
Tiga hari berlalu hari ini Darren pergi ke kantor nya, namun sebelum itu Darren meminta tolong kepada mama untuk menjaga Freya.
Tentu saja dengan senang hati mama akan menjaga Freya, toh tanpa di minta pun mama akan tetap menjaga Freya karena Freya adalah menantu kesayangan mama.
Sesampainya di kantor Darren berjalan diikuti oleh David, tentu saja David merasa senang karena setelah kegilaan yang Darren lakukan terhadap Freya. Akhirnya kini Darren sadar jika dirinya memiliki kepedulian terhadap wanita itu.
"David katakan apa jadwal saya hari ini." Ucap Darren, lelaki itu duduk di kursi kebesaran nya.
"Hari ini jadwal kamu rapat dengan para pemegang saham." Ucap David, tunggu kenapa dia sekarang malah jadi asisten Darren. Padahal Darren sendiri memiliki sekretaris di kantor nya.
"Darren bisa tidak kamu jangan menanyakan jadwal kamu kepada saya, kamu memiliki sekretaris jika saya yang menghandle semuanya lalu apa gunanya sekretaris cantik kamu itu." Ucap David, Darren diam tak menjawab perkataan David.
"Darren." Kesal David.
"Hmmm." Jawab Darren dingin, David memutar bola matanya karena saat ini Darren sedang kumat.
"Jika ada yang kamu butuhkan kamu panggil saja sekretaris kamu." Ucap David, dia pergi dari ruang kerja Darren.
"Cih, siapa suruh dia selalu mengekor di belakang ku." Gumam Darren setelah kepergian David.
Siang hari Darren pun meeting dengan para pemegang saham, dan setelah selesai meeting Darren berjalan kembali ke ruang kerja nya.
"Permisi pak ini berkas-berkas yang bapak minta." Ucap seorang wanita cantik, yang tak lain adalah sekretaris Darren.
"Baik letakan saja disitu." Balas Darren.
"Baik pak." Ujar nya, sekretaris Darren itu saingan Ellen dulu.
Ellen selalu merasa cemburu dengan sekretaris Darren yang selalu dekat dengan Darren, selain itu sekretaris Darren terlihat lebih anggun jika dibandingkan dengan Ellen seluruh karyawan di perusahaan Darren mengakui hal itu.
"Oiya Mala tolong buatkan saya teh seperti biasa." Ucap Darren, ya Mala adalah nama dari sekretaris Darren yang cantik dan anggun itu.
"Baik pak kalau begitu saya permisi." Ucap Mala, Darren pun mengangguk ia kembali berkutat dengan pekerjaan nya.
__ADS_1
...
Tanpa terasa hari mulai gelap dan Darren masih sibuk di ruang kerja nya, sampai David heran sendiri apakah Darren tidak merasa lelah karena seharian bekerja.
"Mala bos kamu belum keluar juga?" Tanya David.
"Belum pak David." Jawab Mala.
"Terus kamu mau menunggu disini sampai kapan?" Ucap David lagi, lihatlah David terlihat begitu tengil.
"Tidak tahu, lagian si bos betah banget di ruang kerja nya apa gak suntuk ya." Balas Mala.
"Mana mungkin bos kamu ngerasa suntuk orang hoby dia kerja mengumpulkan pundi-pundi rupiah." Ucap David, Mala tertawa kecil mendengar perkataan David.
"Apa si bos gak di cariin istrinya ya, sayang tuh pak istri cantik tapi di tinggal-tinggal kerja terus." Ucap Mala.
"Coba kamu bicara dengan bos kamu agar dia tersadar dari kegilaan nya." Ucap David, Mala bergidik mana berani dia berbicara seperti itu di hadapan Darren.
"Haha, gak deh pak mending bapak saja yang ngomong. Lagian kan bapak teman nya pak Darren, kalau saya nanti yang ada di pecat." Ucap Mala, ia mulai merapikan meja kerja nya.
"Saya pulang duluan ya pak, sudah jam 9 biasanya kalau sudah jam segini saya memang sudah harus pulang." Ucap Mala.
"Itu bos kamu masih belum keluar mal." Ucap David.
"Gak apa-apa pak, pak Darren kok yang bilang kalau jam 9 beliau belum keluar juga saya boleh pulang." Ucap Mala, David pun hanya bisa mengangguk dan menatap Darren dari luar.
"Gue tau ren lo menghindari waktu kebersamaan lo dengan Freya, lo takut kan kalau ternyata lo benar-benar sudah memiliki perasaan kepada Freya." Gumam David, dan tak lama dari itu David pun memutuskan untuk pulang saja.
Tepat pukul 12:00 malam Darren keluar dari ruang kerja nya, kantor sudah terlihat sepi karena semua karyawan sudah pulang sejak tadi sementara Mala sekretaris nya pulang tepat pukul 09 malam.
Darren berjalan dengan santai menuju lobby, ia melihat tinggal security yang berada di lingkungan kantor, Darren meminta salah seorang petugas untuk mengambil mobilnya di parkiran.
Dalam perjalanan Darren memijat pelipisnya yang terasa sedikit pusing, sepertinya sampai rumah nanti Darren akan langsung tidur saja tubuhnya begitu lelah.
__ADS_1
Sesampainya di rumah Darren masuk dan melihat lampu dapur yang masih menyala, Darren berjalan mendekat dan melihat Freya yang sedang termenung di meja dapur.
"Kamu sedang apa?" Tanya Darren membuat Freya tersentak.
"A-aku." Ucap Freya terbata karena kaget.
"Kaki nya sakit lagi?" Tanya Darren.
"Enggak kok, kamu baru pulang." Ucap Freya, Darren mengangguk dan mematikan lampu dapur.
"Naik dan istirahat lah." Balas Darren, Freya hanya mengangguk dan menatap Darren yang berjalan lebih dulu.
"Benar-benar sulit di tebak, apakah untuk mendapatkan perhatian Darren aku harus celaka dulu atau sakit dulu." Gumam nya, Freya pun berjalan menuju kamar nya dengan sedikit pincang karena kaki nya masih terasa sedikit sakit.
Freya masuk dan tidak melihat Darren di kamar, ia berpikir mungkin Darren sedang membersihkan tubuhnya. Akhirnya Freya pun memutuskan untuk langsung tidur saja.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy reading π€π jangan lupa like komen dan vote nya πβΊοΈ