
Keesokan harinya Freya merenung di ruang kerja nya, kata-kata Darren yang mengatakan bahwa ia tak beda jauh dengan sang Daddy yang suka menyentuh milik orang lain masih terngiang-ngiang di ingatan nya.
"Apa yang Darren maksud, dan kenapa di laci meja kerja nya ada foto mami. Gak bisa nih gue gak bisa diem kaya gini, gue gak bisa terlihat bodoh dan gak tahu apa-apa." Lirih nya, Freya mengambil tas dan ponselnya lalu keluar dari ruang kerja nya.
"Loh Frey lo mau kemana?" Tanya Grace.
"Gue ada urusan penting lo tolong handle semua kerjaan gue." Ucap Freya, Grace tercengang lagi-lagi dirinya yang terkena sasaran.
"Kenapa sih itu anak aneh banget, tapi apa ini ada hubungannya sama Darren ya." Gumam Grace, namun ia tak mau memikirkan hal lain lebih baik Grace menyelesaikan pekerjaan yang ditinggalkan oleh sahabatnya.
Sesampainya di rumah Alex Freya berjalan dan mencari keberadaan Meisya kakak nya, Freya berharap Meisya tahu sesuatu yang akan membantu dirinya.
"Freya." Lirih Ellen.
Ia mengikuti Freya yang berjalan menaiki anak tangga dan menuju ke kamar Meisya, Freya mengetuk pintu kamar itu dan tak lama muncul lah Meisya.
"Loh Frey kamu ada disini, sejak kapan?" Tanya Meisya.
"Aku baru saja tiba." Jawab Freya.
"Oh, tumben ada apa?" Tanya Meisya lagi, Freya menarik tangan Meisya ke arah ruang televisi di lantai dua.
"Kak selama ini kamu yang selalu bersama dengan mami, sekarang aku tanya apakah mami pernah memiliki hubungan dengan laki-laki lain?" Tanya Freya, mata Meisya membulat sempurna mendengar perkataan Freya.
"Apa? Gak lah kamu g*la ya." Ucap Meisya.
"Kamu yakin?" Ucap Freya lagi.
"Aku yakin memangnya kenapa?" Tanya Meisya.
"Aku menemukan foto mami di laci meja kerja Darren kak." Ucap Freya, Meisya terkejut begitupun dengan Ellen yang diam-diam mendengarkan percakapan Freya dan Meisya.
"What? Kamu serius?" Ucap Meisya.
"Kak aku gak mungkin bohong, awalnya aku ingin mencari tahu siapa wanita yang menjalin hubungan dengan Darren sebelum dia memutuskan untuk menikah dengan ku. Tapi aku malah menemukan foto mami di sana." Ucap Freya.
"Bagaimana bisa foto mami ada di sana." Ucap Meisya.
__ADS_1
"Jadi Freya berusaha mencari tahu tentang Darren, baguslah itu artinya cepat atau lambat dia akan meninggalkan Darren." Batin Ellen, ia merasa senang karena akhirnya Ellen tak perlu bersusah payah untuk menjauhkan Freya dengan Darren.
"Aku tidak tahu, dan saat aku ingin mencari bukti yang lain Darren malah muncul." Ucap Freya, Meisya menatap wajah Freya yang kebingungan.
"Wahh wahhh, jangan-jangan akan ada drama terbaru yang berjudul suamiku ternyata lelaki simpanan mami ku." Ucap Ellen, membuat Freya dan Meisya menoleh.
"Jaga ucapan kamu ya Ellen." Ucap Meisya.
"Ups, haha ayolah jangan menolak kenyataan Meisya. Pikir saja kenapa Darren begitu ngotot ingin menikahi Freya, bukankah di antara kalian berdua Freya yang paling mirip dengan Meira." Ucap Ellen, Freya yang kesal mengepalkan tangannya dan melangkahkan kakinya mendekati Ellen.
"Jaga perkataan kamu Ellen, jangan pernah mengatai mamiku dia tidak seperti kamu yang mur*han." Ucap Freya.
"Jaga mulut kamu ya Freya, harusnya kamu mikir kenapa Daddy kamu lebih memilih aku ya karena mami kamu yang tidak bisa memanjakan Daddy kamu." Ucap Ellen, Freya yang marah melayangkan tangan nya ke pipi mulus Ellen.
Pla***k...
"Akhhh." Ellen menjerit memegang pipinya.
"Sudah aku katakan jangan berbicara buruk tentang mami ku apa kau t*li?" Ucap Freya.
"Berani ya lo muk*l gue." Teriak Ellen.
"Gue ini istri Daddy lo Freya harusnya lo bisa hormati gue." Ucap Ellen.
"Cih, lo ingat baik-baik ya Ellen gue hanya akan menghormati orang yang pantes untuk gue hormati. Dan yang jelas bukan lo orang nya paham!" Balas Freya lagi.
"Lo_" Kesal Ellen.
"Udahlah gue gak ada waktu untuk meladeni wanita samp*h kaya lo." Ucap Freya, ia pergi begitu saja meninggalkan Meisya dan Ellen.
"Lain kali harus sadar diri lo itu cuma numpang di rumah ini Ellen." Ucap Meisya, dan gadis itu pun kembali ke kamar nya.
"Si*l mereka berdua ini benar-benar keterlaluan awas saja." Kesal Ellen.
...
Malam hari Freya berdiri di balkon kamar nya dan Darren dengan menatap langit yang terlihat cerah malam itu, Freya memejamkan matanya.
__ADS_1
"Mami Freya tahu mami wanita baik dan bermartabat, tolong bantu Freya untuk mencari kebenaran atas semua ini. Bantu Freya agar Freya mengetahui kebenaran kenapa Freya harus bersama dengan lelaki yang tidak Freya kenal sama sekali." Batin nya, ia sudah meyakinkan dirinya untuk mencari tahu semua informasi tentang Darren.
"Freya." Panggil Darren, Freya menoleh menatap lelaki itu.
"Kamu ini bisa tidak jika saya panggil itu menyahut dan menghampiri saya." Ucap Darren kesal.
"Enggak." Balas Freya.
"Kamu ini wanita seperti apa yang tidak ada sopan-sopan nya kepada suami kamu sendiri." Ucap Darren.
"Apakah kamu benar-benar suamiku?" Tanya Freya.
"Kamu pikir?" Ucap Darren.
"Aku pikir kamu bukan suamiku, jika kamu tidak mengatakan nya mungkin aku lupa jika saat ini kau sudah menjadi suamiku." Ucap Freya, Darren mengepalkan tangannya.
"Jaga sikap kamu Freya, kamu sudah lancang masuk kedalam ruang kerja saya dan sekarang kamu bersikap seperti ini kepada saya." Ucap Darren.
"Lalu aku harus apa Darren? Bukankah wajar jika seorang istri masuk kedalam ruang kerja suaminya." Ucap Freya.
"Itu lancang!" Teriak Darren.
"Kalau begitu berhenti menuntut aku untuk menjadi istri yang kau inginkan." Ucap Freya, ia masuk kedalam dan langsung berbaring di tempat tidur nya tanpa mempedulikan tatapan tajam Darren.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy reading π€π jangan lupa like komen dan vote nya πβΊοΈ