Antara Cinta Dan Dendam

Antara Cinta Dan Dendam
Epson 125


__ADS_3

Keesokan harinya saat jam istirahat Gabriel memutuskan untuk pergi dari kantor bersama dengan Gio, Gabriel mengemudikan mobilnya sendiri sementara Gio duduk di kursi kemudi tepatnya disamping Gabriel.


"Woy Gabriel pelan-pelan lo mau ma*i." Teriak Gio karena Gabriel mengemudi dengan kecepatan tinggi dan ugal-ugalan.


"Iya gue mau ajak lo menghadap yang maha kuasa." Balas Gabriel.


"G*la lo ya gue belum nikah woy." Teriak Gio lagi, dalam mobil itu begitu hebooh karena Gio dan Gabriel yang terus berdebat.


"Gak usah nikah lagian gak ada yang mau sama cowok datar dang nyebelin kayak lo." Ucap Gabriel membuat Gio terperangah.


"Heh, ngaca lo pikir siapa yang mau sama cowok arogan kaya lo. Kita belum nikah Gabriel cita-cita gue memiliki keluarga cemara belum terlaksana." Teriak Gio lagi.


"Itu hanya cita-cita lo dan bukan cita-cita gue, lo tau kan wanita itu ribet Gio gue gak mau terikat dengan sesuatu yang akan merepotkan gue dimasa depan." Ucap Gabriel.


"Ribet tapi lo pacarin Fira kan, yasudah kalau lo mau ma*i sendiri aja jangan ajak-ajak gue." Ucap Gio.


"Gak bisa kita harus bareng-bareng." Balas Gabriel lagi menambah kecepatan laju mobilnya.


"Woy, aaarrrrgggghhhh turunin gue Gabriel." Teriak Gio.


"Muka doang lo datar di ajak begini aja heboh nya melebihi Adisty dan mami gue." Ejek Gabriel membuat Gio mencoba untuk kalem seketika.


Setelah melakukan perjalanan yang cukup menegangkan bahkan Gio sendiri sampai dibuatmual oleh Gabriel, sahabatnya itu benar-benar meresahkan dan mungkin Gabriel saat ini lebih menyebalkan dibanding darren dulu.


"Gabriel." Sapa Ellen saat melihat cucu pertamanya.


"Buna grandpa ada?" Ucap Gabriel ia tak lupa menyalami Ellen.


"Ada grandpa kamu ada di belakang bersama dengan Alice." Jawab Ellen, tatapannya teralihkan kepada Gio yang terlihat pucat.


"Loh Gio kamu kenapa, sakit kah Gio sayang?" Tanya nya kepada Gabriel.


"Gio mabuk perjalanan buna." Balas Gabriel, Ellen tertawa kecil mendengar perkataan Gabril.

__ADS_1


"Ck, yasudah kalian masuk saja kedalam nanti buna minta mbak untuk membuatkan minuman dan camilan." Ucap Ellen.


"Oke buna." Balas Gabriel, Ellen tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


Ellen teringat kejadian berapa puluh tahun lalu sebelun Freya menikah dan memiliki Gabriel, ia teringat perselisihannya dengan Meira dan permusuhannya dengan Meisya dan Freya. Kini ia merasa itu semua lucu dan Ellen berpikir bagaimana jika Gabriel tahu jika wanita yang saat ini selalu dipanggil buna itu adalah mantan kekasi daddy nya, tapi Ellen yakin Gabriel akan mengejek dirinya dengan engatakan buna lemah karena mami lah pemenangnya karena mami berhasil menaklukan daddy, kurang lebih seperti itulah yang akan dikatakan oleh Gabriel.


"Loh boy kamu kesini." Ucap Alex saat melihat Gabriel dan Gio.


"Sibuk ya grandpa?" Tnya Gabriel duduk di kursi samping Alice.


"Tidak grandpa hanya sedang berbincang dengan Alice, kenapa?" Ucap Alex.


"Muka sepet amat keliatannya." Ucap Alice.


"Ya gimana gak sepet kalau dia di suruh mengakhiri hubungannya dengan Fira." Ucap Gio.


"Loh kenapa bukankah Fira wanita yang baik menurut Gabriel?" Ucap Alicia polos.


"Baik kan menurut Gabriel sayang belum tentu menurut kak Freya dia wanita yang baik." Ucap Alex.


"Lice kalau lo bukan aunty gue, udah gue nikahin juga lo lice capek gue nyari wanita yang cocok sama mami." Ucap Gabriel.


"Dih gila lo ya, kalau gue bukan aunty lo juga belum tentu mami lo setuju dan belum tentu juga gue anak baik-baik kaya sekarang." Ucap Alicia, Ellen yang baru saja datang tertawa mendengar perkataan Gabriel dan putrinya.


"Gabriel mami kamu itu tidak perlu wanita kaya dan populer untuk menjadi pasangan kamu percaya sama buna, dia hanya ingin putranya bersama dengan wanita yang tulus tanpa melihat kamu sebagai Gabriel Dirgantara. Dia ingin wanita yang bersama kamu itu mencintai kamu dengan tulu sebagai diri kamu bukan sebagai putra Freya dan Darren." Ucap Ellen.


"Apakah aku anak angkat buna?" Tanya nya, membuat Ellen dan Alex tertawa.


"Gini nih kebanyakan ganti-ganti cewek jadi bo*oh." Ceplos Alice.


"Heh jomblo diem aja." Ucap Gabriel.


"Gio jelaskan kepada saudara kamu ini." Ucap Alex.

__ADS_1


"Yang nerima lo apa adanya Gabriel meskipun lo gak punya apa-apa." Ucap Gio.


"Memangnya ada wanita seperti itu?" Ucap Gabriel.


"Tentu saja ada." Balas Ellen.


"Sulit buna cari yang seperti itu karenya kenyataannya aku punya segalanya." Balas Gabriel.


Ya sedari kecil Gabriel selalu dimanjakna oleh darren, ia selalu mendapatkan semua yang dia inginkan dengan mudah hingga hal itu membuat Gabriel sedikit arogant.


"Kenapa lo gak pura-pura bangkrut aja." Ceplos Alice ngasal.


"Wey kalo ngomong gak pake mikir, ucapan adalah doa Lice jangan sampai kebohongan itu membuat addy dan mami bangkrut beneran." Ucap Gabriel yang lagi-lagi mengundang tawa Alex dan Ellen.


"Loh memangnya kenapa lo kan bisa kerja." Ucap Alice tertawa.


"Gue bisa kerja tanpa masuk prusahaan daddy juga gue bisa kerja dengan kemampuan gue sendiri, yang gue khawatirkan itu mami dan Adisty gue gak mau Disty sengalami kesulitan." Ucap Gabriel, membuat Alex, Ellen, Gio dan Alice bangga dengan Gabriel yang sangat menyayangi mami dan adiknya.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2