Antara Cinta Dan Dendam

Antara Cinta Dan Dendam
Epson 121


__ADS_3

Keesokan harinya Gabriel pergi ke kantor bersama dengan Gio, beberapa karyawan berdiri dengan berbaris menyambut kedatangan Gabriel.


Sebenarnya jika bukan karena mami dan Daddy nya Gabriel malas sekali datang ke kantor, Gabriel merasa semua ini tidak adil karena ia harus mengikuti keinginan orang tuanya sementara Adisty bebas melakukan apapun yang diinginkan oleh adiknya.


"Selamat datang tuan." Sapa seorang karyawan, Gabriel acuh mendengar sapaan itu.


"Itu putra sulung tuan Darren kan?" Ucap seorang karyawan.


"Sepertinya iya terlihat jelas jika sikap nya saja sama." Balas yang lainnya.


"OMG ganteng banget nay." Ucap Laura kepada Kanaya.


Kedua wanita itu bersahabat sejak kuliah, Kanaya bisa berkuliah karena beasiswa di sementara Laura dia orang cukup berada.


"Nay buka mata lo buka nay." Ucap Laura.


"Berisik Ra, lagian lo mikir apa ya tuan Darren nya saja tampan sudah jelas anaknya juga pasti tampan." Ucap Kanaya.


"Ah kalo modelan begitulah gue rela dah jadi madu nya." Ucap Laura.


"Nyebut Ra nyebut." Ucap Kanaya mendorong kening Laura.


"Kalian ngapain masih disini, bukannya bekerja malah menghosip." Ucap Jesika.


"Yaelah bu siapa yang bergosip si, kita juga ini mau balik ke meja kerja kita." Ucap Laura.


"Heh, kamu ya jangan berani-berani mendekati tuan Gabriel dia itu milik saya." Ucap Jesika.


"Tidak bu kami cukup tahu diri." Ucap Kanaya menarik tangan Laura untuk pergi dari hadapan Jesika.


"Lo apa-apaan si nay, harusnya kita lawan aja si nenek lampir itu." Ucap Laura.

__ADS_1


"Lo bisa diem gak si ra, gak usah cari masalah kita itu disini untuk bekerja." Ucap Kanaya, Laura hanya mencebikan bibirnya saja.


"Ck, menyebalkan." Ucap Laura.


Sementara itu di ruang kerjanya Gabriel mulai mengerjakan berkas-berkas yang menumpuk, sesekali ia menghela nafasnya dan saat tengah fokus ponsel milik Gabriel berdering menandakan panggilan masuk.


***Panggilan telepon


Gabriel**: Ya Hallo*.


Fira: Sayang kamu dimana sih kok belum jemput aku juga?


Gabriel: Sorry fir aku gabisa jemput kamu untuk hari ini, karena banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan.


Fira: Kamu ini apa-apaan sih Gabriel kenapa mendadak kaya gini


Gabriel: Aku lupa mengabari kamu semalam, kamu pergi sendiri aja ya.


Gabriel pun mematikan panggilan telepon nya, sementara Gio hanya bisa tersenyum tipis. Gio tak setuju Gabriel menjalin hubungan dengan Fira, wanita itu terkesan matre dan sangat memanfaatkan kekayaan dan kebaikan Gabriel.


"Gabriel pergi ke kantor Alice." Jawab Freya.


"Really? Jadi kakak Freya dan kak Darren benar-benar mengirim Gabriel ke perusahaan?" Tanya Alicia tertawa.


"Menurut kamu kakak berbohong?" Ucap Freya.


"Tidak, aku tahu kakak tidak pernah main-main akan hal itu." Ucap Alicia.


"Gabriel tidak memperotes saat kamu memintanya untuk ke kantor Frey?" Tanya Meisya yang tiba-tiba muncul.


"Tentu saja tidak, dia tidak akan berani membantah Daddy nya." Ucap Freya.

__ADS_1


"Haha, kamu dan Darren tidak berubah." Ucap Meisya, yang kini duduk di dekat kedua adiknya yaitu Freya dan Alicia.


"Aku melakukan ini semua untuk kebaikan Gabriel kak, dia itu anak laki-laki harus memiliki rasa tanggung jawab. Kedepannya juga Gabriel akan menikah, jika dia terus bermanja bagaimana dia membahagiakan istrinya nanti." Ucap Freya, membuat Meisya dan Alicia saling menatap.


"Kamu berpikir terlalu jauh sayang." Ucap Meisya.


"Apa yang aku pikirkan itu sudah benar, aku tidak ingin Gabriel menjadi lelaki yang hanya memanfaatkan kekayaan orang tuanya. Dia harus bekerja lagi pula Gabriel itu anak laki-laki aku satu-satunya, jika itu Adisty aku mungkin tidak akan terlalu memaksa nya." Ucap Freya.


"Hmmm, kak Freya benar jangan sampai Gabriel menjadi lelaki manja." Ucap Alicia.


"CK, baiklah-baiklah kalau begitu kalian satu pemikiran saat ini." Ucap Meisya, Alicia pun tersenyum mendengar perkataan kakak sulung nya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Happy reading πŸ€—πŸ˜‰ jangan lupa like komen dan vote nya πŸ™β˜ΊοΈ


__ADS_2