Antara Cinta Dan Dendam

Antara Cinta Dan Dendam
Epson 154


__ADS_3

Kanaya yang sedang berjalan memasuki kantor dipanggil dengan begitu heboh nya oleh Laura, sahabat terbaik Kanaya itu menghampiri Kanaya dengan wajah berseri-seri.


"Kanaya, Kanaya tunggu," panggil Laura.


"Lo kenapa si heboh banget Ra," ucap Kanaya.


"Gue mau nanya ni sama lo boleh kali nay." Ucap Laura.


"Ya boleh la emang lo mau nanya apa si?" Ucap Kanaya, keduanya berjalan menuju lift.


"Eum itu gue mau nanya soal-" ucapan Laura terhenti, saat Gabriel dan Gio berdiri berjalan dan memasuki lift khusus untuk para petinggi perusahaan.


"Ya ampun nay cakep amat jodoh masa depan gue," ucap Laura, membuat Kanaya menoleh menatap Laura dengan mengernyit.


"Siapa jodoh masa depan lo?" Tanya Kanaya, Laura menatap Kanaya dengan tersenyum manis.


"Pak Gio nay, haduh ketampanan dia itu bikin jantung gue cepak-cepak jeder." Ucap Laura, refleks Kanaya tertawa dan itu terlihat oleh Karin dan Jessica.


"Haha, gaya lo cepak-cepak jeder." Ucap Kanaya memukul tangan Laura.


"Mimpi lo kejauhan heh Laura," ucap Karin yang ternyata mendengar percakapan Laura dan Kanaya.


"Dihh masalah buat lo Karin, suka-suka gue lah mau mimpi gue kejauhan kek, mau ketinggian kek mau nyungsep kek itu hak gue." Ucap Laura sengit.


"Cih, yang jelas lo itu bukan tipe nya Gio apalagi Gabriel gak usah mimpi lo." Ucap Karin.


"Hih bodo amat, lagian lo tuh cuma karyawan baru disini jadi gak usah song*Ng lo." Ucap Laura.


"Udah-udah Ra gak usah di dengerin, mendingan kita masuk sekarang." Ucap Kanaya, sementara Jessica masih menatap Kanaya dengan sinis.


Kanaya duduk di kursi kerja nya seperti biasa ia selalu mengerjakan pekerjaan nya dengan fokus, sampai tiba-tiba Jessica menggebrak meja kerja Kanaya.


"Ibu apa-apaan si Bu." Ucap Kanaya.


"Masih punya muka kamu ya, kamu sudah di pecat tuan Gabriel ngapain kamu masih datang ke kantor." Ucap Jessica.


"Siapa yang di pecat si Bu, gak ada yang di pecat disini asal ibu tahu." Ucap Kanaya.


"Halah gak usah bohong, waktu itu kan tuan Gabriel bilang akan memberikan kamu peringatan. Oh, atau jangan-jangan kamu menggoda tuan Gabriel agar dia tidak memecat kamu." Ucap Jessica.

__ADS_1


"Jaga bicara ibu ya bu, saya tidak menggoda siapapun." Ucap Kanaya.


"Halah bohong kan lo, jalan lo aja kaya pinguin begitu ngaku lo habis ju*l dir* kan nay." Ucap Karin.


"Jaga ucapan lo ya Rin, mendingan lo ngaca si daripada lo malu sendiri." Ucap Laura.


"Gak usah ikut campur lo Ra." Kesal Karin.


"Loh kenapa Kanaya kan temen gue wajar dong kalau gue ikut campur." Ucap Laura.


"Ngaku kamu apa yang dikatakan oleh Karin benar kan, cih Kanaya saya gak nyangka kalau kamu mur*h*n." Ucap Jessica.


"Ada apa ini," tiba-tiba Gio muncul membuat semuanya terkejut.


"Bu Jessica nih pak nuduh Kanaya yang enggak-enggak." Ucap Laura membuat Jessica melotot.


"Apakah surat peringatan yang kemarin belum cukup Jessica sampai kamu suka sekali membuat keributan, jika belum cukup saya bisa langsung mengeluarkan kamu dari perusahaan ini." Ucap Gio, Jessica terbelalak mendengar perkataan Gio.


"E-enggak pak Laura bohong, saya gak ngapa-ngapain kok." Ucap Jessica.


"Kalau begitu pergi ke ruangan kamu sekarang, kamu itu disini digaji untuk bekerja bukan untuk membuat onar!" Ucap Gio.


"Gio apakah aku bisa menemui Gabriel?" Tanya Karin, Gio menatap Kanaya yang hanya diam.


"Tuan Gabriel sedang sibuk, dan bersikaplah sopan Karin tuan Gabriel itu CEO disini." Tegas Gio.


"Kenapa bukankah biasanya juga seperti itu?" Tanya Karin.


"Berubah lah sebelum Gabriel memecat kamu, belajar menghormati dia dan bersikaplah sopan seperti yang lainnya." Ucap Gio berlalu begitu saja.


"Gio kenapa si kok nyebelin banget." Kesal Karin.


"Hahaha, kasian deh mangkanya gak usah sok jadi orang." Ucap Laura.


"Ish, awas lo ya." Kesal Karin.


...


Malam hari Gabriel sedang di ruang kerja nya, sementara Kanaya sendiri sedang berada di kamar Adisty bersama dengan Alice ketiga nya sedang menonton sebuah drama Korea.

__ADS_1


Tiba-tiba saja Alice teringat kejadian malam lalu dimana ia mendengar suara syahdu Kanaya dan Gabriel yang bersahutan, diam-diam Alice melirik Kanaya ia seakan g*la karena suara itu terus terbayang-bayang dalam ingatan nya.


"Waaah parah songk*ng waahh g*la," heboh Adisty, begitupun Alice ia ikut heboh dengan apa yang dilihat oleh Adisty.


"I-ini, Adisty sebaiknya diganti aja gak si nonton nya jangan ini." Ucap Kanaya.


"Kenapa?" Tanya Adisty, Alice tertawa dan mendorong kening Adisty.


"Haha, kamu harusnya jangan nonton ini gak si takut juga nanti ada yang bilang mau lihat kucing dirumahku? Eh kamu langsung iya-iya aja." Ucap Alice, Adisty tertawa renyah mendengar itu.


"Gak lah, aku bisa bedain mana yang baik dan buruk kak. Lagian kakak lihat kak Gabriel dia laki-laki, dia bebas tapi nyatanya dia tidak ada niatan untuk mengecewakan mami dan Daddy." Ucap Adisty.


"Ya iya juga si bener kamu gak salah." Ucap Alice, saat mereka sedang fokus-fokus nya menonton pintu kamar Adisty terbuka menampakkan sosok tinggi, putih dan tampan.


"Honey," panggil Gabriel membuat ketiga wanita yang berada di kamar Adisty menoleh.


"Eumm, sudah selesai?" Tanya Kanaya, karena tadi Gabriel ijin ke ruang kerja untuk menyelesaikan pekerjaan nya yang belum selesai.


"Sudah honey ayok kita istirahat," ajaknya, dengan antusias Kanaya mengangguk dan turun dari tempat tidur milik Adisty.


"Yaaah masa pergi si kak," rajuk Adisty.


"Kita nonton nya besok lagi ya," ucap Kanaya tersenyum.


"Ciee iya deh yang dijemput sama ayang nya," goda Alice, Kanaya hanya tersenyum malu saja.


Gabriel langsung merangkul pinggang ramping Kanaya dan mengajaknya pergi dari sana, Gabriel sesekali mengecup puncak kepala sang istri.


"Nonton apa tadi?" Tanya Gabriel, kini mereka sudah berada di dalam kamar.


"Seperti biasa kita non-" ucapan Kanaya terhenti karena tangan nakal Gabriel.


Kanaya yang tidak bisa berkutik pun mulai pasrah saja, hingga kita semua tahu apa yang terjadi para readers. Ya itu yang terjadi gak usah penasaran lagi.


Setelah selesai Kanaya selalu merasa kelelahan dan memutuskan untuk tidur, sementara Gabriel ia mengamati wajah cantik Kanaya.


"Aku akan menjaga dan membahagiakan kamu Kanaya, maaf jika sebelumnya sikap ku banyak yang membuat kamu terluka." Lirih Gabriel, iapun mengecup kening Kanaya penuh cinta.


Karena dirasa dirinya juga mulai mengantuk akhirnya Gabriel pun ikut terlelap dengan memeluk Kanaya.

__ADS_1


__ADS_2