Antara Cinta Dan Dendam

Antara Cinta Dan Dendam
Epson 136


__ADS_3

Sementara itu di ruang ruangan yang baru saja menjadi saksi pernikahan Gabriel dan Kanaya Freya menghampiri Sintia bunda dari Kanaya, begitupun dengan Darren yang menghampiri Dani selaku ayah dari Kanaya.


" Bu Sintia." Panggil Freya kepada Bu besan nya.


"Ah iya nyonya." Balas bu Sintia.


"Freya panggil saya Freya saja." Ucap Freya, bu Sintia pun mengangguk dan tersenyum manis.


"Baiklah Freya." Balas bu Sintia.


"Begini karena pernikahan nya sudah selesai saya ingin langsung mengajak Kanaya untuk pergi dan tinggal dirumah saya." Ucap Freya.


"Begitukah, apakah Kanaya dan Gabriel tidak bisa menginap dulu disini?" Tanya Sintia, Freya diam ia menatap suaminya yang sedang duduk disamping pa Dani.


"Kalau saya terserah Gabriel nya saja Bu, kalau Gabriel mau silahkan saya tidak akan memaksa Kanaya untuk langsung ikut pulang dengan kami." Ucap Freya.


Gabriel yang melihat tatapan memohon dari Bu Sintia pun merasa tidak tega, apalagi ia tahu jika Kanaya adalah putri satu-satunya dari pasangan Dani dan Sintia.


"Gabriel gak apa-apa kok mam lagian bukankah Gabriel juga harus melakukan pendekatan dengan tante dan om, apalagi mereka sekarang ini sudah menjadi mertuanya Gabriel." Ucap Gabriel.


Darren tersenyum senang mendengar perkataan putranya, ia merasa menikahkan Gabriel dengan Kanaya adalah keputusan yang sangat tepat.


"Baiklah kalau begitu nak mami, Daddy, buna dan ayah pamit pulang dulu." Ucap Freya.


"Hmmm." Balas Gabriel.


"Jaga istri kamu boy jangan kamu sakiti dia, kamu harus seperti Daddy kamu yang begitu mencintai mami kamu." Ucap Alex memeluk cucu laki-lakinya.


"Iya ayah." Balas Gabriel.


"Buna pulang dulu ya nak jaga diri baik-baik, jaga istri kamu juga sayangi dia seperti kamu menyayangi mami, aunty, dan buna kamu okei." Ucap Ellen, tak lupa ia mengecup pipi kanan dan kiri Gabriel.


"Siap buna." Balas Gabriel.


Kanaya yang melihat itu terharu ternyata keluarga Gabriel sangat baik, bahkan ia sendiri masih merasa seperti mimpi karena menikahi bos nya sendiri.


"Kanaya mami pulang dulu ya sayang, titip Gabriel kalau dia macem-macem kamu jewer saja kupingnya." Ucap Freya, yang membuat Kanaya tersenyum.


"Baik nyonya." Balas Kanaya.


"Sayang panggil saya mami sekarang ini saya sudah menjadi mami kamu juga nak." Ucap Freya lembut.


"Ah iya mami maaf." Lirih nya, Freya pun tersenyum manis dan memeluk Kanaya.


"Nay Daddy pulang dulu, kami akan menunggu kedatangan kamu dirumah." Ucap Darren, lagi-lagi Kanaya mengangguk.

__ADS_1


"Baik dad." Balas Kanaya.


Ketika semua anggota keluarga akan pulang kini tinggal Adisty yang berjalan mendekati Gabriel, ia sangat berharap jika Kanaya mau pulang kerumahnya agar Adisty tidak merasa kehilangan sosok Gabriel.


Dengan wajah merah dan mata berkaca-kaca Adisty langsung memeluk tubuh tinggi tegap sang kakak, ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Gabriel.


"Kak aku pulang dulu ya, kakak juga jangan lupa pulang. Adist sayang banget sama kakak, dan selamat untuk pernikahan kalian." Lirih Adisty, semua orang yang melihat itu merasa tidak tega.


"CK, kamu kenapa menangis hmmm? Aku hanya menikah Adisty dan pasti akan kembali kerumah." Ucap Gabriel, ia mengelus lembut kepala Adisty.


"Tetap saja Adisty merasa takut kalau nanti kakak tidak kembali ke rumah dan memilih tinggal disini, tapi tidak masalah juga si kalau kakak tinggal disini mungkin Adist yang akan sering kesini merepotkan kak Naya, bunda dan ayahnya." Ucap Adisty.


Laura yang melihat kedekatan Gabriel dengan Adisty pun merasa terkejut, pasalnya selama ingin Gabriel selalu memasang wajah datar di kantor nya.


"So cute." Ucap Laura, yang membuat Kanaya mengangguk.


"Sayang sudah kakak kamu pasti lelah dan harus istirahat, kita pulang sekarang." Ajak Freya memegang pundak putri bungsunya.


"Mam boleh gak si Adist menginap disini saja bersama kakak." Canda nya.


"Hah, gak boleh dong sayang kita pulang sekarang oke." Ujar Freya lagi dengan lembut, sementara Darren ia tersenyum melihat Adisty yang masih memeluk Gabriel.


"Disty ayok pulang nak." Ajak Darren.


"Emmm, baiklah dad." Balas Adisty, dengan terpaksa iapun melepaskan pelukannya.


"Eh, i-iya." Balas Kanaya, akhirnya semua anggota keluarga Darren pun pergi dari kediaman Dani dan Sintia.


"Nak Gabriel sebaiknya kamu beristirahat di kamar." Ucap Dani.


"Iya om." Balas Gabriel.


"Panggil saya ayah nak, sama seperti Kanaya yang memanggil orang tua kamu dengan sebutan mami dan Daddy." Balas Dani.


"Ah maaf ayah." Ucap Gabriel, Dani pun tersenyum kepada Gabriel yang sudah berlalu menuju kamar Kanaya.


Di tatapnya kamar yang tidak besar dan tidak terlalu kecil itu, dan pandangan nya teralihkan kepada tempat tidur yang berukuran sedang tidak sebesar tempat tidur miliknya dirumah.


Melihat itu semua Gabriel hanya bisa menghela nafasnya, ia berjalan menghampiri jendela kamar dan menatap lurus keluar. Gabriel merenungi nasibnya yang kini sudah menjadi seorang suami dari wanita yang tidak ia kenal, ralat ia tahu Kanaya namun tidak mengenalnya karena tidak ada pendekatan di antara mereka berdua.


Sementara itu Kanaya yang sudah berganti pakaian membantu sang bunda merapikan rumah yang tadi sempat berantakan dibantu juga oleh Laura, sebenarnya Sintia sudah melarang namun Kanaya kekeh ingin membantu bunda nya begitupun dengan Laura.


"Nay tadi kan lo masuk kamar mau ngambil baju, terus tuan Gabriel lagi apa nay?" Tanya Laura kepo.


"Lagi ngelamun sambil mainin hp." Jawab Kanaya.

__ADS_1


"Gimana si ngelamun apa main hp nay, mana ada ngelamun sambil main hp." Oceh Laura, Kanaya dan bunda Sintia hanya tertawa saja.


Setelah semuanya selesai Laura pun pamit untuk pulang, ia mendekati Sintia dan memeluk bunda dari sahabatnya itu.


"Bunda Laura pulang dulu ya, bunda baik-baik jaga kesehatan nya juga." Ucap Laura.


"Iya sayang, kamu juga hati-hati pulang nya ya nak. Lagian kenapa tidak menginap disini saja?" Ucap Sintia.


"Hehe, gak bisa bunda Kanaya kan sudah menikah masa aku mau tidur bertiga sama Kanaya dan tuan Gabriel." Canda Laura yang berniat menggoda sahabatnya itu.


"Ck, disini masih ada kamar ya Ra." Ucap Kanaya.


"Tapi aku maunya tidur sama kamu gimana dong?" Goda Laura.


"Ya gak apa-apa kita kan bisa tidur di kamar yang lain." Ucap Kanaya, yang mendapat tertawaan dari Laura, dan ayah bunda nya.


"Haha, ngarang. Udah ah aku mau pulang dulu, selamat beristirahat Kanaya ku sayang." Ucap Laura, ia memeluk Kanaya lalu pergi untuk pulang.


"Sudah sayang sebaiknya kamu masuk dan istirahat." Ucap Sintia.


"Bund aku tidur di kamar yang lain ya." Ucap Kanaya.


"Loh mana boleh seperti itu sayang kamu sudah menikah." Ucap Sintia.


"Tapi bund." Lirihnya lagi.


"Nay kamu harus mulai terbiasa dengan ini, lagian Gabriel itu suami kamu nak bukan orang lain. Dan satu lagi hormati Gabriel dan berbakti lah kepadanya, seperti bunda kamu yang selalu ada bersama ayah apapun keadaannya." Ucap Dani.


Mendengar perkataan kedua orang tuanya Kanaya pun mengalah, ia berjalan menuju kamar yang ia tempati dan kini ada sosok Gabriel di dalam nya.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Happy reading πŸ€—πŸ˜‰ jangan lupa like komen dan vote nya πŸ™β˜ΊοΈ


__ADS_2