
Tepat pukul 11:30 malam hari Alex masuk kedalam kamar rawat Freya, dan ia melihat Darren masih berdiam diri disana tanpa menjauh sedikit pun dari putrinya.
"Darren kamu perlu istirahat biarkan Freya Daddy yang jaga, sebaiknya kamu makan dan beristirahat dulu." Ucap Alex.
"Tidak perlu dad saya tidak lapar." Ucap Darren.
"Darren jika kamu tidak makan nanti kamu akan sakit, dan kalau kamu sakit siapa yang akan menjaga istri kamu." Ucap Alex lagi, Darren tetap tak bergeming.
"Sebaiknya Daddy pulang saya bisa menjaga Freya sendiri." Ucap Darren.
"Darren." Paksa Alex.
"Dad saya bisa menjaga istri saya sendiri." Ucap nya lagi, alhasil Alex pun tidak bisa memaksa Darren untuk pergi.
"Baiklah kalau begitu Daddy pergi dulu jika ada apa-apa kabari Daddy." Ucap Alex, Darren diam tak menanggapi perkataan Alex.
Setelah kepergian Alex Darren menunduk dan siapa sangka lelaki yang terlihat dingin dan kejam itu kini sedang menangis, tanpa Darren sadari ada Ellen diluar yang menyaksikan kesedihan hati Darren saat melihat Freya terbaring.
"Freya ayok bangun saya lebih suka kamu bangun dan membantah setiap perkataan saya, Frey saya tidak suka kamu yang diam tanpa berbicara apapun." Lirih Darren.
"Bangun Freya, meski saya tidak tahu apa yang saya rasakan terhadap kamu tapi saya tahu jika saya tidak bisa melihat kamu terluka. Saya salah Frey saya salah karena sudah berusaha membuat kamu terluka." Lirih Darren lagi.
"Kamu benar di tinggalkan oleh seseorang demi orang lain itu tidak begitu menyakitkan, dibandingkan dengan apa yang kamu rasakan Frey." Tambah Darren.
"Saya sudah pernah kehilangan wanita yang saya cintai karena penghianatan, tapi itu bukan apa-apa untuk saya dan saat ini saya tidak mau kehilangan kamu apalagi untuk selamanya." Lirih Darren lagi, ia meletakkan kepalanya di tangan Freya.
"Darren apa sebegitu sayang nya kamu kepada Freya, aku bahkan tidak pernah melihat kamu menangis dan kamu tidak pernah menangis untuk aku. Tapi untuk Freya kamu terlihat begitu rapuh Darren, sakit sekali melihat kamu yang sudah mulai menerima wanita lain." Lirih Ellen, air mata Ellen menetes menatap bagaimana Darren menangis di dekat Freya.
"Freya bangun ya lo berhasil bikin dia jatuh hati Frey, lo berhasil bikin dia luluh Frey gue mohon lo bangun. lo harus buktiin sama dunia kalau Freya bisa bahagia, dan Freya adalah satu-satunya wanita yang dicintai oleh Darren intinya lo harus menjadi wanita paling bahagia Frey." Lirih Grace, dan ternyata selain Ellen ada Grace juga yang melihat Darren menangis dan memohon agar Freya bangun.
__ADS_1
...
Keesokan harinya saat Darren masih terlelap di samping Freya, Freya terbangun dan mulai membuka mata ia mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk.
"Aku ada dimana, asshh." Lirih Freya, ia merasa kepalanya pusing sekali.
"Ini kenapa putih semua, aduh." Gumam Freya, ia merasa tangan nya keram karena Darren menjadikan tangan Freya sebagai bantalan untuk kepalanya.
"Darren." Lirih Freya saat ia mengalihkan pandangan nya.
Senyum manis terukir di bibir mungilnya, ia tak menyangka jika Darren mau menemani dirinya bahkan sampai ketiduran.
"Selamat pagi nona." Ucap suster yang tiba-tiba masuk, membuat Freya refleks menempelkan telunjuk di bibirnya.
"Ssstttt, pagi sus." Ucap Freya dengan suara yang sangat pelan.
"Suaminya masih tidur ya nona." Ucap suster yang terlihat ramah itu, Freya hanya tersenyum dan mengangguk saja.
"Nona keadaan nya sudah jauh lebih baik, nanti jika sudah tidak ada keluhan dan semuanya sudah normal bisa segera pulang." Ucap dokter.
"Iya terimakasih dok." Balas Freya.
"Kalau begitu saya tinggal dulu jangan lupa makan dan obat nya diminum." Ucap dokter itu, Freya mengangguk lagi sambil tersenyum manis.
Setelah kepergian dokter dan suster nya Grace, Meisya, Ellen dan Alex muncul melihat keadaan Freya.
Grace dan Meisya menutup mulutnya karena mereka merasa berbunga-bunga melihat kebersamaan Freya dan Darren, Freya yang melihat itu langsung memasang wajah datar nya.
"Sepertinya Darren begitu kelelahan sampai dokter datang saja dia tidak merasa terusik." Ucap Alex dengan suara yang sangat rendah.
__ADS_1
"Bagaimana tidak lelah sejak baru datang sampai sekarang Darren tidak mau meninggalkan Freya sedetikpun, wajar saja jika saat ini tidurnya begitu nyenyak." Ucap Meisya.
"Lagian jadi istri gak bisa banget ngurus suaminya, di suruh pindah dulu kek biar Darren tidur dengan posisi yang nyaman." Cetus Ellen.
"Hei rubah betina gak di ajak." Ucap Grace, membuat Meisya tercengang karena Grace terlihat begitu berani padahal ada Alex di dekat mereka.
"Apaan sih lo." Ucap Ellen.
"Lo bisa gak Ellen diam sebentar, lo tuh kenapa si kayak gak suka lihat Darren dekat dengan Freya padahal kan Freya istrinya." Ucap Grace sengaja, dan perkataan Grace membuat Alex dan Meisya yang belum mengetahui kenyataan bahwa Darren mantan kekasih Ellen menatap Ellen.
"Apaan sih lo orang gue biasa aja kok emang dasar lo nya aja yang sentimen sama gue." Ucap Ellen.
"Ya gimana gak sentimen lo aja jadi orang dengki banget." Ucap Grace, Freya memejamkan matanya jika tidak sedang sakit rasanya ingin sekali Freya menyumpal mulut Ellen.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Happy reading π€π jangan lupa like komen dan vote nya πβΊοΈ