho Mauranya, selalu tanyain Abang sama bunda. Kalian waktu kecil kan suka main sama - sama. " Masih bundanya yang berbicara.
"Waktu itu kan, Al masih kecil bun. Sekarang Al udah dewasa, udah 23 tahun. " Jika dia sudah dewasa apa dia tidak bisa berteman dengan Maura.
__ADS_1
" Bun, Al sudah punya pacar. Namanya Violin. Sebentar lagi Al akan ajak Vio buat ketemu sama bunda dan ayah. " Alka tahu, ibunya ingin sekali menjodohkan Maura dengan dirinya.
Aluna tidak bisa berkata apa - apa. Aluna bukan orangtua yang ingin melarang anak - anaknya memilih pasangan hidup. Karena dia tahu bagaimana rasanya, ditolak oleh orangtua sang pacar.
"Yah sudah, terserah Abang saja. " Berdiri dari duduknya, mulai meninggalkan Alka yang masih duduk diranjang.
Berbalik sebentar, Aluna menatap putranya. "Setidaknya bertemanlah dengan Maura. Karena dia sudah bunda anggap seperti anak sendiri. Jadi Abang bisa juga menganggap Maura seperti adik sendiri. Besok Maura akan liburan kesini. " Menatap tidak percaya apa yang dikatakan bundanya barusan.
Setelah mengatakan itu, Aluna berlalu meninggalkan putra sulungnya.
"Dari kamarnya abang bun? " Giska yang baru keluar dari kamarnya, kamar yang hanya bersebelahan kamar dengan Alka.
"Iya. "
" Kenapa sih Abang Al, nggak mau berhubungan lagi sama Maura? Padahal yah bun, waktu kita pulang dari rumah paman Bryan dan juga tante Santi, Alka waktu itu nyium Maura lho bun. " menerawang kemasa 7 sampai 8 tahun yang lalu. Disaat mereka masih remaja.
" Kamu harus nunggu abang Al. Abang Al kalau udah dewasa bahkal jemput Maura. Oke? " Giska bahkan masih ingat ucapan Al waktu itu, di taman belakang rumah Maura.
"Oke. Maura akan tunggu Abang Al. " Ucap gadis berambut panjang dengan poni yang hampir menutupi matanya. Alka mencium pipi gadis itu dan Maurapun membalas hal yang sama.
Setelah itu Alka mengajak Maura kedepan rumah Maura. Karena Alka dan juga keluarganya akan kembali ke Jakarta.
"Tapi kenapa sekarang Abang Al jadi berubah yah bun? " Aluna juga tidak habis pikir. Kenapa Alka tidak mau lagi,berhubungan dengan Maura. Jangankan melihat photo Maura, mengangkat telpon dari Maura pun Alka sudah tidak pernah.
__ADS_1
"Kata Abang Al, dia sudah dewasa dan dia juga sudah punya pacar. Jadi mungkin aja, Abang Al berusaha menjaga jarak dengan gadis lain. Biar pacarnya nggak cemburu." Begitu kira - kira yang dirasakan putranya.
"Oh sih Vio itu? Abang Al kan baru pacaran beberapa bulan dengan dia bun. Sedangkan Abang Al udah lama nggak mau ngomonong sama Maura. " Giska juga kenal dengan Viona. Karena gadis itu, seprofesi dengannya. Seorang model.
"Jadi kamu kenal dengan pacarnya Abang kamu itu? " Aluna bertanya penasaran.
"Kenal bun. Dia itu model yang baru naik daun. "
"Baik nggak orangnya? " Bukan cantik yang Aluna tanyakan. Tapi kepribadian gadis itu.
"Nggak tahu juga bun, tapi kata teman - teman Giska, dia agak ambisi dan juga matre bun. " Bagi Aluna kebahagian putra dan putrinya nomor satu. Jadi dia tidak ingin, anaknya salah memilih pasangan hidup. Mereka menundah obrolan mereka, ketika suara ketukan pintu.
"Masuk. " Giska berteriak dari dalam kamar.
"Oh disini rupanya. " Arka yang sudah dari tadi mencari keberadaan istrinya.
" Bisakah ayah mengambil milik ayah. " Sudah masuk kedalam kamar dan menarik pergelangan tangan istrinya. Giska hanya tersenyum melihat tingkah sang ayah.
" Ayah, mau ajak bunda kemana? " Tanya Giska sebelum kedua orangtuanya menutup pintu.
"Bulan madu. " Sambil berlalu mengunci pintu anaknya terlebih dulu.
"Iss dasar. " Giska tersenyum. Giska berharap dia bisa menemukan pria yang mencintai dirinya. Seperti sang ayah yang sangat mencintai bundanya.
__ADS_1