Antara Cinta Dan Dendam

Antara Cinta Dan Dendam
Epson 147


__ADS_3

Kanaya menatap leher dan dada nya terdapat beberapa tanda kepemilikan disana, ia menghela nafasnya kejadian semalam benar-benar membuatnya kehilangan muka di hadapan Gabriel.


"Aku belum melakukannya kan, ya aku dengar semalam Gabriel mengatakan jika dia tidak akan bertindak lebih jika bukan aku yang memintanya." Lirih Kanaya, ia tak percaya ternyata Gabriel begitu menghargai dirinya.


"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Gabriel, ia merasa heran karena melihat Kanaya terus mematung di hadapan cermin.


"Lihat aku," ucap Kanaya.


"Cantik!" Balas Gabriel santai.


"Cantik katamu," ucap Kanaya tak habis pikir.


"Ya memang kau cantik mau diapakan lagi honey." Ucap Gabriel, ia menatap Kanaya dengan lembut.


"Gabriel kau tidak lihat leherku," balas Kanaya masih berusaha untuk sabar.


"Bagus bukankah itu terlihat indah berada di atas kulit putih bersih mu." Ujarnya berlalu meninggalkan Kanaya, melihat respon Gabriel membuat Kanaya ingin sekali memukul kepala suaminya itu.


Berbeda dengan Gabriel yang menahan tawa nya sejak tadi, ia sendiri tidak percaya kenapa dirinya bisa melakukan itu kepada Kanaya. Namun sungguh Kanaya bagaikan candu untuknya, bahkan membayangkan nya saja sudah membuat Gabriel seperti orang gila senyum-senyum sendiri.


"Itu aku belum benar-benar men*duri nya, bagaimana jika hal itu benar-benar terjadi aku akan benar-benar g*la karena Kanaya." Ujarnya.


Semua orang sudah berkumpul di ruang makan, Alice bahkan sampai menginap karena ingin melihat hasil kerja kerasnya dengan Gio semalam.


"Aunty sebenarnya apa yang kamu dan Gio rencanakan?" Tanya Adisty, gadis cantik itu masih merasa penasaran.


"Aduh baby girl kamu diam saja sayang nanti juga kamu bisa lihat hasil kerja keras aku dan Gio." Ucap Alice.


"Cih, kau menyebalkan! Kalian memiliki sebuah misi tapi tidak mengajakku untuk bergabung." Protes Adisty, Alice menoleh menatap keponakan kesayangan nya.


"Bagaimana aku bisa mengajakmu jika kau saja kemarin selalu menempel dengan Kanaya, tak hanya itu bukankah kemarin kau pergi ke pesta gadis cantik." Ucap Alice, Adisty pun hanya mencebikan bibirnya saja.


"Selamat pagi semuanya," ucap Gabriel dan Kanaya.


"Pagi sayang," balas Freya, ternyata tidak hanya Kanaya Gabriel juga memiliki tanda kepemilikan di lehernya dan itu tidak disadari oleh Kanaya maupun Gabriel.


"Kak leher kakak kenapa kok merah-merah gitu?" Tanya Adisty polos, dan sontak saja semua orang menatap Gabriel termasuk Kanaya.


"Tidak apa-apa," jawab Gabriel santai.


"Kak Naya juga sama, apakah dikamar kalian banyak nyamuk?" Ucap Adisty lagi.

__ADS_1


"Eumm, itu iya semalam memang banyak nyamuk di kamar." Ucap Kanaya, ia jadi terlihat seperti orang bo*oh di hadapan Freya dan Darren yang menahan untuk tersenyum.


"Apa gigitan nyamuk bisa sampai seperti itu?" Tanya Adisty ngeri.


"Iya dist kayaknya nyamuknya gede-gede kepalanya hitam iyakan nay." Ucap Alice, Kanaya tersentak mendengar pertanyaan Alice.


"Ah, i-iya nyamuk kepala hitam." Ucap Kanaya.


Siapapun tolong selamatkan Kanaya, saat ini ia ingin sekali menghilang menenggelamkan tubuhnya kedasar bumi jika bisa.


Beruntung hari ini adalah hari libur jadi Kanaya tidak akan mendapatkan pertanyaan-pertanyaan yang akan membuat nya pusing, sesekali Kanaya melirik Gabriel yang terlihat santai.


"Gabriel karena hari ini hari libur mami ingin mengajak kalian berjalan-jalan." Ucap Freya.


"Jalan-jalan?" Beo Kanaya.


"Iya sayang kita sudah lama sekali tidak jalan keluar iyakan dad." Ucap Freya.


"Iya sayang," balas Darren, oh Darren dan Freya sungguh romantis sekali.


Kanaya bahkan sampai terkagum-kagum melihat hubungan Freya dan Darren yang selalu romantis, apakah ia juga bisa seperti itu, hmmm entahlah.


"Bagaimana Gabriel apakah kamu setuju?" Tanya Freya.


"Aku ingin ke pantai," ucap Adisty, Freya tersenyum melihat wajah antusias putri bungsunya.


"Baiklah, aku milik kalian hari ini." Ucap Gabriel, berhasil membuat Adisty bersorak gembira.


"Are you happy baby girl?" Tanya Darren.


"Ya, aku sangat bahagia kakak selalu menyayangiku dan tidak pernah berubah." Ucap Adisty, Gabriel tersenyum menatap adik kesayangannya.


"Bersiaplah aku akan menunggu di depan." Ucap Gabriel, Adisty pun mengangguk sementara Kanaya hanya diam.


"Bersiaplah honey aku menunggu di depan." Ucap Gabriel kepada Kanaya, dan itu berhasil membuat Freya dan Alice saling memandang.


"Ah, i-iya." Balas Kanaya, ia pun langsung berjalan menuju kamar nya.


Alice yang kepo berlari kecil mengejar Kanaya, kini wanita itu sudah duduk di sofa kamar Kanaya menatap Kanaya yang sedang bersiap-siap.


"Nay beneran di kamar kamu banyak nyamuk ya." Ucap Alice.

__ADS_1


"Eh, i-iya Alice kadang memang ada nyamuk disini." Ucap Kanaya.


"Itu nyamuk emang tau aja sama yang bening-bening ya, kirain manusia doang yang doan sama cewek cantik cowok ganteng ternyata nyamuk juga suka." Ucap Alice, Kanaya menelan saliva nya ia merutuki kebo*ohan nya.


"Haha, iya nyamuk kurang asem emang. Oiya aku udah siap aku keluar duluan ya," ucap Kanaya, ia berlari secepat kilat untuk menghindar dari pertanyaan Alice.


"Hahaha, Kanaya- Kanaya kamu benar-benar lugu. Maafkan aku nay atas apa yang sudah aku dan Gio lakukan semalam, semua itu tak lain dan tidak bukan untuk membuat hubungan kamu dan Gabriel semakin kuat." Ucap Alice.


"Aunty ikut kan, inget ya kita ada pekerjaan." Ucap Adisty.


"Iya Adisty aku akan selalu membantu pekerjaan kamu, let's go." Ucap Alice, ia berada satu mobil dengan Gabriel dan Kanaya.


Di mobil lain ada Freya, Darren, Alex dan Ellen yang ternyata juga memutuskan untuk ikut berlibur. Sementara Meisya dan Leo memang tak bisa ikut karena memang ada sesuatu yang harus keduanya selesaikan.


"Bisa kamu berhenti untuk berusaha mempersatukan Gabriel dengan Safira, Cindy?" Ucap Meisya.


"Memangnya kenapa si mam, bukankah Safira memang jauh lebih baik dari Kanaya." Ucap Cindy masih membela Fira.


"Sayang jika Safira lebih baik dari Kanaya ia tak mungkin hamil begitu saja." Ucap Leo.


"Pi aku yakin itu anak Gabriel, bisa saja Gabriel tidak mengakui itu karena dia takut kepada uncle Darren." Ucap Cindy, Meisya yang sudah sangat emosi kepada putrinya tak segan-segan menamp*r Cindy.


"Mami," pekik Cindy memegangi pipinya.


"Cukup Cindy, dengan kelakuan kamu yang seperti ini memperlihatkan bahwa kamu wanita yang bo*oh! Gabriel itu keponakan ku, aku tahu bagaimana dia tumbuh sesuka apapun dia bermain dia tidak akan melakukan hal menj*j*kan seperti itu." Bentak Meisya.


"Mami lebih percaya Gabriel daripada putri mami sendiri." Ucap Cindy.


"Putri macam apa yang kau bicarakan Cindy, putri seperti apa yang harus aku percayai? Kau memang putriku tapi sikapmu sangat memperlihatkan jika kau bukan seperti putriku." Bentak Meisya.


"Sayang sabar," ucap Leo mencoba menenangkan istrinya.


"Gak bisa Leo dia sudah sangat keterlaluan, kelakuannya ini bukan hanya akan memisahkan Gabriel dan Kanaya tapi juga akan merusak ikatan suci pernikahan Gabriel dan Kanaya." Ucap Meisya, Cindy menangis tersedu-sedu baru kali ini ia melihat Meisya benar-benar marah kepadanya.


"Mami," lirih Meisya.


"Kau seperti bukan putriku Cindy, katakan apa tujuanmu itu? Katakan kepadaku kenapa kau ingin merusak kebahagiaan keluargaku, kau ingin membuat Gabriel hancur, kau juga seperti ingin membuat Freya membenciku." Ucap Meisya, air mata Meisya luruh juga melihat Cindy yang menangis tersedu-sedu.


"Mi aku hanya tidak menyukai Kanaya, dia tak pantas bersama dengan Gabriel." Ucap Cindy.


"Kau siapa berani berkata seperti itu? Jika Gabriel dan Kanaya berjodoh mereka akan tetap bersama Cindy. Jaga sikapmu jangan sampai Freya dan keluarga yang lain membencimu." Ucap Meisya.

__ADS_1


"Dia orang menengah mam," lirih Cindy.


"Cindy dimata tuhan kita itu sama, perkataan kamu yang seperti itu tidak pantas kamu katakan. Kamu orang berpendidikan harusnya kamu tahu apa yang pantas dan tidak pantas kamu ucapkan!" Tegas Meisya, karena merasa marah Meisya pun pergi meninggalkan Cindy begitupun dengan Leo ia juga merasa sedikit kecewa kepada putrinya.


__ADS_2