
Gabriel menyentuh pipi Kanaya hingga membuat Kanaya yang semula terlelap pun perlahan membuka matanya, senyum mengembang di bibirnya yang terlihat pucat.
"Honey," lirih Gabriel lagi tak lupa ia mengecup lembut kening Kanaya yang dipenuhi bulir-bulir keringat.
Laura ternganga melihat pemandangan di hadapannya, ia seakan tak di anggap disana bahkan mungkin Laura tak terlihat sama sekali oleh Gabriel.
"Kamu pulang?" Tanya Kanaya.
"Hmmm, aku pulang untuk kamu honey. Kenapa kamu tidak bilang jika kamu sakit hmmm?" Ucap Gabriel, Kanaya hanya tersenyum saja menanggapi perkataan suaminya lalu berkata.
"Aku tidak apa-apa Gabriel aku baik-baik saja." Jawabnya, tanpa menunggu lama lagi Gabriel langsung menggendong tubuh Kanaya. Sementara Laura ia membawakan tas milik Kanaya dan mengekor dibelakang Gabriel, dari kejauhan Laura melihat Freya berjalan menghampiri Gabriel dan Kanaya.
"Sayang Kanaya kenapa?" Tanya Freya.
"Entahlah mam Gabriel juga tidak tahu, tiba-tiba saja tadi Gio memberi tahu Gabriel jika Kanaya sedang sakit." Ucap Gabriel.
"Kak, kakak kenapa?" Tanya Adisty khawatir, ia sampai berlari dari kamarnya menuju kamar Gabriel dan melompat ke atas tempat tidur untuk duduk disamping Kanaya.
"Adisty aku tidak apa-apa," jawab Kanaya.
"Kanaya kenapa kak?" Kali ini Alice yang tiba-tiba muncul.
Laura bahkan sampai tak percaya jika Kanaya begitu di sayangi oleh keluarga Gabriel, dan Laura yakin orang-orang yang saat ini ada di hadapannya akan menjadi pelindung untuk Kanaya.
"Entahlah Alice kakak juga tidak tahu pulang-pulang Kanaya sudah seperti ini." Ucap Freya, ia menyentuh tangan Kanaya.
"Sayang apa yang kamu rasakan?" Tanya Freya, baru saja Freya bertanya perut Kanaya kembali mual seperti sedang di aduk-aduk.
"Ra," panggil Kanaya kepada Laura yang sejak tadi berdiri disana.
"I-iya nay," sahut Laura semua orang sampai lupa jika ada Laura disana saking khawatir nya kepada Kanaya.
"Ra bantuin Ra," ucap Kanaya mengangkat tangan nya kepada Laura.
"Sini," balas Laura semua orang membiarkan Laura membantu Kanaya.
Kanaya pun kembali mengeluarkan isi perutnya, ia bahkan sampai menangis di pelukan Laura.
"Nay kita ke dokter ya gue gak tenang kalau lo kayak gini terus." Bisik Laura, ia memeluk Kanaya dan mengusap punggung Kanaya.
"Honey," panggil Gabriel ia mendekati Kanaya dan mengambil Kanaya dari pelukan Laura.
"Aku sudah panggil dokter untuk kamu tahan ya sebentar lagi dokter datang." Ucap Gabriel, Kanaya hanya mengangguk lemah saja.
"Laura," panggil Freya.
__ADS_1
"I-iya nyonya," sahut Laura ia merasa gugup saat Alice dan Adisty menatapnya.
"Panggil saya tante Laura," ucap Freya.
"I-iya nyonya, eh tante." Ucap Laura, Freya pun tersenyum begitu juga dengan Adisty dan Alice.
"Terimakasih karena kamu mau mengantar Kanaya pulang, kamu juga sudah mau menemani Kanaya." Ucap freya tulus.
"Tidak apa-apa saya dan Kanaya memang dekat tante, Kanaya sudah seperti adik untuk saya." Ucap Laura.
"Kami senang melihat kedekatan kamu dengan Kanaya, semoga persahabatan kalian abadi sampai nanti ya." Ucap Freya, Laura pun mengangguk dan tersenyum manis.
"Eumm, terimakasih banyak tante." Lirih Laura.
"Maaf saya terlambat," ucap seorang dokter wanita yang terlihat muda dan cantik.
"Marsha apa kabar?" Ucap Freya menghampiri wanita cantik itu.
"Kabar baik tante," balas Marsha.
"Kamu telat 10 menit," ucap Gabriel.
Marsha menghela nafasnya mendengar perkataan Gabriel, ia ingin sekali mengomel jika tidak canggung kepada Freya.
"Tolong ya tuan Gabriel yang terhormat perjalan dari rumah sakit kesini itu lumayan jauh dan macet, jika saya telat sedikit mohon dimaklumi!" Ucap Marsha.
"Siapa yang sakit?" Tanya Marsha tanpa membalas perkataan Gabriel.
Sepertinya Marsha belum menyadari kehadiran Kanaya yang berada dalam pelukan Gabriel, bahkan Gabriel seperti enggan untuk melepaskan istri tercintanya.
"Ah itu sayang menantu tante yang sakit." Ucap Freya menunjuk Kanaya yang memejamkan matanya.
"Menantu?" Beo Marsha, ia terbelalak melihat Gabriel yang terus memeluk Kanaya.
"Kapan kamu nikah? Ternyata ada juga yang mau sama laki-laki kaya kamu." Ledek Marsha.
"Ngomong sekali lagi saya suntik bibirmu!" Ucap Gabriel dingin.
"Cih, yang dokter disini saya mon maap." Ucap Marsha mendekati Kanaya.
"Cantik." Itulah yang ada di pikiran Marsha saat melihat wajah Kanaya.
"Bisa tolong dibaringkan dulu agar saya bisa leluasa memeriksa nya?" Ucap Marsha.
"Memang tidak bisa kalau seperti ini saja?" Tanya Gabriel.
__ADS_1
"Tolong ya jangan mengganggu pekerjaan saya, kalau mau ngebucin nanti aja jangan sekarang." Kesal nya, dengan terpaksa Gabriel pun membaringkan tubuh Kanaya namun ia terus mengelus kepala sang istri.
"Hai aku Marsha," ucap Marsha kepada Kanaya.
"Aku Kanaya," jawabannya lemah.
"Apa yang kamu rasakan Kanaya?" Tanya Marsha, Kanaya pun menjelaskan tentang kondisi nya.
Tak hanya itu Marsha meraba perut Kanaya karena gejala yang dialami oleh Kanaya sangat ia tahu gejala seperti apa, Marsha pun tersenyum manis kepada Kanaya.
"Dijaga kesehatannya nya nay jangan capek-capek, kalau Gabriel nyuruh-nyuruh kamu tempeleng saja kepalanya." Ucap Marsha, Gabriel mencebikan bibirnya mendengar perkataan Marsha.
"Jadi Kanaya kenapa sha?" Tanya Gabriel.
"Selamat ya Gabriel untuk beberapa bulan kedepan kamu akan menjadi Daddy." Ucap Marsha.
"Ap-apa?" Tanya Kanaya.
"Kanaya sedang hamil tante Gabriel dan semua yang ada disini, perkiraan kandungan nya saat ini berusia tujuh Minggu. Dan untuk memastikan yang lebih jelasnya Kanaya aku sarankan kamu untuk menemui dokter spesialis kandungan." Ucap Marsha.
"Kanaya hamil?" Ucap Laura, Adisty, Alice dan Freya.
"Hmmm, aku akan resepkan vitamin untuk mengurangi rasa mual Kanaya. Dan Gabriel jaga Kanaya baik-baik, dan ini berlaku untuk semua yang ada disini." Ucap Marsha, Freya tersenyum dan langsung memeluk Kanaya penuh sayang.
"Selamat sayang akhirnya kamu akan menjadi ibu nak." Ucap Freya menitihkan air matanya.
"Terimakasih mam," balas Kanaya.
"Eum, Adisty ini resep vitamin untuk Kanaya. Dan untuk semuanya saya pamit untuk pulang, Kanaya selamat." Ucap Marsha.
"Terimakasih banyak dokter Marsha." Ucap Kanaya, Marsha mengangguk dan tersenyum manis.
"Gabriel jangan lupa transferan nya, haha." Ucap Marsha, Gabriel hanya menatapnya tajam.
"Aku antar keluar kak." Ucap Adisty, Marsha pun mengangguk dan tersenyum.
Ia menatap Adisty dengan senyuman manis nya, sementara Adisty tidak sadar jika Marsha sedang memperhatikan dirinya.
"Kamu pasti bahagia," ucap Marsha.
"Eumm, aku bahagia sekali hari ini bahkan beberapa bulan ini aku sangat bahagia." Ucap Adisty.
"Benarkah?" Tanya Marsha.
"Hmmm, semenjak kehadiran kak Naya kebahagiaan aku bertambah berkali-kali lipat. Bukan hanya aku yang merasakan ini tapi kak Gabriel, mami, Daddy, aunty Alice, ayah, buna dan semuanya merasakan kebahagiaan ini." Ucap Adisty.
__ADS_1
"Syukurlah kalau kamu dan keluarga sangat bahagia." Ucap Marsha, Adisty pun mengangguk dan tersenyum manis.