
Hari-hari yang dilalui oleh Freya dan Darren penuh dengan kesibukan, dan Grace begitu setia menemani Freya juga membantu sahabatnya itu.
Grace dan David juga sepakat untuk mempersatukan Freya dan Darren, sudah tiga bulan Darren dan juga Freya menikah namun belum ada perubahan.
Maka kali ini beberapa orang berniat untuk membuat Darren dan juga Freya bersama, Grace sudah mengosongkan jadwal Freya untuk beberapa hari ke depan.
"Frey pekerjaan lo udah beres semua jadi sebaiknya lo pulang untuk istirahat." Ucap Grace, Freya menatap Grace dengan heran.
"Kenapa tumben lo nyuruh gue pulang cepat." Balas Freya.
"Udah nurut aja kenapa si, gue sedang berbaik hati sama lo Frey." Ucap Grace, Freya tertawa kecil dan mengangguk.
"Baiklah gue akan pulang sekarang." Balas Freya, ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan nya.
"Sebaiknya pergi ke rumah daddy dulu deh udah lama juga gak pulang kan, mumpung gak ada Darren jadi gak ada yang melarang untuk pulang." Gumam Freya.
Ia berjalan ke parkiran dan Freya masuk kedalam mobilnya lalu pergi dari kantor, tidak lama kemudian ponsel Freya berdering menandakan pesan masuk.
Dengan tatapan lurus ke depan Freya meraih ponselnya, dan terlihat ada pesan dari Darren senyum tipis mulai terbit di bibir mungilnya.
*Pesan chat*
Darren: Pekerjaan aku selesai hari ini, besok David akan menjemput kamu bersiap lah.
Freya: Jika aku tidak mau bagaimana?
Darren: Beri aku alasan kenapa kamu tidak mau?
Freya: Aku ingin kamu yang menjemput aku!
Darren: Kenapa begitu, bukankah sama saja mau aku ataupun David juga kamu tetap akan bertemu dengan ku.
Freya: Tapi aku ingin kamu.
Darren: Aku tidak bisa, David yang akan menjemput kamu besok!
Freya tidak membalas lagi pesan terakhir Darren, ia hanya mencebikan bibirnya saja ternyata seperti ini rasanya jatuh cinta meskipun ia belum tahu apakah Darren mencintai dirinya atau tidak.
Sesampainya di kediaman Alex Freya langsung saja keluar dari mobil dan berjalan masuk kedalam rumah, disana ia di sambut oleh Ellen dan mama nya.
__ADS_1
"Masih ingat pulang juga kamu." Ucap Ellen, wanita itu berdiri dengan mengelus perut buncitnya.
"Aku pulang bukan untuk bertemu dengan kalian." Balas Freya.
"Dasar anak tidak tahu dir*, tidak ada sopan-sopan nya sama orang tua." Ucap mama Ellen, Freya tidak peduli ia berjalan masuk dan mencari keberadaan kakak nya.
"Meisya." Panggil Freya.
"Kenapa dia mencari Meisya." Gumam Ellen.
"Sebaiknya kamu manfaatkan keadaan ini untuk membuat Freya dan Meisya bertengkar." Ucap mama.
"Bagaimana caranya?" Tanya Ellen.
"Kamu samperin tuh si Freya dan berpura-pura akrab dengan Meisya." Ucap mama Ellen, Ellen pun mengangguk dan mendekati Freya.
"Ngapain kamu cari anak saya." Ucap Ellen, Freya mengernyit heran menatap Ellen.
"Apa maksudnya kamu menyebut Meisya sebagai anak kamu." Ucap Freya.
"Freya cukup ya kedekatan kamu dan Meisya itu membuat saya banyak bertengkar dengan putri saya sendiri, dan selama beberapa hari ini Meisya bisa bersikap baik kepada saya dan kami baik-baik saja karena kamu tidak menemui nya." Ucap Ellen, Freya menatap tajam Ellen drama apalagi yang sedang dimainkan oleh wanita hamil ini.
"Hey kamu, kalau tidak tahu apa-apa sebaiknya kamu diam. Meisya dan Ellen sudah baik-baik saja sekarang." Ucap mama Ellen.
"Gue gak peduli." Balas Freya, ia berlari menaiki anak tangga dan mengetuk pintu kamar Meisya.
"Loh Frey kamu kesini." Ucap Meisya setelah membuka pintu kamar.
"Menyebalkan." Kesal Freya.
"Ada apa?" Tanya Meisya, ia ikut duduk di tempat tidur tepat di samping Freya.
"Bagaimana hubungan kamu dengan Ellen?" Tanya Freya.
"Ya seperti yang kamu ketahui kami tidak pernah akur, mungkin Daddy juga sebenarnya merasa tertekan atas pertengkaran aku dan Ellen." Ucap Meisya, perkataan Meisya membuat Freya memicingkan matanya.
"Tapi kenapa tadi Ellen mengatakan_" Freya pun menjelaskan semuanya, dan itu membuat Meisya tertawa.
"Terus kamu percaya?" Tanya Meisya.
__ADS_1
"Gak lah, g*la kali aku main percaya gitu aja." Balas Freya.
"Aku kira kamu percaya." Goda Meisya.
"Maaf-maaf gak ada sejarahnya Freya percaya sama rubah betina itu." Ceplos Freya semakin membuat Meisya tertawa, sementara itu di luar kamar terlihat Ellen dan mama nya sedang menguping.
Freya yang menyadari keberadaan Ellen dan mama nya di luar kamar, karena pintu kamar Meisya sedikit terbuka membuat Freya untuk memanas-manasi Ellen.
"Oiya kamu kenapa tumben kesini." Ucap Meisya.
"Tentu saja aku ingin berbagi kebahagiaan."Jawab nya dengan mengedipkan sebelah matanya, Meisya yang peka pun mengangguk melanjutkan drama mereka.
"Oiya apa tuh jadi kepo." Balas Meisya.
"Kak ternyata apa yang kamu katakan itu benar, Darren lelaki yang baik dan bertanggung jawab. Kamu tahu tidak saat aku pulang dari rumah sakit dia selalu ada di sampingku, dia bahkan membawa pekerjaan nya ke rumah. Bukan hanya itu saat aku ingin pergi ke dapur dia selalu siap membantu ku dia menggendong tubuh ku seperti tuan putri." Ucap Freya, Meisya ingin tertawa mendengar penuturan adiknya. Yang Meisya yakini itu bukanlah kebohongan.
"Wahh benarkah, apa aku katakan Darren hanya mencintai kamu Frey. Masa lalu mah sudah lewat, bukankah ada pepatah yang mengatakan bahwa buang lah masa lalu pada tempatnya." Ucap Meisya, ia sudah mengetahui jika Darren mantan kekasih Ellen.
Saat itu Meisya mendesak Freya dan Grace hingga akhirnya kedua wanita itu jujur, namun Freya meminta agar Meisya diam saja.
Freya tidak ingin Alex tahu dan semakin merasa bersalah kepada dirinya dan Meisya, dengan sedikit kesal Meisya pun menyetujui permintaan adiknya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Happy reading π€π jangan lupa like komen dan vote nya πβΊοΈ
__ADS_1