
Malam hari tepat pukul 20:00 Freya terbangun dari tidurnya, ia melihat jam dan menggeliat lalu bangun dari tempat tidur berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Setelah selesai Freya memutuskan untuk bersiap-siap, namun sebelum turun kebawah Freya menatap suaminya yang masih terlelap.
"Sayang bangun yuk sudah jam 8 malam." Ucap Freya, ia mengusap lembut pipi Darren.
"Emmmhh, lima menit lagi." Ucap Darren.
"Baik tapi aku turun lebih dulu tidak apa-apa?" Tanya nya, Darren sedikit berpikir dalam tidurnya.
Dibalik sikap Freya yang tegas, sinis jika bertemu Ellen ternyata ada sisi lembut dari Freya untuk dirinya.
"Aku mandi sekarang." Ucap Darren, Freya tersenyum manis kepada Darren.
"Aku sudah siapkan pakaian kamu, dan mandilah aku harus membantu kak Meisya dan Grace." Ucap Freya, Darren pun mengangguk lalu mengecup sekilas bib*r Freya.
"Iya sayang." Balas Darren, Freya pun kembali berjalan keluar dari kamar.
Ia melihat keadaan dalam villa sudah sepi mungkin semua orang sudah ada di halaman samping pikirnya, Freya berjalan menuju kulkas dan mengambil sebotol yogurt dan ikut bergabung dengan yang lain.
"Ini dia princess kita baru keluar dari kamar nya." Ucap Meisya.
"Haha, ngarang." Ucap Freya, ia melihat Alex dan Ellen yang sedang duduk santai di sudut sana.
Sementara mama Ellen wanita itu duduk sedikit jauh dari Ellen dan Alex, Freya senang karena tidak ada yang mengompori Daddy nya lagi jika mama Ellen berjauhan.
"Frey mana Darren nak?" Tanya Alex.
"Darren sedang bersiap-siap dad sebentar lagi juga turun." Ucap Freya, Alex mengangguk sementara Ellen diam jujur saja ia merasa tidak sanggup melihat kemesraan yang Darren berikan kepada Freya.
"Kak biarkan aku saja yang membakar ini kakak buat bumbunya saja." Ucap Freya, ia memegang jagung yang akan dibakar.
Sementara Grace ia membakar daging-dagingan dan makanan yang lainnya, Freya membolak-balikkan jagungnya.
"Sayang." Panggil Darren dari belakang, Freya yang mendengar suara suaminya pun menoleh.
"Iya." Sahut Freya, namun ia kembali fokus membakar jagung.
"Tidak ada kopi?" Tanya Darren, hal itu membuat Ellen ingin sekali membuatkan kopi untuk Darren.
"Ada ko tadi kan aku beli untuk kamu." Balas Freya, ia meninggalkan dulu kegiatan nya dan berjalan masuk kedalam villa mengambil sekaleng kopi untuk suaminya.
"Ini sayang." Ucap Freya memberikan nya kepada Darren, lelaki itu tersenyum menerima kopi dari istrinya.
"Terimakasih honey." Balas Darren, ia mengecup pipi Freya dan duduk di samping Alex.
"Wadau honey kak." Ucap Grace meramaikan.
"Haha, iya bener Grace." Balas Meisya.
"Frey nyanyi dong biar ramai kamu kan jago nyanyi." Ucap Grace.
"Nah iya benar tuh kamu nyanyi kakak bawa gitar nya kok." Ucap Meisya.
"Lo niat banget sih kak." Ucap Freya tertawa, Darren hanya memperhatikan kedekatan Freya dengan Meisya dan Grace.
Sesekali ia melirik Ellen dan senyum sinis muncul di bibirnya, Darren berpikir usia Ellen dan Meisya itu sama tapi ternyata Ellen lebih suka lelaki tua. Meskipun masih terlihat tampan dan gagah tetap saja usia Ellen dan Alex terpaut jauh, ia menatap Meisya yang bercanda ria dengan wanita yang hampir seusia nya.
"Haha emang iya tau dia tuh ribet sama gitar Frey, saking inginnya dia kamu nyanyi disini." Ucap Grace.
"CK, kasian yasudah aku nyanyi." Ucap Freya, Grace dan Meisya pun bersorak gembira.
**Walaupun jiwaku pernah terluka
Hingga nyaris bunuh diri
Wanita mana yang sanggup hidup sendiri
Di dunia ini
Walaupun t'lah kututup mata hati
__ADS_1
Begitupun telingaku
Namun bila di kala cinta memanggilmu
Dengarlah ini
Walaupun dirimu tak bersayap
Ku akan percaya
Kau mampu terbang bawa diriku
Tanpa takut dan ragu
Walaupun mulutku pernah bersumpah
Sudi lagi jatuh cinta
Wanita seperti diriku pun ternyata
Mudah menyerah
Walaupun kau bukan titisan dewa
Karena kau jadikanku sang dewi
Dalam taman surgawi
Ho
Ho
Ho
Walaupun dirimu tak bersayap
Ku akan percaya
Kau mampu terbang bawa diriku
Tanpa takut dan ragu
Walaupun kau bukan titisan dewa
Karena kau jadikanku sang dewi
Dalam taman surgawi
alaupun jiwaku pernah terluka
Hingga nyaris bunuh diri
Wanita mana yang sanggup hidup sendiri
Di dunia ini
Walaupun t'lah kututup mata hati
Begitupun telingaku
Namun bila di kala cinta memanggilmu
Dengarlah ini
Walaupun dirimu tak bersayap
Ku akan percaya
Kau mampu terbang bawa diriku
Tanpa takut dan ragu
__ADS_1
Walaupun mulutku pernah bersumpah
Sudi lagi jatuh cinta
Wanita seperti diriku pun ternyata
Mudah menyerah
Walaupun kau bukan titisan dewa
Karena kau jadikanku sang dewi
Dalam taman surgawi
Ho
Ho
Ho
Walaupun dirimu tak bersayap
Ku akan percaya
Kau mampu terbang bawa diriku
Tanpa takut dan ragu
Walaupun kau bukan titisan dewa
Karena kau jadikanku sang dewi
Dalam taman surgawi
Meisya dan Grace bertepuk tangan mendengar Freya bernyanyi, Darren tertegun mendengar suara merdu istrinya.
"Woaaahh, lagi Frey lagi." Ucap Grace.
"Udah ah lagi-lagi dibayar berapa gue." Ucap Freya, semua orang pun tertawa mendengar perkataan Freya.
"Yaelah perhitungan amat Frey." Ucap Grace.
"Eh lo denger ya orang nyanyi tuh dibayar, ini kaga dibayar lo pake nawar minta lagi. Bayar lah gue juga haus pengen beli minum." Ucap Freya, Meisya dan Grace yang sejak tadi tertawa pun menyerang Freya hingga ketiga wanita itu berguling-guling di rumput.
"Kotor ya ampun punya saudara begini amat." Teriak Freya, Meisya dan Grace yang merasa gemas masih memeluk Freya.
"Ahahaha." Tawa Grace dan Meisya yang begitu lepas, membuat Alex berkaca-kaca melihat nya.
Sementara Darren terdiam ia melihat ketiga wanita yang saat ini berguling di rumput itu seperti anak kecil, ia bahkan tak pernah melihat Ellen bercanda seperti itu dulu.
"Kakak g*la ya lo lepasin kotor." Teriak Freya sambil tertawa, Ellen diam menatap nanar pemandangan itu.
Ellen berpikir Freya, Meisya dan Grace adalah tiga wanita yang beruntung karena bisa mendapatkan kebahagiaan yang sederhana, terulas senyum tipis di bibir Ellen.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy reading π€π jangan lupa like komen dan vote nya πβΊοΈ