Antara Cinta Dan Dendam

Antara Cinta Dan Dendam
Epson 140


__ADS_3

Sepulang dari kantor seperti biasa Kanaya berjalan bersama dengan Laura sahabatnya, beberapa karyawan juga terlihat berjalan keluar kantor untuk pulang ke kediaman nya masing-masing.


"Lo yakin gak mau gue anter pulang?" Tanya Laura.


"Kayaknya gak usah si Ra gue bisa naik taksi," balas Kanaya.


Namun tanpa di duga-duga seseorang berjalan di belakang Kanaya dan menarik tangan gadis itu, beberapa karyawan yang melihat tercengang tak percaya.


"Kamu pulang dengan saya." Tegas Gabriel.


"A-apa?" Pekik Kanaya terkejut.


Melihat keterkejutan Kanaya Gabriel pun menghentikan langkahnya dan beralih menatap Kanaya, ia memicingkan matanya menatap manik mata indah milik sang istri.


"Kenapa, apakah ada yang salah?" Tanya Gabriel enteng, Kanya melirik sekeliling menatap para karyawan yang menatapnya dengan tatapan heran.


"Tu-tuan saya bisa pulang sendiri," balas Kanaya, Gabriel memasukkan tangannya kedalam kantong celana dan itu membuat nya terlihat semakin tampan.


"Tapi saya tidak menerima penolakan Jeselyne Kanaya Di-" ucap Gabriel, iya tahu jika Kanaya akan memotong perkataan nya lagi.


"Baik, baik saya akan pulang bersama dengan anda tuan Gabriel Dirgantara yang terhormat!" Ucap Kanaya penuh dengan penekanan.


Gabriel tersenyum tipis mendengar penuturan Kanaya, sementara itu Karin dan Jesica merasa tidak terima dengan kedekatan Kanaya dan Gabriel, Jesica terlihat mengepalkan tangannya.


"Bagaimana bisa wanita udik itu dekat dengan tuan Gabriel." Kesal Jessica.


"Loh tentu saja bisa Kanaya cantik kan sudah pasti setiap lelaki akan menyukai dirinya." Ucap Laura, membuat Jessica menatap tajam sahabat Kanaya.


"Cih, cantik katamu? Lihat saja bagaimana pakaian yang dia kenakan jauh dari kata menarik." Ucap Jessica dengan pedas.


"CK, ngaca Bu emang ibu sebagus apa dimata tuan Gabriel." Cibir Laura, membuat Jessica menatap nya penuh kebencian.


"Si*l setelah Safira kini ada Kanaya, lihat saja Gabriel sama seperti Safira aku juga tidak akan membiarkan kamu dekat dengan wanita manapun!" Kesal Karin, wanita itu terlihat mengepalkan tangannya.


Dalam perjalanan Kanaya hanya diam menatap jalanan kota lalu menghela nafasnya dan itu tidak lepas dari pantauan Gabriel, lelaki itu tersenyum tipis bahkan sangat tipis. Bagaimana tidak jika saat ini Gabriel merasa senang karena bisa mengendalikan seorang Kanaya, namun ada satu hal yang mengganggu pikiran nya tentang Kanaya yang tidak mau banyak orang tahu tentang pernikahan nya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Gabriel, ia mencoba sedingin mungkin kepada Kanaya.

__ADS_1


"Ada apa dengan anda tuan kenapa anda bersikap seperti itu, bukankah tindakan anda hari ini bisa membuat banyak orang curiga." Ucap Kanaya, masih enggan untuk menatap wajah Gabriel.


"Tidak ada yang salah, kau istriku jadi apa salahnya jika aku ingin menemui istri sendiri." Jawab Gabriel enteng.


"H-hah," ucap Kanaya terkejut.


"Kenapa?" Tanya Gabriel


"Apa anda tadi mengatakan apa?" Tanya Kanaya.


"Kau istriku apa kau tuli," ucap Gabriel dengan kesal.


"Ck, suami istri macam apa yang menjalani rumah tangga seperti ini." Cibir wanita itu, mendengar perkataan Kanaya Gabriel tersenyum smirk dan menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


"Kenapa berhenti?" Tanya Kanaya.


"Kau ingin kita menjalankan hubungan suami istri yang sesungguhnya?" Ucap Gabriel, kini lelaki itu duduk menyamping menatap Kanaya.


"Maksudnya," lirih Kanaya.


"Ap-apa," lirih Kanaya merasa bingung.


"Kita akan memulainya nanti malam, tenang saja kau akan mendapatkan kepuasan dan bayaran besar atas ini." Ucap Gabriel.


Kanaya terlihat mematung menelan saliva nya dengan sulit, ia mencoba untuk mencerna setiap perkataan yang diucapkan oleh Gabriel.


Dan dengan refleks Kanaya menyilangkan tangannya di dada, Gabriel menahan tawa melihat kelakuan Kanaya yang menurut nya sangat lucu.


"Tidak bisa dibiarkan ini aku harus melakukan sesuatu untuk menghindari Gabriel, gila aja kalau nanti malam bener kejadian sementara dia masih suka deket-deket sama cewek lain rugi sendiri lah saya mas." Batin Kanaya.


Sesampainya di rumah Kanaya langsung keluar dari mobil dan berlari masuk kedalam rumah, Adisty yang melihat itu merasa terkejut dengan kelakuan kakak iparnya.


"Kak Naya kenapa?" Tanya Adisty.


"Aku sedang menghindar dari mata bahaya," jawabnya membuat Adisty terdiam.


"Mara bahaya?" Beo Adisty.

__ADS_1


Tak lama kemudian Adisty melihat Gabriel memasuki rumah dengan wajah santainya, ia pun mengernyit lalu kembali menatap Kanaya yang sudah menghilang.


"Apakah marabahaya yang dimaksud kak Naya itu kak Gabriel." Gumam nya lagi.


"Kamu kenapa?" Tanya Gabriel menatap bingung Adisty.


"Kakak apain kak Naya sampai dia lari terbirit-birit kayak gitu." Ucap Adisty, bukannya menjawab Gabriel malah mengedipkan sebelah matanya.


"Rahasia," balas Gabriel pergi meninggalkan Adisty.


"Lah, ini orang-orang kenapa si aneh-aneh amat." Ujarnya bingung, ia malah semakin terlihat seperti orang bodoh.


Di kediaman Alex terlihat Alice dan Ellen sedang duduk bersantai di gazebo belakang rumah, Alice menatap Ellen yang tumben sekali berada di rumah.


"Mami tumben gak pergi arisan atau berkumpul dengan pasukan sosialita mami." Ucap Alice, Ellen mencebikan bibirnya mendengar perkataan sang putri.


"Mami tuh salah mulu dimata ya lice, mami keluar kamu ngomel katanya mami gak sayang kamu sama Daddy cuma bisa ngabisin duit Daddy kamu doang. Sekarang mami dirumah juga kamu protes, sebenarnya mau kamu itu apa si Alicia Gustove?" Ucap Ellen, Alice tertawa kecil mendengar keluhan sang mami.


"Haha, gak gitu mi lagian tumben aja seharian ini mami dirumah." Ucap Alice.


"Kamu juga tumben seharian ini dirumah, biasanya kamu kulineran sama Adisty untuk membuat konten." Ucap Ellen.


"CK, istirahat bentar lah mi yakali nyari duit gitu banget gak ada liburnya." Ucap Alice, Ellen tersenyum manis kepada Alice.


Ellen bersyukur Alice tumbuh menjadi wanita baik dan tidak keras kepala seperti dirinya dan Alex, Ellen dan Alex bahkan sempat berpikir sikap baik Alice mirip dengan mendiang Meira mami dari Freya dan Meisya.


"Bagaimana Cindy apakah dia masih menjadi provokator untuk Gabriel?" Tanya Ellen kepada Alice.


"Sepertinya iya, kehadiran Kanaya justru membuat Cindy semakin gentar mendekati Gabriel agar dia kembali bertemu dengan Fira." Ucap Alice tampak tak menyukai keponakan nya itu.


"Entah menurun dari siapa sikap egois Cindy, mami rasa ada sesuatu yang dia sembunyikan." Ucap Ellen.


"Cindy itu dekat dengan saudara Safira mam, tentu dia akan melakukan apapun untuk Safira agar dia bisa menjalin hubungan baik dengan saudara Safira." Ucap Alice, Ellen diam ia menatap Alice yang memainkan ponselnya.


"Kamu tidak memberi tahu Gabriel?" Tanya Ellen lagi.


"Gabriel tahu hal itu mam, mungkin Gabriel juga bingung apa yang harus dia lakukan sementara kita semua tahu bagaimana sikap Cindy." Ucap Alice, Ellen mengangguk menanggapi perkataan putrinya.

__ADS_1


__ADS_2