
Beberapa hari berlalu hari ini Adisty memutuskan untuk pergi ke kantor sang kakak, ada yang harus ia bicarakan dengan kakak nya.
Tentu saja kedatangan Adisty menarik perhatian para karyawan di kantor, selain cantik Adisty juga baik hati tidak seperti Gabriel yang terkesan dingin.
"Selamat datang nona." Sapa seorang karyawan pria, Adisty mengangguk saja tanpa berhenti.
"G*la itu adiknya tuan Gabriel cakep bener." Ucap lelaki yang baru saja menyapa nona muda nya.
"Heh jaga tuh mata jangan sampai di c*l*k nanti sama tuan Gabriel." Ucap Laura.
"CK, apaan si lo." Ujar nya kesal karena perkataan Laura.
"Bangun Rian bangun." Ucap Laura menepuk bahu Rian.
"Lo gak bisa apa Ra liat temen seneng dikit, kaya nya kalau gak ganggu gue hidup lo gak tenang ya." Ucap Rian mencebikan bibirnya.
"Haha, emang." Jawab Laura santai.
"Kalian kenapa si debat terus heran gue." Ucap Kanaya yang datang dengan se cup coklat hangat.
"Nay mending lo kalo lagi jalan gak usah bawa minuman atau makanan deh, rawan gue ." Ucap Rian.
"Apaan si lo." Balas Kanaya sinis.
"Lagian lo apa ga trauma nay, terakhir kali lo bawa coklat hangat itu malah tumpah ke pakaian tuan Gabriel." Ucap Rian.
"Ck, tenang aja lagi yan kali ini aman lagian bos lo yang tengil itu gak akan keluar dari ruang kerja nya." Ucap Kanaya.
"Sok tau banget lo." Balas Laura terkekeh.
"Tau lah, tapi ngomong-ngomong_" Belum sempat Kanaya menyelesaikan perkataannya, ia melihat Gabriel yang berjalan keluar bersama dengan Adisty.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong apa nay?" Tanya Rian.
"Nay woy." Panggil Rian lagi, karena Kanaya terlihat melamun.
"Temen lo kesambet neng uti kali Ra." Ucap Rian ngasal.
"Kalo ngomong dijaga." Ucap Laura, Rian pun cengengesan membuat Laura mencebikan bibirnya.
Akhirnya merekapun tahu apa yang membuat Kanaya melamun alias tercengang, Rian dan Laura menatap kepergian Gabriel dan Adisty.
"Emmm, pantes tu mata ga kedip ternyata liat yang bening-bening." Ucap Rian, membuat Kanaya langsung menatap nya.
"Apaan si lo." Balas Kanaya yang langsung pergi meninggalkan Rian.
....
Di kediaman Alex terlihat Alice dan Ellen yang duduk di sebuah gazebo halaman belakang, Alice menatap sang mami yang fokus dengan ponsel nya.
"Mam keputusan kak Freya sudah bulat? Emang gak bisa di ganggu gugat lagi ya? Tanya Alice, membuat Ellen tertawa kecil mendengar pertanyaan putrinya.
"Ya enggak lah mam, keputusan papi itu sudah harga mati yang tidak bisa dirubah oleh siapapun kecuali dirinya sendiri." Ucap Alice.
"Kalau kamu sudah tahu lalu kenapa bertanya sayang?" Tanya Ellen.
"Maksudnya gimana mam, aku bertanya tentang kakak kenapa mami malah membahas papi." Ucap Alice.
"Alicia Gustove, sifat dan karakter Freya itu plek ketiplek dengan papi kamu. Kalau keputusan papi saja tidak bisa di tawar lagi, bagaimana dengan keputusan Freya nak." Ucap Ellen lembut.
"CK, mentang-mentang anaknya harus banget ya nurun watak papi." Kekeh Alice.
"Kamu juga sama kayak papi kamu, kalau sudah memiliki keinginan harus selalu kamu dapatkan." Ucap Ellen lagi.
__ADS_1
"Haha, benar juga sih." Balas Ellen.
"Jadi gimana apakah Gabriel marah atau menolak keputusan kakak kamu?" Tanya Ellen menatap putrinya.
"Gak tau si mam aku belum bertemu dengan Gabriel lagi beberapa hari ini." Ucap Alice.
"Baiklah kalau begitu biar nanti mami yang akan menemui kakak kamu." Balas Ellen, Alicia pun mengangguk ia tak mau ikut campur urusan orang tua termasuk keluarga sang kakak.
Meskipun Alicia begitu menyayangi dan peduli kepada Gabriel sebagai keponakannya, tetap saja untuk hal yang menyangkut dengan masa depan Gabriel Alicia tidak mau ikut campur.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Happy reading 🤗😉 kasi like komen dan vote ya biar othor semangat terus update nya 😉