
Hari-hari berjalan begitu cepat hari ini Kanaya dan Gabriel juga menjalankan kegiatan nya seperti biasa, usia kandungan Kanya semakin bertambah kini kehamilan nya sudah menginjak bulan ketiga.
"Sayang mami khawatir dengan kondisi kamu, apa gak sebaiknya kamu berhenti saja dari kantor? Gabriel bisa kok memenuhi kebutuhan kamu sayang." Ucap Freya.
"Apa yang mami katakan benar kak, sebaiknya kakak memang berhenti bekerja saja. Lagi pula kak Gabriel juga tidak setiap saat berada di kantor, sesekali dia harus keluar untuk bertemu dengan klien atau urusan keluar kota/ negri." Ucap Adisty yang ikut merasa khawatir.
"Aku pikirkan nanti ya mi, tapi sekarang Kanaya beneran masih betah kerja." Ucap Kanaya.
"Nak kandungan kamu juga makin lama pasti semakin membesar, dan lihat tubuh kamu sudah mulai ada perubahan dan Daddy yakin kamu juga pasti merasa kelelahan." Ucap Darren.
"Iya dad memang lumayan sering lelah sekarang, tapi-" Kanaya terhenti dan menatap suaminya.
"Aku tidak akan memaksa kamu untuk berhenti bekerja jika itu membuat kamu senang tidak apa-apa, tapi jika terjadi sesuatu kepada kamu atau calon anak kita apakah kamu bisa bertanggung jawab?" Ucap Gabriel, Kanaya diam jujur saja ia tidak bisa menjamin apapun.
"Baiklah akan aku pikirkan nanti." Ucap Kanaya, Freya dan yang lain pun tersenyum manis kepada Kanaya.
...
"Mau kemana nay?" Tanya Laura saat melihat Kanaya bangkit dari tempat duduknya.
"Toilet gue kebelet," jawab Kanaya.
Laura mengangguk dan kembali melanjutkan pekerjaannya nya, begitupun dengan Rian kedua sahabat Kanaya itu kembali fokus dengan komputer nya masing-masing.
Kanaya berjalan sedikit tergesa karena memang sudah sangat kebelet, setelah selesai Kanaya berjalan keluar dan-
Sreeekkk, brukkk!
"Aakkhh," Kanaya menjerit keras karena terpeleset dan jatuh.
""Perutku," lirihnya.
"Heh Ra Kanaya jatuh di toilet," ucap seorang karyawan.
"Apa?" Pekik Laura dan Rian, keduanya berlari menuju toilet.
Sementara itu Gio juga ikut terkejut mendengar kabar jika istri dari sahabatnya terjatuh, ia buru-buru memberi tahu Gabriel.
"Riel Kanaya jatuh di toilet," ucap Gio tanpa basa-basi.
__ADS_1
"Apa?" Pekik Gabriel, ia buru-buru berlari kencang keluar dari ruang kerja nya.
"Nay ya ampun kenapa bisa gini si," lirih Laura berusaha membantu Kanaya.
"Ra perut gue sakit Ra," desis Kanaya Laura terbelalak melihat darah yang keluar di kaki Kanaya.
"Nay, ya tuhan." Pekik Laura.
"Kanaya," panggil Gabriel saat melihat istrinya di kerumuni banyak orang.
"Kita kerumah sakit sekarang, Gio siapkan mobil buruan." Teriak Gabriel.
"G-gabriel, kenapa Gabriel yang nolong Kanaya kenapa dia juga terlihat khawatir." Lirih Karin.
"Gabriel perut aku sakit," tangis Kanaya pecah dalam pelukan suaminya.
Gabriel menggendong Kanaya menuju lobby, dan itu menjadi pusat perhatian para karyawan kantor.
"Sabar sayang kita akan segera kerumah sakit." Ucap Gabriel.
"Gabriel bagaimana keadaan Kanaya?" Tanya Freya, ia begitu terkejut saat Laura memberi tahu tentang menantunya yang terjatuh.
"Masih ditangani oleh dokter mam," jawab Gabriel.
"Mam sudah, kak Gabriel dan kak Naya juga tidak tahu jika semua ini akan terjadi." Ucap Adisty.
"Dok bagaimana keadaan istri dan anak saya?" Tanya Gabriel.
"Alhamdulillah tuhan masih mempercayai kalian, janin nya selamat hanya saja bu Kanaya harus menjalani bed rest selama beberapa Minggu kedepan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Selain itu saya juga akan memberikan obat penguat kandungan." Ucap dokter.
"Alhamdulillah, cucu ku tidak apa-apa terimakasih tuhan." Lirih Freya.
"Lalu bagaimana dengan istri saya dok?" Tanya Gabriel lagi.
"Bu Kanaya baik-baik saja tuan, hanya saja ia mengalami sedikit shock karena melihat darah yang keluar akibat benturan yang lumayan keras." Ucap dokter.
"Apakah saya bisa melihatnya sekarang?" Tanya Gabriel lagi.
"Silahkan," balas dokter itu.
__ADS_1
"Terimakasih dok," Ucap Freya yang ikut masuk ke kamar rawat Kanaya.
"Honey," panggil Gabriel kepada Kanaya yang sedang melamun.
Kanaya mengalihkan pandangan nya menatap wajah tampan sang suami, air matanya menetes ia merasa sangat bersalah dengan kejadian ini.
Saat dokter berkata jika Gabriel membawanya ke rumah sakit dengan tepat waktu jika tidak mungkin Kanaya akan kehilangan calon anaknya, saat itu juga Kanaya merasa Gabriel adalah lelaki yang benar-benar baik dan bertanggung jawab.
Kanaya semakin dibuat yakin jika Gabriel lelaki yang ia impikan untuk menjadi pasangan nya, sementara Gabriel heran melihat sang istri yang menangis tersedu-sedu.
"Hei kenapa apa yang sakit?" Tanya Gabriel.
"Maaf," lirih Kanaya.
"Untuk?" Tanya Gabriel bingung.
"Karena aku yang keras kepala harusnya aku mendengarkan kamu, mami, dan Daddy untuk tidak bekerja lagi. Jika terlambat sedikit saja mungkin kita akan kehilangan anak ini, ini semua salahku." Lirihnya.
"Ssttt, jangan katakan itu lagi. Semuanya baik-baik saja sekarang, dokter mengatakan kamu harus bed rest selama beberapa Minggu kedepan. Dan aku harap kamu mau berhenti bekerja honey, aku tidak ingin kejadian seperti ini terjadi lagi kepada kamu dan calon anak kita." Ucap Gabriel, Kanaya mengangguk ia akan menuruti keinginan sang suami.
Kali ini Kanaya tidak mau egois ia juga tidak mau kalau calon anaknya kenapa-kenapa, Kanaya akan melindungi calon anak mereka dengan baik.
"Sayang syukurlah kamu dan bayimu baik-baik saja, mami hampir kehabisan nafas saat Laura menghubungi mami." Ucap Freya.
"Kak aku hampir mat* berdiri mendengar nya, jangan sampai terjadi lagi aku tidak ingin kakak dan calon keponakan aku kenapa-kenapa." Ucap Adisty.
"Maafkan Naya mam, Adisty maafkan kakak karena sudah membuat kamu dan mami khawatir." Ucap Kanaya.
"Tidak apa-apa jangan dipikirkan lagi, tapi bagaimana bisa kakak terjatuh?" Ucap Adisty.
"Tadi saat aku masuk ke dalam toilet tidak ada yang salah, tapi saat aku keluar dari sana lantainya sangat licin hingga aku terpeleset." Ucap Kanaya.
"Kenapa harus saat keluar, jika memang lantainya licin bisa saja kakak jatuh sebelum masuk kedalam toilet." Ucap Adisty.
"Kamu benar sayang ini ada yang tidak beres, Gabriel kamu segera selidiki ini. Siapa yang mengajak bermain-main dengan mencelakai menantu dan calon cucuku." Ucap Freya.
"Iya mam akan aku selidiki secepatnya," ucap Gabriel.
"Kamu istirahat ya sayang jangan dipikirkan lagi, kamu tidak boleh banyak pikiran." Ucap Gabriel, Kanaya mengangguk dan tersenyum tipis.
__ADS_1
"Mam aku bisa titip Kanaya sebentar? Aku harus kembali ke kantor untuk mencari tahu semuanya." Ucap Gabriel, ia menoleh menatap Kanaya yang terlelap.
"Pergilah mami dan Adisty akan menjaga istri kamu disini." Balas Freya, Gabriel pun mengangguk dan pergi dari rumah sakit.