
Hari berikutnya Darren menghampiri Freya yang sedang duduk menonton televisi bersama dengan sang mama, Freya duduk sambil mengelus perutnya yang semakin membesar.
"Sayang." panggil Darren.
"Iya ada apa sayang." Balas Freya.
"Kamu gak berniat untuk bertemu dengan Daddy?" Tanya Darren yang membuat Freya langsung menatap suaminya.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Ucap Freya heran.
"Tidak apa-apa aku hanya ingin bertanya saja." Balas Darren, ia melirik mama nya sekilas yang duduk di samping Freya tanpa merasa terganggu.
"Kamu tidak biasanya bertanya begitu, jangan bilang kamu mau menyerahkan aku kepada Daddy?" Ucap Freya, kini tatapan nya begitu sendu.
Mama yang mendengar perkataan Freya merasa hatinya teriris, ia merasa Freya begitu mencintai Darren. Freya terlihat takut jika Darren akan meninggalkan nya dan menyerahkan dirinya kepada Alex, sebagai orang tua mama Darren merasa bangga dengan besarnya cinta Freya.
"Hah, kenapa kamu berfikir seperti itu?" Tanya Darren terkejut.
"Ya karena kamu tiba-tiba membicarakan tentang Daddy." Ucap Freya.
"Ya ampun sayang tidak seperti itu, aku hanya bertanya aku takut kamu merindukan Daddy namun tidak berani bicara kepadaku." Ucap Darren, lelaki itu merangkul pundak Freya dan memeluknya.
"Really?" Tanya Freya, Darren tertawa kecil mendengar perkataan Freya.
"Tentu saja, aku tidak mungkin menyerahkan kamu kepada Daddy kamu honey." Ucap Darren, mata Freya pun berkaca-kaca dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Darren.
"Ya." Jawab Freya.
"Ya? Ya maksudnya?" Tanya Darren.
"Aku rindu Daddy, aku tidak bisa berbohong tentang ini Darren aku rindu pelukan hangat Daddy ku." Lirihnya dengan suara yang tenggelam, karena Freya menenggelamkan wajahnya di dada sang suami.
Mendengar suara parau Freya membuat Darren dan mama nya saling memandang satu sama lain, Darren merasa ia gagal karena membuat istrinya bersedih.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak bicara tentang itu?" Tanya Darren.
"Aku memang merindukan Daddy, tapi aku lebih takut jika kamu akan marah dan meninggalkan aku. Bukankah setelah menikah wanita menjadi tanggung jawab suaminya, dan apapun yang dilakukan harus atas ijin dari suaminya?." Lirih Freya, Darren semakin mempererat pelukannya.
"Sayang aku tidak sejahat itu, jika kamu mengatakan kamu merindukan Daddy aku tidak akan melarang kamu untuk menemuinya." Ucap Darren.
"Maafkan aku, aku lebih suka menjaga perasaan suamiku." Lirih nya, jujur saja setelah pergi dari rumah dulu Freya merasa hidupnya sebatang kara.
Orang tua satu-satunya yang ia miliki tak bisa jadi pelindung baginya, dan Freya merasa hanya Darren dan orang tuanya yang ia miliki. Perasaan itu muncul saat Alex bersikeras ingin memisahkan Freya dengan Darren, Freya tidak munafik ia begitu mencintai Darren apalagi setelah ia tahu jika dirinya mengandung anak Darren.
"Meskipun perasaan kamu terluka, hmmm?" Ucap Darren.
"Maafkan aku." Lirih nya.
"Tidak apa-apa, kamu ingin bertemu dengan Daddy?" Tanya Darren.
"Hmmm, tapi tidak sekarang." Balas Freya, ia menegakkan kepalanya menatap Darren.
"Kenapa?" Tanya Darren.
"CK, baiklah kapanpun itu kamu bicara saja padaku oke. Jangan pernah berpikir jika aku akan marah, demi tuhan Freya kebahagiaan kamu adalah yang terpenting untukku." Ucap Darren, ia mengecup kening Freya dengan lembut.
"Terimakasih atas perhatian kamu Darren." Lirih Freya.
"Lupa ya disini ada mama nya." Ledek sang mama.
"Ma bisa diem dulu gak si ini mantu sama anaknya lagi mesra-mesranya loh." Ucap Darren.
"Ya kamu sadar dong Darren masa mau mesra-mesraan depan mama, dikamar lah kalian kan punya kamar." Ucap mama mencebikan bibirnya.
"CK, gak usah cemburu gitu mama sudah tua sudah mau punya cucu juga." Balas Darren.
"Emang kurang asem punya anak, kalau bukan karena kamu ayah dari bayi yang Freya kandung sudah mama masukan kembali kamu kedalam perut!" Ucap mama, Freya dan Darren pun tertawa mendengar perkataan mama nya.
__ADS_1
"Ma." Panggil Freya.
"Iya sayang kenapa?" Tanya mama.
"Menurut mama gimana?" Tanya Freya lagi.
"Loh kok tanya mama, bagus dong sayang kalau Darren sudah mengijinkan kamu untuk bertemu dengan Daddy dan kakak kamu." Ucap mama Darren.
"Mama dukung niat Darren untuk memperbaiki hubungan aku dengan Daddy?" Tanya Freya, mama tersenyum manis bahkan sanger manis.
"Dari awal mama tidak setuju dengan pertengkaran antara Darren dan Daddy kamu Frey, hanya saja kamu tahu sendiri bagaimana suami kamu kan." Balas mama lagi, Freya tertawa mendengar perkataan mama.
"Ma jangan jelek-jelekin aku di hadapan Freya dong." Grutu Darren, mama tertawa kecil melihat putranya yang merajuk.
"Loh mama gak jelek-jelekin kamu ren, hanya saja istri kamu pasti paham bagaimana sikap kamu." Ujar mama, Freya tersenyum manis ia suka melihat Darren yang merajuk manja kepada mama nya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Happy reading π€π jangan lupa like komen dan vote nya πβΊοΈ