Antara Cinta Dan Dendam

Antara Cinta Dan Dendam
Epson 57


__ADS_3

Akhirnya Freya pun berhasil di selamatkan Grace menangis saat melihat kepala Freya yang berlumuran darah, ia tak sanggup melihat keadaan sahabatnya.


"Freya maafin gue." Lirih Grace, ia pun langsung membawa Freya ke rumah sakit menggunakan ambul*nce.


Sesampainya di rumah sakit Freya langsung di tangani oleh dokter, dan Grace terlihat mondar-mandir di depan ruang U*D.


"Dok bagaimana keadaan sahabat saya?" Tanya Grace.


"Nona tenanglah sahabat anda tidak apa-apa hanya mengalami luka kecil di bagian kepalanya." Ucap dokter menenangkan Grace.


"Dok tapi tadi Freya mengeluarkan banyak darah." Ucap Grace.


"Anda tenang saja nona dia sudah mendapatkan transfusi darah, sangat bersyukur karena masih ada stok darah di rumah sakit." Jawab nya dengan tenang, tubuh Grace terasa lemas mendengar itu.


Ia jadi membayangkan bagaimana jika tidak ada stok darah di rumah sakit, akankah keadaan Freya memburuk karena yang Grace tahu darah Freya ini sama dengan Alex yang saat ini tidak ada disana dan masih dalam perjalanan.


"Baiklah kalau begitu terimakasih banyak dokter." Ucap Grace, dokter itu pun mengangguk lalu pergi meninggalkan Grace.


Tak lupa Grace langsung memberikan kabar terbaru kepada Darren bahwa saat ini Freya sudah berada di rumah sakit, Grace berharap karena kejadian ini Darren akan lebih menyayangi Freya.


Setelah menempuh perjalanan selama hampir dua jam Darren pun tiba di ba*i, tanpa menunggu lama ia langsung pergi menuju ke rumah sakit yang Grace katakan.


"Semoga kamu baik-baik saja Frey." Lirih Darren.


Saat sampai di rumah sakit Darren berlari mencari keberadaan Grace, dan dari kejauhan Darren melihat Grace yang masih berdiri di ruang U*D.


"Dimana Freya?" Tanya Darren to the points, orang yang pertama kali ia tanyakan adalah istri nya.


"Freya masih berada di dalam pak." Jawab Grace, Darren menatap Grace dengan marah.


"Kenapa semua ini bisa terjadi? Apakah tidak ada satupun dari kalian yang mencoba melindungi Freya?" Ucap Darren, Grace senang saat Darren begitu mengkhawatirkan Freya meskipun dirinya di maki-maki oleh suami sahabatnya itu.

__ADS_1


"Pak saat itu posisi saya dan Freya berjauhan, saya sudah berteriak agar Freya menjauh dari sana tapi nyatanya pergerakan saya dan Freya kalah cepat dengan jatuhnya rak tersebut." Ucap Grace jujur.


Darren memejamkan matanya dan menatap Freya yang terbaring lemah dari jendela ruangan itu, Darren merasa benar-benar gagal menjadi suami kali ini.


Selama ini ia selalu berusaha melukai hati Freya tapi tidak dengan fisik nya, Darren begitu menjaga agar Freya tidak terluka atau tergores sedikit pun. Berlebihan memang tapi itulah cara dia menjaga Freya, meskipun Darren selalu berusaha melukai hati istrinya.


Darren masuk kedalam ruang rawat Freya saat Freya sudah di pindahkan ke kamar VVIP, ia duduk di samping Freya dan menggenggam jemari lentik Freya.


Dan saat itu pula Alex, Meisya juga Ellen berada disana, Alex menemui Grace yang duduk di kursi yang berada di depan kamar rawat Freya.


"Grace bagaimana keadaan Freya?" Tanya Alex.


"Keadaan Freya sudah jauh lebih baik om, hanya saja Freya belum sadar." Ucap Grace, Ellen dan Meisya melihat Darren yang sedang menemani Freya di dalam sana.


"Ini apa-apaan sih kenapa malah Darren makin lengket sama Freya, dan sejak kapan Darren ada disini bukankah Freya hanya bersama dengan Grace. Ohh, atau jangan-jangan si licik ini yang menghubungi Darren aashh si*l." Batin Ellen.


"Di dalam ada Darren apakah kamu juga menghubungi Darren?" Ucap Alex.


"Iya om karena Darren kan suaminya Freya, jadi saya pikir dia harus tahu apa yang terjadi kepada istrinya." Ucap Grace.


"Kenapa? Apa yang dilakukan oleh Grace benar kok, sekarang ini Darren yang lebih berhak atas Freya karena Darren adalah suaminya Freya." Ucap Meisya.


"Nah iya, lagian kan gak ada salahnya aku kasih tahu Darren dia bukan orang lain untuk Freya." Ucap Grace.


"Sudah-sudah jangan bertengkar lagi ini di rumah sakit, dan kamu sayang cukup mencari kesalahan orang lain yang harus kita pikirkan itu Freya sekarang." Ucap Alex.


"Cih, ogah banget mikirin Freya mending mikirin diri sendiri." Batin Ellen lagi.


"Grace lihatlah dia seperti pangeran yang sudah sadar jika Freya adalah rumah tempat dia untuk pulang, setelah sekian lama berlabuh akhirnya Freya lah yang menjadi pelabuhan terakhir untuk Darren." Ucap Meisya, perkataan Meisya semakin membuat Ellen kebakaran.


"Kak dalem banget sih kata-kata nya, dan kakak harus tahu aku rela di maki-maki oleh Darren saat dia baru saja sampai sini. Dia begitu mengkhawatirkan Freya kak." Balas Grace, Meisya tertawa kecil mendengar perkataan Grace.

__ADS_1


"Mei Daddy masuk dulu kamu dan Ellen tunggu disini." Ucap Alex, Meisya pun mengangguk sementara Ellen hanya diam saja menatap sinis Meisya dan Grace.


"Itu tuh karma buat dia yang sudah merebut lelaki yang dicintai oleh wanita lain." Ceplos Ellen.


"Cih, harusnya kamu saja yang kena karma karena sudah merebut suami orang." Balas Grace.


"Benar sekali, bahkan dia selalu membanggakan dirinya yang sekarang sudah menjadi istri Daddy." Ucap Meisya.


"Padahal om Alex mau nikahin dia juga karena terpaksa paling, lo harus tahu Ellen seberapa cinta nya om Alex ke tante Meira. Tapi sayang nya lo gak tahu cih." Ucap Grace.


"Gue gak peduli yang penting sekarang gue pemenangnya." Ucap Ellen bangga, Meisya dan Grace menoleh menatap Ellen.


"Iya ya ya, dan sekarang gue bangga karena Freya juga jadi pemenang di hatinya Darren." Ucap Grace, Meisya tersenyum tipis melihat Grace yang selalu membalas perkataan Ellen.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Happy reading πŸ€—πŸ˜‰ jangan lupa like komen dan vote nya πŸ™β˜ΊοΈ


__ADS_2