Antara Cinta Dan Dendam

Antara Cinta Dan Dendam
Epson 145


__ADS_3

Di kamar rawatnya terlihat Safira sedang duduk termenung, hingga fokus nya tiba-tiba teralihkan oleh suara pintu terbuka. Matanya terbelalak melihat sosok yang kini sudah berdiri tegap di hadapan nya, ia menatap sosok itu penuh kebenc*an.


"D-dani ngapain lo kesini?" Tanya Fira, ia takut jika orang tuanya muncul dan bertanya tentang sosok Dani kepadanya.


"Kenapa Ra kenapa lo kaya kaget gitu liat gue ada disini." Ucap Dani dengan senyum nakal nya.


"Dani gue mohon lo pergi dari sini Dani sebelum mami sama papi gue liat lo." Ucap Safira memohon.


"Kenapa lo terkesan menyembunyikan gue dari keluarga lo Ra, gue kesini cuma mau tahu keadaan calon anak gue." Ucap Dani, berhasil membuat Safira menganga.


"Jangan bo*oh Dani, ini anak Gabriel bukan anak lo dan gue minta Lo pergi sekarang." Ucap Safira kekeh.


"Ra itu anak gue, kenapa lo bisa bilang kalau itu anak Gabriel." Kesal Dani.


"Gak, gue yakin ini anak Gabriel dan bukan anak lo." Ucap Fira masih kekeh.


"Haha, Safira lo tuh terlalu banyak bermimpi Ra. Lo tuh bukan tipe nya Gabriel dan gak mungkin Gabriel mau nyentuh lo, dia macarin lo itu cuma karena gabut Ra." Ucap Dani.


"Cukup Dani, Gabriel itu cinta sama gue nyatanya dia penuhi semua yang gue mau. dia kasi apapun yang gue minta itu artinya Gabriel cinta sama gue." Ucap Fira, kini air matanya mengalir.


"Ra lo tuh gak lebih dari sekedar mainan buat Gabriel meskipun dia gak benar-benar mainin lo, hidup Gabriel itu sempurna dia punya banyak uang dia punya segalanya yang dia gak punya cuma satu Ra beban hidup. Gabriel cuma bingung mau pake uang nya buat apa, mangkanya dia macarin lo karena dia tahu Lo cewek g*la harta." Ucap Dani, Safira menganga mendengar perkataan Dani yang sangat menyakiti hatinya.


"Cukup, lo denger gak si gue bilang cukup Dani gue minta lo pergi sekarang." Teriak Safira melempar bantal kepada Dani.


"CK, gue pergi sekarang tapi lo harus ingat kalau gue gak akan benar-benar pergi sebelum lo mengakui bahwa anak yang lo kandung itu anak gue." Balas Dani, ia pun pergi dari kamar rawat Safira.


"Dani si*lan, aaaarrggghh ini anak Gabriel bukan anak lo Dani." Histeris Safira.


***


"Kau yakin anak yang dikandung oleh wanita itu bukan anakmu Gabriel." Ucap Darren ingin memastikan sekali lagi.

__ADS_1


"Daddy tidak percaya padaku?" Ucap Gabriel, ia sempat tersentak mendengar perkataan Darren seperti sedang meragukan dirinya.


"Bukan begitu Daddy hanya takut kamu menyakiti dan mengecewakan Kanaya." Ucap Darren, Gabriel pun menghela nafasnya ia terlihat menunduk.


"Dad," panggil Gabriel, membuat Darren menatap putranya.


"Hmmm," balas Darren.


"Aku lelah menjelaskan semuanya, aku tidak pernah menyentuh dia dad." Ucap Gabriel.


"Daddy harap perkataan kamu ini benar Gabriel agar Daddy bisa terus menjadi garda terdepan untuk melindungi kamu, Adisty dan Kanaya. Tapi jika kamu berbohong dan membuat Kanaya terluka Daddy tidak akan segan-segan menghapus namamu sebagai ahli waris utama." Ucap Darren.


Gabriel terbelalak mendengar perkataan Darren, ia tak percaya jika Darren mengatakan itu kepadanya. Bahkan Gabriel sendiri bingung sebenarnya anak Darren itu dirinya atau Kanaya? Kenapa keluarga nya terlihat begitu menyayangi Kanaya.


"CK, aku berani sumpah dad aku tidak pernah menyentuh Safira. Jangankan Safira yang bukan istriku, Kanaya yang sudah menjadi istriku saja belum aku sentuh." Ucap Gabriel, membuat Darren terhenyak mendengar perkataan Gabriel.


"Apa?" Ucap Darren terkejut, membuat Gabriel ikut tersentak.


"Gabriel kau belum menyentuh Kanaya?" Tanya Darren tak percaya.


"Ya, kenapa kau terkejut?" Ucap Gabriel menatap sinis Darren.


"Oh my God, tiga bulan kau menikah dengan nya kau belum berhasil menyentuh nya? Jika begitu kapan cucuku akan terbentuk Gabriel Dirgantara." Geram Darren, Gabriel pun hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Dad aku dan Kanaya butuh waktu." Ucap Gabriel.


"Daddy tidak mau tahu, jika dalam waktu dekat kamu belum berhasil membuat Kanaya hamil maka posisimu sangat tidak aman. Buktikan jika kamu lelaki sejati dan tulen." Ucap Darren, lagi-lagi Gabriel menatap tak percaya kepada Darren.


"Daddy pikir membuat anak semudah membuat bakwan." Sengit Gabriel, ia kesal sekali dengan perkataan Darren yang terkesan mengejeknya.


"Ya mangkanya usaha, kalau Kanaya saja belum kau sentuh bagaimana dia bisa hamil? Kau pikir Kanaya akan hamil hanya dengan tidur memeluk guling." Ucap Darren.

__ADS_1


"CK, aku juga sudah berusaha dad." Ucap nya tak mau kalah.


"Usaha apa yang kamu lakukan jika meluluhkan hatinya saja kamu tidak bisa, apakah harus Daddy dan mami yang mengatur semuanya." Ucap Darren, Gabriel tercengang menatap sang Daddy pikirannya berkecamuk.


"Atur apa yang Daddy maksud? Apakah Daddy berniat untuk menyentuh Kanaya?" Tanya nya, Darren terlihat kesal dan melempar pulpen tepat mengenai kening sang putra.


"Kau g*la, bisa di keb*r* oleh mami mu jika Daddy melakukan itu." Kesal nya, Gabriel diam ia menatap Darren dengan jengah.


"Daddy akan mengatur acara bulan madu untuk kalian." Ucap Darren.


"Tidak perlu dad Kanaya tidak akan mau, Daddy tenang saja aku punya cara tersendiri untuk membuat menantu kesayangan Daddy dan mami mengandung." Ujarnya, setelah mengatakan itu Gabriel pergi dari hadapan Darren.


"Apa yang anak itu rencanakan," gumam Daren, namun ia tak peduli apa yang akan dilakukan oleh Gabriel.


"Nay laki lo kenapa tuh mukanya di tekuk gitu?" Bisik Laura, yang melihat Gabriel berjalan keluar kantor diikuti oleh Gio.


"Ya mana gue tau Ra," balas Kanaya.


"Eh, tapi tadi gue liat ada bos besar datang ke kantor. Jangan-jangan tuan Gabriel habis di kuliahi oleh Daddy nya." Bisik Laura lagi, membuat Kanaya terdiam ia menatap kepergian Gabriel yang semakin menjauh.


"Gak tau gue, udah ah ngapain si ngurusin kaya gituan." Ucap Kanaya.


"Ya ampun nay lo gak ada khawatir apa sama suami lo sendiri, dia itu suami lo nay." Bisik Laura lagi.


"Ra udah gak usah ngomongin itu gue gak mau nanti ada yang denger." Ucap Kanaya, Laura pun menutup mulutnya rapat-rapat.


"Oke-oke." Ucap Laura, kedua wanita itu melanjutkan untuk fokus dengan pekerjaan nya.


Sementara Kanaya sesekali memikirkan wajar Gabriel yang terlihat kusut, Kanaya pun melirik Laura yang sedang sibuk dengan komputer nya.


"Apa yang dia bicarakan dengan Daddy, kenapa wajahnya kusut seperti pakaian belum di setrika." Batin Kanaya.

__ADS_1


__ADS_2